Home / Opini / Indonesia

Indonesia

Oleh: Achmad Rizky Edward Siahaan

Satu Islam – Sebuah negara di timur jauh yang memiliki ratusan budaya dan ratusan sejarah peradaban.Negara kita ini baru berdiri secara sah tahun 1945, dengan segala bentuk perjuangan dari berbagai kalangan yang beragam.

Belakangan karena keadaan bangsa ini yang mulai dipecah dengan isu tidak senonoh, banyak kalangan yang selama ini diam dan nyaman akhirnya bangkit mempropagandakan kembali NKRI dan pancasila, sebagai respon atas apa yang terjadi di negara ini. Dari kejadian pilkada saja polar patern masyarakat sudah bisa terbentuk secara otomatis, dimana negara dan agama dibenturkan, suku dan agama dipisahkan, bahkan keadilan dan agama coba dipisahkan juga.

Sedangkan dikubu sebagian kelompok intoleran yang kita pandang sebagai agamis serta islamis menganggap bahwa teriakan-teriakan itu adalah bentuk ideologi anti agama, sekuler dan liberal,saat kita berusaha cinta negara dan mengangkat isu toleransi otomatis dianggap musuh dan malah dianggap penghinaan terhadap ulama. Karna selama ini ulama kubu ini selalu meneriakan sebaliknya.

Begitu juga saat ada kejadian persekusi terhadap orang-orang yang berusaha mengkritik ulama mereka, padahal bukan nya kelompok yang pro NKRI ini anti agama, sewaktu ulama pro toleransi dihina dan di cacimaki seperti Gus Muhsin Labib, Kiyai Denny Siregar,ustad Ustad Abu Janda al-Boliwudi ,Habib Acin Muhdor dll mereka diam demi menjaga toleransi dan keadaan yang tetap damai.

Sedangkan dikubu mantan sekularis yang menganggap kelompok ini sebagai pancasialis dan indonesianisme. Kata berakhiran -is atau isme biasanya memang menunjukan tendensi negative, seperti sebuah paham atau ideilogi yang diluar batas norma yang patut, padahal tidak selalu ideologi itu buruk. Ideologi lahir dari harapan manusia yang mencita-citakan kesempurnaan pada sebuah tatanan sosial umat manusia.

Tidak dipungkiri juga bahwa memang fanatisme nasionalis mempunyai dampak ultranasioalis yang bisa mempunyai efek buruk seperti nazizsme dan fasisme. Kita mungkin punya alibi bahwa keduanya hadir sebagai akibat dari keadaan yang tidak baik sebelumnya, seperti di indonesia sekarang ini, setiap ideologi yang di instal program kehendak dominasi untuk berkuasa memang akan melahirkan kerusakan dan kehancuran. Sama juga saat agama kita lihat sebagai ideologi dan ditafsirkan menurut ego juga akan sampai pada tujuan dominasi untuk berkuasa.

Pemerintah yang identik dengan rezim dianggap telah semena-mena terhadap kelompok agamis,menggunakan setiap instrumentnya demi membungkam ulama-ulama mereka.Kalau memang pemerintah adalah rezim, tentu pemerintahan yang sebelumnya juga rezim. Barisan mantan rezim ini lah yang punya program untuk membangun citra buruk terhadap rezim saat ini, dulunya diposisi yang bersebrangan inilah kita pernah bersatu menggulingkannya. Sekarang terpecah karna sebagian rindu akan rezim sang mantan.

Sebuah hal yang mustahil membentuk karakter bangsa yang total bernegara dengan menghilangkan agama. Pilihan setiap orang memprioritaskan agama atau negara menjadi yang utama. Setiap individu secara transenden akan menganggap agama dan ketuhanan sebagai sesuastu yang ideal, maka harusnya sebagai konsekuensi imanen dimana kita hidup dan beramal adalah menerima segala perbedaan demi tercapainya kerukunan dan kedamaian, sebagai tajali cinta Tuhan di bumi indonesia kita.

_salam Toleransi_

About Abu Nisrina

Check Also

Belajar dari Cara Singapura Memperlakukan Agama

Satu Islam – Sekitar 22 tahun silam Singapura melarang pengajaran agama di sekolah-sekolah. Hasilnya, penduduk …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *