Home / Wawasan / Negativisme

Negativisme

Oleh: Muhsin Labib

Satu Islam – Ada sekelompok orang pinter yang selalu menampilkan diri di atas rata-rata warga sosmed dan mengiklankan diri dengan cara halus sebagai elit intelektualis dan aktivis yang tak pernah libur bersikap kritis dengan analis mendalam, punya visi ke depan dan penuh empati terhadap rakyat miskin yang dilukiskan sebagai korban kebijakan elit yang didikte oleh korporasi-korporasi rakus domestik dan asing.

Mereka rajin berdiskusi di balkon kedap suara yang jauh dari debu kemeralatan dan rajin memberikan himbauan bijak sembari mencontohkan diri sebagai grup yang pantang berpihak di tengah kecamuk perang status dan twitt.

Meski ingin dianggap independen, mereka hanya melemparkan kritik kepada salah satu tim yang dianggapnya katrok, tak punya straregi dan cuma memuja elit penguasa.

Mereka mengkritik kubu tertentu bukan karena kepentingan politik atau lainnya, tapi karena mencurigai semua yang dianggap arus besar sebagai parade kebodohan. Mereka terlanjur menganggap arus besar pasti tak logis, emosional, pasaran dan ikut-ikutan.

Karena arus besar selalu mengangkat isu toleransi dan sesekali menunjukkan keberpihakan kepada pemerintah, mereka berjuang mengangkat isu keadilan seolah lawan toleransi dengan mencemooh dan mengeluhkan arus besar yang tak paham permainan elit korup yang menjadi kaki tangan para kapitalis, terperangkap oleh konspirasi global dan miskin wawasan geopolitik.

Dalam lipatan retorika yang penuh metafora yang ambigu dan diksi nyelekit, mereka mengesankan diri sebagai kubu ketiga yang sadar politik dan cermat dalam memilah data sembari mengerdilkan isu yang diangkat arus pasaran atau menyesalkan reaksi-reaksi terhadap celoteh serampangan para perawat kedengkian politik.

Mungkin ini bukan soal analisa, bukan juga soal memihak keadilan dan juga bukan soal kesadaran ideologis atau perbedaan persepsi tapi hanya soal rasa superior yang mendorong mereka mencemooh orang-orang yang dianggapnya hanya teriak-teriak pro kebhinekaan dan toleransi di dunia monitor.

Mungkin mereka menganggap kemarahan terhadap “plonga plongo, bubar, pengibulan, kitab suci fiksi dan partai setan” sebagai sikap yang menggelikan.

Mungkin mereka mengkritisi pandangan dan sikap pihak lain bukan karena substansinya tapi hanya karena menganggapnya arus utama.

Inilah negativisme.

 

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *