Home / Opini / Mengapa Ekspansi Syiah Tidak Akan Berlangsung Lama ? : Analisa

Mengapa Ekspansi Syiah Tidak Akan Berlangsung Lama ? : Analisa

Demonstran Irak memegang gambar dari pemimpin Syiah terkemuka dari Yaman dan Iran Maret 2015 (Dok : AFP)
Demonstran Irak memegang gambar dari pemimpin Syiah terkemuka dari Yaman dan Iran Maret 2015 (Dok : AFP)

*Oleh : Kamran Bokhari

Konflik sektarian di Timur Tengah secara garis besar dibagi menjadi dua sisi: Sunni dan Syiah. Atau seperti itulah yang nampak. Namun ternyata, lebih rumit. Persatuan kelompok Sunni adalah mitos – negara-negara yang menjadi daerah kekuasaan kelompok Sunni terpecah karena berbagai masalah. Dan Syiah, yang kekuatannya telah tumbuh sejak awal tahun 1990-an, masih didera kendala tak terhindarkan menjadi kelompok minoritas.

Sebuah Tantangan Demografi
Memang, karakteristik tunggal yang paling menentukan bagi kelompok Syiah adalah mereka hanyalah sebagian kecil dari populasi Muslim. Lebih dari tiga per empat umat Muslim bermazhab Sunni.
Menurut sebuah studi tahun 2011 oleh Pew Research Center, hanya empat negara dengan mayoritas penduduk bermazhab Syiah: Iran, Azerbaijan, Bahrain dan Irak. Tapi negara-negara lain juga memiliki populasi Syiah yang tak kalah penting, termasuk Yaman, Kuwait, Arab Saudi, Afghanistan, Pakistan, Turki, Uni Emirat Arab, Qatar dan Oman. Syiah juga membentuk kelompok yang terpandang juga terbesar di Lebanon serta menciptakan kurang lebih 20 persen dari 180 juta atau lebih populasi Muslim di India.

middle_east_pakistan
POPULASI SYIAH DI TIMUR TENGAH

Seperti rekan-rekan Sunni mereka, kaum Syiah secara internal beragam. Imamiyah merupakan kelompok terbesar, tapi ada banyak juga yang lain, termasuk Ismailiyah, juga dikenal sebagai the Seveners (Tujuh Imam); Zaidis, juga dikenal sebagai the Fivers (Lima Imam); sisanya Alawi; dan Druze. Semua sub-sekte ini berbeda secara geografis, bahasa, politik dan ideologi.

JEJAK HISTORIS DINASTI SYIAH
JEJAK HISTORIS DINASTI SYIAH

Secara historis, kaum Syiah memerintah hanya sesekali, dengan beberapa pengecualian. Misalnya, Fatimiyah menjalankan kekhalifahan, yang berpusat di Kairo dan membentang dari Maroko ke pantai barat Semenanjung Arab, dari abad ke-10 awal sampai akhir abad ke-12. Dari tahun 932-1055, Dinasti Buwaihi Persia berupa Kekaisaran Imamiyah menguasai sebagian besar Iran dan Irak saat ini. Kemudian, Ilkhanate dari Mongol,Asia Tengah memerintah sebagian lebih Pakistan, Afghanistan, Iran, Irak, Suriah dan Turki. Baru-baru ini, Zaidis sesumbar perihal imamah di Yaman yang berlangsung dari 897 sampai 1962.

Beberapa sistem politik Muslim abad pertengahan kecil juga dikendalikan oleh dinasti Syiah. Untuk sebagian besarnya, kasus kontrol Syiah sangat jarang. Syiah yang didominasi oleh kaum Sunni sampai abad ke-16, ketika Kekaisaran Safawi memproklamirkan Syiah sebagai mazhab resmi kerajaan. Tapi saat ini, banyak dari Timur Tengah dan Asia Selatan jatuh di bawah kendali baik Ottoman atau Mughal, keduanya adalah kerajaan Sunni.

Membangun Pijakan
Kekuatan Syiah telah bergeser ke Persia. Pada tahun 1979, Revolusi Iran secara resmi menciptakan republik yang bermazhab Syiah. Iran sekarang menjadi negara Syiah terbesar dan paling kuat secara militer, dan kekuatannya telah memungkinkan ulama Teheran untuk mendukung masyarakat Syiah, dan dengan demikian meningkatkan pengaruhnya, di dunia Arab. Tapi memperluas pengaruh tidak selalu mudah. Iran berusaha memanfaatkan etnis Azeri sendiri yang menggunakan mayoritas Syiah di Azerbaijan untuk kepentingan golongannya. Namun, sampai tahun 1991, Azerbaijan merupakan bagian dari Uni Soviet dan, dengan demikian artinya menjadi negara sekuler. Sekularisme yang, pada gilirannya, membua mereka bertahan terhadap tawaran Syiah.

Pengaruh Iran juga telah bercokol di tempat-tempat seperti Asia Selatan. Negara kuat seperti India dan Pakistan, belum lagi perang di Afghanistan, telah membuat ekspansi timur sangat sulit bagi Teheran. Dengan wilayah timur laut dan timur jauh mereka sebagian besar tertutup, satu-satunya arah lain yang Iran bisa gunakan untuk perluasan pengaruh adalah barat terhadap dunia Arab.

Meskipun pertempuran sengit yang terjadi selama Perang Iran-Irak pada awal 1980-an, Teheran mampu membangun pijakan di Irak karena dimungkinkan oleh permusuhan antara rezim di Baghdad dan Damaskus. Memang, Suriah menjadi sekutu Iran pada awalnya, sebagian berkat fakta bahwa rezim yang berkuasa dalam hal ini Alawit, lebih banyak dikuasai oleh mayoritas Sunni. Penguasa Suriah juga membantu Iran mengembangkan Hizbullah menjadi kekuatan besar politik dan militer.

Dua peristiwa lainnya yang berperan untuk perluasan pengaruh regional Iran: Pada tahun 1989, Perang Iran-Irak berakhir, dan, agak kebetulan, perang saudara Lebanon juga selesai. Meninggalkan Hizbullah, kelompok proksi Iran, sebagai entitas politik tunggal terbesar di Lebanon. Beberapa tahun kemudian, Irak menginvasi Kuwait, menelurkan Perang Teluk pertama. Untuk Iran, perang ini sangat menguntungkan karena melemahkan pemerintahan di Baghdad, yang sebelumnya telah dilindungi oleh Dewan Kerjasama Teluk dari perambahan pengaruh Iran.

Selanjutnya, minoritas Irak Kurdi dan Syiah, yang telah mendukung Teheran selama bertahun-tahun, mulai mengeksploitasi kelemahan yang tumbuh dari rezim Irak. Pada saat Amerika Serikat mengalahkan Saddam Hussein pada tahun 2003, Irak sudah matang untuk jatuh di bawah kendali Iran. Dan benarlah, hal ini kemudian memberikan Iran busur pengaruh dari Teheran ke Laut Mediterania.

Tapi ekspansi Iran segera dihentikan, bahkan jika aspirasi untuk hegemoni sendri tidak ikut berhenti. Dengan asumsi sisi barat yang aman, Teheran melihat kesempatan dalam kesempatan “Arab Spring” untuk memperluas ke Semenanjung Arab – jantung persaingan daerah Iran, Arab Saudi. Secara khusus, Teheran berharap untuk menggunakan pemberontakan Syiah di Bahrain sebagai keuntungan sendiri. Arab Saudi, dibantu oleh sekutu-sekutunya di Dewan Kerjasama Teluk, menghancurkan pemberontakan dan lebih jauh lagi, harapan Iran untuk mendapatkan pengaruh penting di negara kepulauan tersebut.
Segera setelah itu, ambisi Iran harus berjibaku di Suriah, di mana protes Musim Semi Arab akhirnya berkembang menjadi perang saudara skala penuh. Pemerintah Alawit masih utuh, namun pembubarannya akan menjadi bencana bagi Iran: Ini akan memisahkan Teheran dari sekutunya Hizbullah dan meninggalkan Syiah Irak diintimidasi oleh rezim Sunni di Suriah. Ini sedikit mengejutkan, kemudian, bahwa Iran telah mendukung rezim Presiden Suriah Bashar al Assad dengan begitu antusias.

Terlalu Banyak Garis Merah
Saat ini, Iran dan Syiah tampak dalam bentuk yang lebih baik daripada Arab Saudi dan Sunni. Hizbullah dan milisi lainnya telah membantu al Assad untuk tetap berkuasa. Memerangi kelompok-kelompok ekstremis seperti Jabhat al-Nusra dan ISIS, Iran telah memberikan waktu untuk berkumpul kembali, seperti melakukan negosiasi nuklir dengan Amerika Serikat. Selain itu, Saudi telah disibukkan dengan pemberontakan Houthi di Yaman.

KESEIMBANGAN KEKUATAN ANTAR SEKTE DI TIMUR TENGAH
KESEIMBANGAN KEKUATAN ANTAR SEKTE DI TIMUR TENGAH

Namun, keuntungan kaum Syiah tidak akan bertahan. keuntungan yang didapat oleh kaum Syiah sebagian besar datang sebagai hasil dari inkoherensi dan kelemahan Sunni, serta beberapa perkembangan terakhir menyarankan Sunni mendapatkan kembali wilayahnya, jika hanya sementara. Pemberontak telah mendapatkan wilayah penting di Suriah, khususnya di provinsi Idlib, dan Arab Saudi serta Turki menandatangani pakta aliansi untuk menggulingkan kekuasaan Assad.

Lebih penting lagi, kelompok Sunni berjumlah lebih banyak dari Syiah, dan ada banyak bukti yang menunjukkan Sunni tidak akan mematuhi aturan Syiah. Di Lebanon, Hizbullah telah mampu mendominasi pemerintah, meskipun sebatas ukuran dan pengaruh sebagai kelompok militan. Di Yaman, gerakan Zaidi mungkin muncul sebagai versi Hizbullah di Yaman, tetapi tidak dapat memaksakan kehendaknya pada negara luar wilayah inti Zaidi. Di Irak, DAESH masih merupakan kelompok Sunni yang kuat, bahkan di daerah yang didominasi oleh Syiah, meskipun kebiadaban terjadi disana.

Aksi para Jihadis pada kenyataannya, mengancam Iran dan sekutu Syiah, tetapi mereka juga merupakan sebuah peluang. Jihad melemahkan negara Sunni dan cenderung untuk mengayunkan opini internasional terhadap Iran. Iran berharap bahwa Arab Saudi akan tercekik; dari sudut pandang mereka, momentum gerakan Houthi di Yaman bisa membantu memicu pemberontakan serupa di antara Ismailiyah di provinsi Saudi Jizan dan Najran, yang keduanya berbatasan dengan Yaman. Idealnya, komunitas Syiah Imamiyah di Provinsi Timur Arab Saudi akan berkembang dengan perkembangan yang sama bersama dengan Bahrain, bisa membuat pos penting pengaruh Iran di Arab Saudi.

Ada terlalu banyak garis merah bagi kaum Sunni di wilayah itu. Bahkan dalam skenario tidak mungkin bahwa Arab Saudi melemahkan begitu banyak bahwa Iran mengasumsikan de facto kontrol dari Semenanjung Arab, populasi Sunni tidak akan membiarkan kota-kota suci Mekkah dan Madinah tetap terkendali Syiah. Dan ada hanya tidak cukup Syiah untuk melakukan sesuatu tentang hal itu karena mereka pada dasarnya dikelilingi oleh Sunni.

Selain pertimbangan keyakinan, ada juga pertimbangan etnis yang mencegah penyebaran pengaruh Syiah. Kepemimpinan Syiah sekarang di tangan Persia, dan bukan Arab. Dan meskipun Syiah Arab telah selaras dengan Teheran, mereka melakukannya hanya karena kebutuhan, mereka difitnah karena mereka berada di negara masing-masing dan bukan di negara yang mayoritas penduduknya bermazhab Syiah. Hal ini membatasi sejauh mana Iran dapat mengandalkan mereka untuk melayani tujuannya.

Meskipun Syiah dari dunia Arab sebagian besar telah bersatu, beberapa perbedaan mereka akan sangat sulit untuk diabaikan. Persaingan masih ada antara pusat teologis sekolah Najaf Irak yang didominasi Arab dan sekolah di Qom, dan Teheran telah berusaha keras untuk meningkatkan pengaruhnya atas Najaf. Para pemimpin Iran berharap bahwa kekosongan kekuasaan di Irak akan memungkinkan mereka untuk menyebarkan ajaran mereka, Wilayatul Faqih-. Tapi dengan Iran mengalami transformasi politik sendiri, ketegangan antara faksi liberal dan konservatif; antara demokrasi dan faksi teokrasi, mengingat munculnya Presiden Iran Hassan Rouhani dan rehabilitasi dalam negeri yang ia mulai telah menjadi lebih akut. Ketegangan juga bisa mengalihkan perhatian Iran, membuang mentah-mentah aspirasi internasional di pinggir jalan.

Dengan demikian, sebanyak Iran ingin lebih mengeksploitasi kelemahan Sunni saat ini, perubahan yang berlangsung di Teheran bisa menggagalkan ambisi regional pemimpinnya ‘selayaknya juga bisa menimbulkan perbedaan internal di antara Syiah dan perkembangan perang sipil Suriah.

)* Penulis, Pengamat Geopolitik Islam, Kontributor tetap STRATFOR

About Sarah

Lifetime learner, wanderlust, lover

Check Also

(Analisis) FPI dan Transaksi Kejayaan Takfiri

Oleh: Acin Muhdor   Satu Islam – Paska Isu Blasphemy Law (penistaan) yang menimpa Ahok, …