Home / Opini / Islam, Demokrasi, dan Jalan Tengah

Islam, Demokrasi, dan Jalan Tengah

peran-NU
Sejumlah peran NU untuk bangsa – Dok: Kompas

Satu Islam – Islam berkembang pesat di Indonesia karena pengaruh para ulama sufi yang tidak memiliki kepentingan duniawi seperti politik, kekuasaan, dan kedudukan. Kehadiran kaum sufi yang menyebarkan Islam secara damai ini menjadi cikal bakal lahirnya ummatan washatan sebagai kelompok mayoritas Islam di Indonesia.

Dalam pemikiran Islam kontemporer, konsep ummatan washatan sering disejajarkan atau diidentikkan dengan Islam washatiyyah, atau Islam yang berada di tengah, tidak berada dalam kutub ekstrem dalam pemahaman dan pengamalannya.

Aktualisasi ummatan washatan yang sudah dimulai sejak penyebaran Islam di Indonesia pada akhir abad ke-12 ini menemukan aspek pentingnya, antara lain, dalam bentuk negara Indonesia yang diproklamasikan 17 Agustus 1945. Para pendiri bangsa yang berasal dari kalangan nasionalis dan Islam bersepakat menjadikan Indonesia bukan negara sekuler, sekaligus juga bukan negara agama.

Di tingkat hidup kemasyarakatan, ummatan washatan terwujud dalam berbagai organisasi massa (ormas) Islam, yang umumnya berdiri sejak sebelum kemerdekaan RI, misalnya Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah. Ormas ini mengambil jalan tengah, bukan hanya dalam pemahaman dan praksis keagamaannya, melainkan juga dalam sikap sosial, budaya, dan politik.

Pilar

Kehadiran ormas seperti NU makin berperan penting dalam kehidupan bangsa Indonesia karena ormas itu tak hanya bergerak di bidang dakwah atau pendidikan pesantren, tetapi juga menjadi bagian dari gerakan masyarakat sipil.

Sebagai bagian dari gerakan masyarakat sipil, dalam kehidupan sehari-hari, ormas-ormas itu berperan penting sebagai jembatan mediasi antara negara dan rakyat. Ormas tersebut juga berperan penting dalam menjaga kohesi sosial, terutama saat terjadi kekacauan politik. Sejumlah penelitian menunjukkan, pemikiran-pemikiran yang disebarluaskan oleh ormas-ormas tersebut mampu mencegah umat mengalami disorientasi dan bertindak anarkistis.

Ormas ini juga berperan dalam memberikan kepemimpinan alternatif saat terjadi kekacauan politik. Hal ini, misalnya, terlihat dalam kemunculan Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sebagai Presiden RI pada tahun 1999. Saat itu, tak ada yang berani melawan Gus Dur ketika dia, misalnya, memerintahkan militer kembali ke barak. Ini karena di belakang Gus Dur ada puluhan juta nahdliyin.

Fenomena ini tak terjadi di negara lain seperti Mesir. Tiadanya kekuatan penengah atau penyeimbang membuat konflik rawan muncul di negara itu. Di Mesir memang ada gerakan masyarakat sipil, tetapi dalam bentuk asosiasi profesional seperti asosiasi guru dan dokter yang tak terlibat dalam urusan sosial politik. Mereka hanya tertarik kepada masalah seperti kenaikan upah.

Hal yang lebih istimewa, ormas seperti NU dan Muhammadiyah memiliki komitmen yang penuh kepada Pancasila, Negara Kesatuan Republik Indonesia, Bhinneka Tunggal Ika, dan UUD 1945. Rais Aam Syuriah PBNU tahun 1984-1991 (alm) KH Achmad Shiddiq bahkan pernah menyatakan, Pancasila merupakan bentuk final perjuangan Islam di Indonesia.

Penguatan

Sejarah menunjukkan, Islam di Indonesia juga berperan aktif dalam penegakan demokrasi. Suksesnya penyelenggaraan Pemilu 1999, 2004, 2009, dan 2014 menjadi bukti kompatibilitas Islam dan demokrasi. Hal ini karena kaum Muslim menjadi partisipan aktif dalam proses politik demokrasi tersebut.

Pelaksanaan demokrasi di Indonesia tak bermusuhan dengan agama karena sila pertama Pancasila adalah Ketuhanan Yang Maha Esa. Namun, pada saat yang sama, Indonesia bukan negara agama.

Kondisi ini membuat Vali Nasr, Guru Besar Program Pasca Sarjana Perguruan Tinggi Angkatan Laut Amerika, menuturkan, Islam RI menjadi model yang sangat baik untuk melihat hubungan Islam dan demokrasi. Tantangan umat Islam Indonesia saat ini adalah memberikan kontribusi kepada penguatan demokrasi secara global.

Di tengah menjawab tantangan tersebut, saat ini, memang ada sekelompok orang yang mencoba menularkan paham radikal atau ekstrem di Indonesia, yang berbeda dengan wajah Islam di Indonesia saat ini yang dikenal damai, toleran, dan moderat.

Ada keyakinan bahwa Indonesia bukan tanah subur bagi radikalisme. Hal ini disebabkan mayoritas masyarakat Indonesia menyukai Islam yang “berbunga-bunga”. Ini terlihat dari kebiasaan masyarakat yang kerap menggelar syukuran dengan mengundang kerabat dan warga sekitar untuk berdoa dan makan bersama untuk acara-acara seperti sunatan anak, perkawinan, kelulusan sekolah anak, serta berdoa saat peringatan kematian anggota keluarga.

Meski demikian, kewaspadaan tetap diperlukan. Penguatan wajah Islam Indonesia perlu terus dilakukan. Kehadiran dan peran serta ormas seperti NU tetap dinanti dan dibutuhkan. (NWO)

* Artikel ini terbit di harian Kompas edisi 16 Juni 2015 dengan judul “Islam, Demokrasi, dan Jalan Tengah”.

About Abu Nisrina

Check Also

Paskah

Oleh: Achmad Rizky Edward Siahaan Satu Islam – Paskah atau pesah adalah hari yang mulia …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *