Home / Opini / Islam dan Kepentingan Politik di Indonesia

Islam dan Kepentingan Politik di Indonesia

Pemilihan Presiden 2014 telah melibatkan penggunaan menonjol dari simbol-simbol budaya dan ritual Islam. ( Dok : shutterstock.com)
Pemilihan Presiden 2014 telah melibatkan penggunaan menonjol dari simbol-simbol budaya dan ritual Islam. ( Dok : shutterstock.com)

Oleh :Pipip Ahmad Rifa’i Hasan*

Mencalonkan diri sebagai presiden di Indonesia tampaknya juga harus perlu menunjukkan komitmen seseorang terhadap Islam.

Pemilihan Presiden tahun 2014 ini menampilkan penggunaan menonjol dari simbol-simbol budaya dan ritual Islam. Kedua calon, Joko Widodo dan Prabowo Subianto memamerkan hubungan mereka dengan Islam dengan cara menampilkan kesalehan mereka ke depan publik.

Keduanya juga mencari dukungan dari partai-partai politik Islam, pemimpin agama, pesantren dan organisasi massa untuk meningkatkan elektabilitas mereka.

Widodo, yang lebih populer disebut Jokowi, terbang ke Mekah tiga hari sebelum pemilihan presiden dalam rangka menunaikan ibadah umroh, membantah semua tuduhan yang dialamatkan kepadanya lewat kampanye hitam bahwa ia diam-diam seorang Kristen keturunan Cina.

Mengapa Islam memainkan peran besar dalam pemilu ini? Apakah ini selalu terjadi di negara dengan mayoritas penduduk Muslim di dunia?

WARISAN ORDE BARU

Sebenarnya, pada tahun 1950, Indonesia memiliki lanskap ideologis yang lebih beragam dibandingkan saat ini. Saat pemilihan umum 1955, banyak partai politik berbasis Islam secara bebas menggunakan Islam sebagai landasan ideologis mereka dan berjuang untuk menjadikan Islam sebagai ideologi negara.

Pada saat yang sama, hal itu adalah sesuatu yang biasa bagi Partai Komunis Indonesia dan partai-partai sekuler lainnya untuk menentang partai-partai Islam.

Munculnya Suharto di ujung penghapusan Partai Komunis Indonesia (PKI) pada tahun 1965 mengubah lanskap ideologis. Rezim Orde Baru Soeharto (1966-1998) juga mengawasi dengan ketat politik islam.

Dia menggabungkan semua partai Islam menjadi satu Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan memaksa mereka meninggalkan bentuk idealnya untuk meresmikan dan melegalisasi Islam sebagai ideologi negara. PPP harus menerima Pancasila sebagai ideologi partainya.

Sementara Islam sebagai ideologi politik mengalami kemunduran, hanya berkembang sebagai budaya. Generasi muda Indonesia dari umat Islam di akhir 1960-an dan awal 1970-an memainkan peran besar dalam menciptakan kekuatan spiritual, budaya dan intelektual Islam di negara ini.

Hal ini dapat dilihat dalam tagline yang dipopulerkan oleh almarhum Cendekiawan Muslim, Nurcholish Madjid: “Islam Yes, Partai Islam No” (“Islam Yes, Partai Islam No”).

Sejak saat itu sampai jatuhnya Suharto, Islam Indonesia tidak lagi mempromosikan aspirasi formal dan legal. Ini bukan menekankan pada prinsip-prinsip moral dan etika, seperti keadilan, kesetaraan, kebebasan dan kebaikan bersama. Ini adalah prinsip-prinsip universal yang hadir baik dalam Islam maupun dalam konstitusi Indonesi

ISLAM ADALAH KITA

Pelarangan paham komunisme memainkan peran dalam meningkatkan sentimen Islam dalam politik Indonesia. Kecemasan masyarakat tentang kesenjangan sosial tidak bisa lagi disalurkan melalui bahasa peperangan antar kelas, seperti saat golongan kiri di Indonesia tersingkir dalam peristiwa pembantaian G30S PKI tahun 1965. Orang-orang dijauhkan dari ideologi kiri karena stigma yang diciptakan oleh propaganda pemerintah.

Akibatnya, di bawah Orde Baru, rakyat Indonesia yang berpendidikan hanya bisa menggunakan Islam sebagai bahasa ideologis yang kuat untuk memprotes ketimpangan sosial dan ekonomi.

Orang-orang di pedesaan Jawa, yang pernah menjadi basis Partai Komunis, terus menjadi Islam “abangan”, versi yang lebih sinkretis dari Islam di Indonesia. Dengan dilarangnya PKI, Islam menjadi satu-satunya perlindungan dari masalah sosial, ekonomi, politik, dan moral mereka. Islam menjelma menjadi milik semua orang; dikotomi antara “santri” (Muslim ortodoks) dan abangan tampak kehilangan relevansinya.

SEBUAH PENCARIAN MAKNA

Secara umum, kekuatan Islam dalam politik dapat dijelaskan melalui peran agama dalam kehidupan manusia. Agama erat terhubung ke psikologi dan budaya manusia.

Agama melibatkan nilai-nilai, aspirasi, visi hidup, pencarian makna dalam kehidupan seseorang, ketakutan akan kematian, kekhawatiran tentang benar dan salah, pemenuhan spiritual, persahabatan dan pertanyaan mengenai hakikat kehidupan.

Indonesia saat ini tampak lebih terbuka dalam mengekspresikan religiusitas Islam mereka dibandingkan dengan tahun 1950-an yang mengikuti aturan kolonial Belanda.

Tetapi pertanyaan yang penting adalah: apa kontribusi Islam kepada negara? Seberapa jauh Islam berkorelasi dengan atau terwujud dalam sikap dan perilaku anggota masyarakat dalam menegakkan etika sosial dan politik? Apakah akan menerjemahkan ke aturan hukum, tata pemerintahan yang baik dan keadilan sosial, termasuk keadilan ekonomi? Kami masih menunggu jawaban.

 

)*Dosen Falsafah dan Agama Universitas Paramadina

Sumber : The Conversation

About Sarah

Lifetime learner, wanderlust, lover

Check Also

Jalan Cinta Para Sufi

Oleh: Syamsul Arif Galib Satu Islam – Ketika bangsa Viking menginjakkan kakinya di Northumbia Inggris, …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *