Home / Opini / Argumen Qur’ani dalam Membangun Toleransi Beragama

Argumen Qur’ani dalam Membangun Toleransi Beragama

Oleh: Hariyanto*

alquran-dan-injil-ilustrasi-_120113172610-240_thumb_634_350
ilustrasi

Satu Islam – Sejak era reformasi bergulir, isu mengenai Hak Asasi Manusia (HAM) yang menjadikan toleransi sebagai salah satu pilarnya menjadi hal yang sering diperbincangkan. Di negara yang majemuk ini sudah barang tentu sangat wajar jika isu jenis ini laku keras. Dengan beragamnya suku, bangsa, dan agama pasti membawa pola pikir serta watak yang juga sangat berbeda-beda. Gesekan-gesekan tak bisa dielakkan. Ada suku yang umumnya keras gaya bicaranya, ada pula bangsa yang sangat lembut tingkah lakunya. Ketika keduanya bertemu tentu harus ada penyesuaian di dalamnya. Terlebih lagi jika yang beragam itu adalah agama. Seorang tokoh sejarah dunia mengatakan bahwa sampai kapanpun, agama menjadi salah satu sumber pertikaian umat manusia. Namun agama juga menjadi sumber pemberi kedamaian di dunia ini. Artinya manusia sangat mudah berselisih paham karena agama yang berbeda. Jangankan antar agama yang berbeda, di antara sesama pemeluk agama yang senama-pun kadang kala berselisih karena pemahaman yang berbeda dalam menjalankan tata ibadah.

Sering kita dengar bahkan menyaksikan adanya pembakaran rumah ibadah, penyerbuan kampung yang dihuni oleh komunitas penganut aliran agama tertentu bahan pelarangan pendirian rumah ibadah yang semuanya di latar belakangi karena adanya perbedaan cara pandang dan bersikap. Hingga saat ini ada ribuan bahkan jutaan orang tersiksa karena penyikapan secara berlebihan terhadap sebuah perbedaan alias minimnya sikap toleransi. Masalah penyelesaian pembangunan Masjid Nur Musafir di Kupang; pembangunan Mushala AsySyafiiyah di Bali; pembangunan Gereja Kristen Indonesia Taman Yasmin di Bogor; termasuk di dalamnya nasib para pengungsi syiah Sampang yang tidak bisa pulang ke kampung halamannya; semuanya karena minimnya sikap toleransi di tengah masyarakat. Alhamdulillah di Rejang Lebong khususnya dan Provinsi Bengkulu umumnya kasus mengenai sikap anti-toleransi agam nyaris tak pernah terdengar. Bukan berarti kemudian kita abai terhadap keadaan sekitar. Jika pemahaman terhadap toleransi khususnya toleransi antar umat beragama dilupakan, bukan mustahil ketentraman yang selama ini hadir akan lenyap. Dengan kata lain, toleransi antar umat beragama menjadi momok yang perlu dibicarakan. Terlebih lagi bagi umat Islam sebab Islam memiliki cara pandang sendiri mengenai toleransi. Bahkan toleransi ini sendiri sudah diatur jauh-jauh hari sebelum dunia barat memamerkan gaya toleransi yang kerap kali kebablasan itu.

Lalu apa itu toleransi? Toleransi adalah konsep modern untuk menggambarkan sikap saling menghormati dan saling bekerjasama di antara kelompok-kelompok masyarakat yang berbeda baik secara etnis, bahasa, budaya, politik, maupun agama. Dalam Islam, sebuah surat dalam Al-Qur’an yang sangat populer menjelaskan pandangan tentang toleransi yakni surat Al Kafirun ayat 1-6 : “Katakanlah (wahai Muhammad kepada orang-orang non-muslim), “Hai orang-orang yang di luar Islam, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmulah agamamu dan untukkulah agamaku”.

Inilah toleransi yang diajarkan di dalam kitab suci Al-Qur’an. Dengan gamblang dijelaskan bahwa Islam menghormati pandangan agama lain tetapi tidak dengan mengikutinya. Maksudnya umat Islam tidak perlu ikut serta menjalankan tata cara ibadah agama lain sebagai tanda bahwa ia sudah bertoleransi. Cukuplah dengan tidak mengganggu non-muslim saat menjalankan perayaan agamanya. Sebab saat ini sudah banyak umat Islam yang terjerumus mengikuti tata cara ibadah agama lain atas nama toleransi. Itu bukanlah suatu hal yang diajarkan dalam Al-Qur’an. Jadi toleransi dalam Islam menekankan pada kebebasan kepada siapapun untuk melaksanakan praktek keagamaan masing-masing. Toleransi dalam Islam tidak bertujuan untuk menyamakan atau menggabungkan keyakinan antar umat beragama.

Sebagai agama yang Rahmatan lil’alamin (mengayomi seluruh alam), Islam banyak menawarkan jalan dialog penuh nuansa toleransi dalam menyelesaikan semua perbedaan yang ada. Bahkan Islam sudah mengatur pola hubungan antara muslim dengan non-muslim dalam bingkai toleransi yang unggul. Setidaknya ada tiga bentuk toleransi yang dianjurkan kepada umat Islam ketika berhubungan dengan non-muslim, yakni :

Pertama, Islam mengajarkan untuk menolong siapapun yang dalam keadaan susah. Baik itu susah karena miskin maupun karena sakit. Tidak ada batasan agama dalam hal ini. Muslim sangat diperkenankan membantu non-muslim yang miskin ataupun sakit tanpa perlu khawatir tindakan tersebut mengakibatkan dosa. Bahkan sebenarnya malah berbuah pahala. Sesuai dengan hadist yang artinya : “Menolong orang sakit yang masih hidup akan mendapatkan ganjaran pahala.” (HR. Bukhari no. 2363). Sama sekali bukan masalah jika ada muslim yang kelebihan rezeki lalu menyumbangkannya untuk berobat tetangga yang sedang sakit sekalipun ia non-muslim.

Kedua, menjalin hubungan baik dengan keluarga yang non-Islam. Muslim tetap dianjurkan untuk berhubungan baik dengan keluarga yang non-muslim. Termasuk berhubungan dengan orang tua yang kebetulan tidak beragama Islam. Bahkan Sang Maha Pencipta memerintahkan kita untuk tetap berbuat baik meskipun orang tua yang non-muslim telah memaksa kita untuk berbuat syirik. Hal ini termaktub dalam Al-Qur’an sebagai berikut : Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.” (QS. Luqman: 15).

Ketiga,  boleh memberi hadiah kepada non-muslim. Ini sangat dianjurkan jika seorang muslim tengah mendakwahi non-muslim. Selain itu juga boleh dilakukan untuk menjaga hubungan baik dengan non-muslim. Salah seorang sahabat utama Rasulullah SAW, Umar Bin Khatab pernah menghadiahi pakaian kepada saudaranya yang saat itu belum masuk Islam.

Ketiga hal di atas adalah hal-hal yang dianjurkan dan diperbolehkan umat Islam melakukannya kepada non-muslim. Tentu saja lebih dianjurkan lagi melakukannya kepada saudara sesama Islam. Menolong saudara muslim yang sakit; menghormati orang tua yang Islam; dan memberi hadiah kepada saudara yang muslim tentu sangat dianjurkan.

Dengan garisan sikap toleransi yang sesuai dengan ajaran Islam, bukanlah hal mustahil jika kemajemukan di negara ini tetap terpelihara. Terlebih lagi jika sikap toleransi tersebut benar-benar dijalankan oleh umat Islam selaku kelompok mayoritas di negara ini. Agar sikap toleransi yang ada semakin tumbuh dan terjaga keberadaannya di negara ini, maka perlu juga dilakukan tiga hal. Diantaranya : (1) kelompok mayoritas senantiasa memperhatikan kelompok minoritas. Secara umum memang Islam adalah kelompok mayoritas di negara ini. Sudah selayaknya umat Islam ikut memperhatikan posisi umat agama lain yang menjadi minoritas. Tetapi untuk beberapa daerah tertentu, tidak serta merta umat Islam menjadi umat mayoritas. Di Bali misalnya, Hindu yang menjadi kelompok mayoritas. Maka seyogyanya posisi umat Islam harus juga ikut diperhatikan di kawasan seperti ini. (2) Harus ada kesamaan semua warga masyarakat di mata hukum. Tidak ada istilah tebang pilih yang membuat keadilan jarang didapat. Hukum haruslah tidak memandang latar belakang orang yang hendak diadili. Terlebih lagi dengan melihat latar agama. Jika hal ini terjadi, bukan mustahil malah akan menjadi pemantik keributan yang membuat sikap toleran jauh panggang dari api. (3) Sikap waspada yang dimiliki oleh setiap elemen masyarakat dari para provokator yang kerap memanas-manasi suasana yang sebenarnya biasa-biasa saja. Kadang kala masalah yang sepele menjadi besar karena ulah provokator. Masyarakat harus lebih berhati-hati dalam menyikapi sebuah isu. Terlebih lagi di era kebebasan media yang kadang kala sudah sangat kebablasan ini.

Jika toleransi bisa tumbuh dan terpelihara maka kedamaian, ketentraman dan kesejahteraan akan ikut muncul. Cita-cita pendirian negara yang terdapat dalam sila kelima Pancasila yakni keadilan sosial bagi seluruh masyarakat Indonesia benar-benar bisa tercapai. Semoga!

(Aktifis Moeda Community dan Redaktur Majalah online TEMI; Bukan saingan Times)

About Abu Nisrina

Check Also

Hukum Allah

Oleh: Muhsin Labib Satu Islam – Saya bermalam di rumah teman di sebuah desa yang …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *