Home / Opini / BADAI GURUN DI WASHINGTON Guncangan Hubungan Bilateral Amerika Serikat dan Saudi Arabia (Bagian 2)

BADAI GURUN DI WASHINGTON Guncangan Hubungan Bilateral Amerika Serikat dan Saudi Arabia (Bagian 2)

Diterbitkan atas izin dari penulis artikel dengan Judul asli:
Al Allaqaat As saudiyah-Al Amrikiyyah: Awashif as-shahra’
(The Saudi American relations: Storms of the Desert) dan telah diterbitkan oleh harian Libanon ‘Al-Safir’.

Ditulis oleh DR.Ahmad Malli *)
Penerjemah: Mochammad Baagil, Maret – 2014
embaagil@hotmail.com

badai gurun-4II Mengapa Saudi Arabia marah terhadap Washington?

Sebuah dokumen yang dibocorkan oleh “Wikilieaks” mengutip ucapan Hillary Clinton yang mengatakan bahwa “kerajaan Saudi tetap sebagai pendukung finansial utama bagi kelompok teroris”, dan bahwa para pejabat Amerika tidak suka dengan “Model Islam” Saudi saat ini yang coba disebarkan, dan dianggap sebagai negara yang paling bertanggungjawab atas tumbuhnya radikalisme Islam, serta menggunakan kekayaan minyaknya untuk mengekspor Islam garis kerasnya melalui ulama-ulama Wahhabi”.

Selama tiga bulan belakangan ini, para pemimpin Saudi nampaknya mulai mengabaikan metode kebijakan luar negeri “ketenangan yang berhati-hati” mereka, dan saat ini memutuskan untuk secara terbuka mengungkapkan kemarahan mereka kepada pendekatan yang dilakukan pemerintahan Obama melalui pernyataan-pernyataan yang dikeluarkan oleh pihak Kerajaan dan kejutan pergeseran kebijakan sebagai satu-satunya cara untuk menyakinkan Washington agar mengubah apa yang pihak Kerajaan Saudi melihatnya sebagai petualangan, menurut Simon Henderson, penulis buku “Setelah Raja Abdullah: Suksesi di Saudi Arabia”.

Indikasi pertama dari pendekatan baru yang dilakukan Saudi terlihat pada menteri luar negeri Saudi, penolakan Saud Al Faysal untuk memberikan pidatonya dihadapan Majelis Umum PBB pada bulan Oktober 2013. Dua minggu kemudian, Riyadh melalukan langkah dramatis dan tak terduga dalam sejarah mereka di PBB ketika mereka melepaskan kursi bergilir untuk jabatan Dewan Keamanan (18 Oktober 2013). Sikap ini mengejutkan lingkaran diplomat di New York, khususnya karena Saudi selama tiga tahun belakangan ini berkampanye secara intensif, berjuang untuk mendapatkan kursi Dewan Keamanan, setelah mengirimkan 12 diplomat selama satu tahun dalam rangka kursus di Columbia University sebagai persiapan panjang untuk menjalankan tugas mereka.

Tiga hari setelah pihak kerajaan mengumumkan meninggalkan posisi bergilir di Dewan Keamanan, “Wall Street Journal” dan “Reuters” mengutip para diplomat Eropa yang mengatakan bahwa Kepala Intellejen Saudi, Pangeran Bandar Bin Sultan memperingatkan akan adanya “perubahan besar” dalam hubungan Riyadh dengan Washington sebagai protes atas tidak adanya tindakan Amerika untuk Suriah.

Menurut “Wall street Journal”, dikutip juga bahwa Pangeran Bandar Bin Sultan mengatakan bahwa ia akan menimbang kembali kerjasama dengan CIA dalam melatih para pemberontak Suriah dan akan berkerja dengan aliansi yang lain termasuk Perancis dan Jordania. Pangeran Bandar menambahkan bahwa pihak Kerajaan meninggalkan kursi bergilir di Dewan Keamanan merupakan sebuah pesan kepada Amerika Serikat dan bukan kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa (to the United States and not to the United Nations).Waktu dan cara Pangeran Bandar bin Sultan mengirimkan pesannya kepada Amerika memiliki beberapa indikasi. Berdasarkan waktunya, keberatan Saudi untuk datang menjelang pertemuan yang diharapkan di Paris antara Sekertaris Negara John Kerry dan rekannya dari Saudi, Pangeran Saud Al Faysal (21 Oktober 2013). Berdasarkan caranya, hal ini mencerminkan pertumbuhan yang kuat dalam hubungan antara Saudi-Perancis, sebagaimana Pangeran Bandar bin Sultan memilih duta besar Perancis untuk Saudi Arabia (Bertrand Besancenot) untuk menyampaikan pesannya. Ia mengundangnya pada akhir pekan (19-20 Oktober 2013) di Jeddah, dan kemudian kembali ke Riyadh, menginformasikan sejawat Eropanya mengenai isi dari pertemuan dan komentarnya kemudian dibocorkan ke “Reuters” dan “Wall Street Journal” setelahnya.

Dalam hal ini, Pangeran Turki Al Faisal juga berpartisipasi dalam kampanye Saudi melawan pemerintahan Obama, dimana ia diketahui sebagai duta besar negaranya untuk Washington dan sebagai kepala intelejen Saudi Arabia untuk jangka waktu yang sangat lama (1979 – 2001). Al Faisal memilih untuk menyampaikan pesan langsungnya dari wilayah Amerika, apakah dengan membuat pidato sebelum konferensi tahunan pembuatan kebijakan Arab-AS (22 Oktober 2013) atau dengan menampakkan diri dihadapan media-media Amerika, khususnya pada interview panjangnya di “Washington Post” (4 November 2013), dimana ia menilai bahwa kebijakan Obama atas Suriah dan Iran adalah salah dan mengecewakan, dan satu-satunya jalan untuk memperbaiki hal itu adalah dengan cara mencari solusi pada masalah Palestina dan menekan Iran yang menghadirkan dirinya sebagai pembebas orang-orang Palestina dan Suriah.

Pernyataan-pernyataan ini mencerminkan gap yang lebar antara pejabat Saudi dan pemerintah Obama. Hal ini bukan hanya pertidaksetujuan terbatas atas berbagai detail pada kebijakan Amerika Serikat di kawasan. Bagi Saudi, ini lebih dari benar-benar sebuah tindakan oposisi atas seluruh kebijakannya, sebagaimana menteri luar negeri Saudi, Saud Al Faysal, komplain pada waktu lalu mengenai pemerintahan George W.Bush, yang mengatakan pada tahun 2001 bahwa “berhubungan dengan Amerika Serikat membuat orang waras menjadi gila”. Lalu apa yang akan ia katakan hari ini mengenai krisis yang terjadi antara Riyadh dan Washington dibawah pemerintahan Obama, dan telah melampaui oposisi yang terjadi pada masa pemerintahan Bush.

Semua indikasi yang ada menunjukkan bahwa dasar hubungan antara Washington dan Riyadh sudah tidak lagi sama, dimana ada sebuah perubahan drama yang berdampak kepada mereka. Drama setelah perang dingin yang telah membedakan dari saat itu. Lebih dari itu, AS menujukkan dirinya sebagai pencipta penguasa internasional, yang meminimalisir ketergantungannya pada minyak Saudi. Oleh karena itu, Amerika Serikat tidak memaksakan untuk tetap menjaga hubungan ini yang bertahan selama beberapa dekade dengan Kerajaan Saudi, menurut Christopher Davidson, penulis buku “After the Sheikhs: The coming collapse of the Gulf Monarchy” (Setelah para Syeikh: Datangnya Keruntuhan Monarki Teluk).

Diantara indikator-indikator yang menarik perhatian Saudi dan membuat geram mereka adalah apa yang terjadi selama tim reformasi untuk keamanan nasional pada masa periode kedua pemerintahan Obama, dimana tidak ada tokoh papan atas yang ditunjuk untuk berhubungan dengan Saudi. Ini sendiri sudah membuktikan mundurnya Kerajaan dari daftar kepentingan kementrian luar negeri Amerika dan para perencana keamanan nasional Amerika dalam periode Obama ini.

Ada peningkatan pendirian diantara para penentu keputusan di Amerika Serikat bahwa prioritas utama mereka berbeda dengan prioritas Saudi, dan kepentingan dari kedua negara sudah tidak lagi harmonis. Sebagai contohnya, jika washington harus memilih antara bekerja untuk menghalangi Iran untuk mendapatkan senjata Nuklir atau kekuasaan Saudi, maka prioritas mereka tidak diragukan lagi adalah menghalangi Iran untuk mendapatkan senjata nuklir.

Walaupun dengan kritik-kritik keras dari Saudi tersebut, pemerintah Obama belum mengeluarkan sikap yang keras dan bahkan lebih cenderung memilih “diplomasi pasif” dan menahan kemarahan Saudi dengan membuat mereka mengerti bahwa gap yang ada tidak melebar, dan mengirimkan pesan kepada mereka bahwa kepentingan-kepentingan Amerika Serikat di kawasan berada pada posisi pertama.

Meski sikap resmi Amerika terhadap kerajaan tenang, beberapa sikap keras non resmi nampak terhadap Saudi (Jurnalis, akademisi, para ahli dalam pusat penelitian, mantan karyawan di pemerintah Amerika). Tidak dapat dikesampingkan bahwa departemen-departemen resmi Amerika Serikat berada dibelakang pesan-pesan tidak langsung yang dikirimkan ke Riyadh. Dalam hal ini, orang dapat merujuk pada editorial keras oleh Fareed Zakaria di majalah “Time” (11 November 2013) dibawah headline: “Orang Saudi adalah orang gila: penjahat!”, dan Zakaria dikenal dengan hubungan kuatnya dengan departemen Amerika dan ia juga sebagai presenter di program mingguan CNN yang sering menayangkan masalah-masalah luar negeri. Editorial itu memulai dengan sub judul “Mengapa kita tidak perlu peduli bahwa negara paling tidak bertanggung jawab di dunia tidak disenangi di Amerika Serikat”. Ia menambahkan: “Jika ada penghargaan untuk kebijakan luar negeri yang paling tidak bertanggung jawab maka pasti akan dianugerahkan kepada Saudi Arabia.. Namun apapun yang orang pikirkan mengenai pemerintahan Obama dalam menangani kawasan, pastinya ukuran terakhir dari kebijakan luar negeri Amerika harus bagaimana dapat diterima oleh Kediaman Saud!”

Zakaria menyatakan bahwa mantan Sekertaris Negara Hillary Clinton dikutip dari sebuah bocoran dokumen oleh “Wikileaks” pada bulan Desember 2009 yang mengatakan bahwa Saudi Arabia tetap sebagai “basis finansial” untuk terorisme, dan Riyadh hanya mengambil “aksi terbatas” untuk menghentikan aliran dana kepada Taliban dan group seperti itu”. Zakaria juga mengutip ucapan Stuart Levey, bendahara resmi tertinggi di tahun 2007, sebagaimana disampaikan kantor berita ABC bahwa: “Jika saya dapat menjentikkan jari dan memutuskan dana dari suatu negara, maka itu adalah Saudi Arabia.. Bangsa yang paling bertanggung jawab atas bangkitnya radikalisme Islam dan militanisme diseluruh dunia. Selama empat dekade belakangan, kekayaan minyak yang melimpah milik Kerajaan telah digunakan untuk menanggung ekspor ekstrimisme, intoleransi dan kejahatan atas nama Islam yang diajarkan oleh para ulama Wahhabi”.

Lebih dari itu, Zakaria mengutip mantan menteri hukum Pakistan, Iqbal Haidar, yang mengatakan pada tahun 2012 bahwa: “Apakah mereka Taliban atau Lashkar-e Taliba, ideologi mereka Wahhabi Saudi tanpa ada keraguan sekecil apapun”. Ia menambahkan: “Tidak ada keraguan bahwa Saudi Arabia mendukung kelompok Wahhabi melalui Pakistan”. Fareed Zakaria menyimpulkan dengan mengatakan: “Apapun alasannya, kita harus akui bahwa, Ya , Saudi Arabia sedang marah dengan Amerika Serikat. Tetapi apakah kita yakin bahwa itu adalah tanda bahwa Washington sedang melakukan sesuatu kesalahan?”.

Terlepas dari Fareed Zakaria menyerang Saudi Arabia dengan sangat pedas, banyak komentator dan kolomnis berpengaruh di beberapa harian Amerika Serikat mengkritik kebijakan luar negeri Saudi dengan sangat keras. Sebagai contohnya, Fred Kaplan menulis sebuah artikel pada sebuah headline: “A Royal Pain” (Sakitnya Kerajaan). Pada pendahuluannya, Kaplan merujuk pada perbedaan-perbedaan antara Saudi Arabia dan pemerintahan Obama dengan perlemahan posisi kerajaan di dunia, dan menyimpulkan bahwa: “Obama harus membuat jelas bahwa kepentingan kita di Timur Tengah tidak seperti dibungkus dengan keinginan-keinginan atau nasib keluarga kerajaan seperti pada waktu lalu”.

Untuk bagian itu, Doug Bandow menerbitkan di Huffington Post website sebuah artikel dimana ia secara keras mengkritik keluarga kerajaan Saudi. Bandow, seorang peneliti di CATO Institute, yang bekerja sebagai asisten khusus untuk presiden pada masa pemerintah Ronald Reagan, menilai bahwa: “Saudi Arabia marah dengan Washington. Dalam pandangan Riyadh, pemerintah Amerika tidak cukup melakukan dukungan terhadap tirani dan perang di Timur Tengah”. Penulis menyangkal seruan Saudi untuk memberikan perhatian kepada rakyat Suriah yang sedang dijagal dengan senjata kimia ditangan Assad (menurut Turki Al Faisal) yang tidak dapat melakukan itu semua jika ketika itu bukan untuk terhindarnya Presiden Amerika Serikat dari hukuman atasnya setelah melewati garis merah yang ditentukan oleh Obama sendiri. Doug Bandow lebih jauh mengingatkan keluarga kerajaan Saudi bahwa mereka dulu mendukung mantan Presiden Irak Saddam Hussein dalam pelanggarannya atas Iran, dimana ia menggunakan senjata kimia dan membunuh hingga satu juta orang, dan menyimpulkan bahwa: “Tetapi penjagalan massal oleh aliansi de facto Riyadh (pada masa perang Irak-Iran – pentj) kurang penting bagi keluarga Saudi ketimbang mengalahkan rezim Islam Syi’ah (Iran).

Pada kampanye yang nampak gagal dimana Saudi memimpin dalam mempengaruhi keputusan koridor di Washington dan meminta mereka untuk bekerja bersama dengan mereka, Bandow mengatakan bahwa: “Tetapi orang Amerika tidak seharusnya fokus pada elit penguasa Saudi, yang membeli apa yang mereka mau, yang frustasi bahwa mereka tidak lagi secara mudah membeli pelayanan Washington.. Bahkan, pemerintah Obama seharusnya mengatakan kepada teman-teman luar negeri Amerika bahwa tindakan-tindakan Washington untuk kepentingan rakyat Amerika, dan bukan untuk diktator yang korup”.

Doug Bandow menyimpulkan artikelnya dengan mengatakan: “Presiden Obama layak mendapat pujian atas penolakannya untuk membelokkan kebijakan Amerika untuk disesuaikan dengan tingkah laku kerajaan di Riyadh. Washington mungkin tidak akan mampu menghentikan Saudi dalam menyebarluaskan tirani dan perang. Tetapi Amerika tentu tidak seharusnya membantu mereka dalam apa yang mereka cari”. (Bersambung)

 

*) DR.Ahmad Malli adalah seorang Professor dibidang Politik Internasional pada Fakultas Hukum dan Ilmu Politik Universitas Libanon, sekaligus pengamat politik Libanon yang memperoleh gelar doktornya dibidang politik dari Sorbonne University, Perancis.

About Abu Nisrina

Check Also

ISIS Jatuh, Ideologinya Berjaya

Oleh: Smith Alhadar Satu Islam – Kendati Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) masih bercokol …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *