Home / Nasional / Wartawan Perang Tempo: ISIS Tumbuhnya di Tempat yang Berkonflik

Wartawan Perang Tempo: ISIS Tumbuhnya di Tempat yang Berkonflik

Diskusi ‘Menembus Jantung ISIS’ di Gedung Tempo, lt. 5 Jalan Palangmerah Barat 8, Jakarta Selatan. Jum’at, 16 Juni 2017.

Satu Islam, Jakarta – Seorang wartawan perang Tempo, Qori Tajudin, mengatakan bahwa ISIS itu tumbuhnya selalu di tempat yang sudah berkonflik.

“Apakah Indonesia bisa menjadi seperti di Suriah, bisa saja, maka jangan sekali-kali bikin konflik di Indonesia”, kata Qori dalam diskusi ‘Menembus Jantung ISIS’ di Gedung Tempo, lt. 5 Jalan Palangmerah Barat 8, Jakarta Selatan. Jum’at, 16 Juni 2017.

“Karena di Indonesia sangat banyak kelompok, dan ini gampang sekali dibenturkan. Apakah radikalisasi ada, iya, tapi apakah serta merta besok atau lusa akan ada khilafah Islamiyyah atau perang, mungkin tidak. Tapi kalau kita biarkan, tidak tahu nanti yang terjadi dengan anak cucu kita”, lanjut wartawan konflik Afghanistan ini.

Menurutnya, ISIS dengan dipimpin Abu Bakar al Baghdadi muncul di Suriah sebagai organisasi yang lebih kuat dan mempunyai misi jelas. Sehingga kelompok-kelompok pemberontakan yang banyak itu terlindas. “Mereka mempunyai misi jauh lebih jelas, sebagai sebuah gerakan itu lebih efektif”, ujarnya.

Ia melanjutkan, Itulah kenapa ISIS diminati anak muda di Suriah. Hal yang sama terjadi di Libia, kelompok terpecah begitu banyak, tidak ada tokoh pemersatu nya.

ISIS jauh lebih mematikan di tempat yang berkonflik. “Seperti yang terjadi di Marawi Filipina. Kelompok pemberontak seperti Abu Syayaf itu banyak. Tapi lebih efisien karena ketika ISIS muncul, mereka bergabung”, tandasnya.

Diskusi yang dikemas dengan acara “Ngabuburit bersama Wartawan Perang Tempo” tersebut juga menghadirkan dua wartawan Tempo lain, yaitu Pramono (Wartawan Konflik Suriah) dan Mahardika Satria Hadi ( Wartawan Konflik Marawi).

Senada dengan Qori, Pramono mengatakan tidak ada kepemimpinan yang solid diantara para pemberontak di Suriah. Mereka para pemberontak mementingkan kelompok nya sendiri. “Ada musuh bersama iya, tapi pemimpin bersama tidak”, katanya.

Pramono yang meliput langsung ke Suriah ini menilai, Mereka (ISIS) itu sangat kreatif dan berhasil dalam menciptakan teror, menciptakan propaganda dengan yel-yel jihad dibungkus agama. “Mislanya kreatif dalam mengeksekusi tawanan dengan berbagai cara”, ujarnya.

Pramono heran, kenapa seorang doktor, mahasiswa itu bisa bergabung, apakah mereka bodoh ? Dua mahasiswa kita juga memberanikan diri bergabung ke ISIS. Ia mengatakan “Kita tidak bisa menganggap lagi mereka adalah orang-orang bodoh. Kita juga tahu ada bekas direktur BUMN Indonesia yang bergabung dengan ISIS.”

“ISIS itu luar biasa, dulu mungkin banyak orang menganggap remeh dan kecil. Tapi kita harus lebih bijak melihat ISIS tidak hanya melihat sekedar sebuah organisasi teroris.” tandas wartawan non muslim yang mengaku bisa menikmati azan di Suriah tersebut.

Berbeda dengan keduanya, Mahardika mempunyai pengalaman dan informasi tersendiri ketika meliput langsung konflik di Marawi Filipina. Ia masuk wilayah ini setelah seminggu konflik pecah.

“Titik masuk pertama adalah bandara Cagayan de Oro kedero, kemudian menuju Iligan, kota besar terdekat Marawi. Jarak dari Marawi ke Iligan sejuh 27 km”, ceritanya ketika masuk daerah konflik meliput lebih dekat.

Ia menggambarkan bahwa tidak mungkin tinggal bermalam Marawi, karena kota tersebut sudah kosong sejak darurat Militer. Semua warga mengungsi. “Dari Iligan, saya masuk ke Marawi, melewati banyak pos pemeriksaan. Ada 4 jalan utama, 2 jalan diantaranya bisa langsung masuk ke Marawi” jelasnya.

Di sana, cerita Dika, kalau ada orang asing, dicurigai. Tapi para polisi dan tentara, cukup Wellcome dengan wartawan yang datang.

Diskusi bertema “Menembus Jantung ISIS, dari Suriah hingga Marawi” ini dimoderatori oleh kang Iwang dan diakhiri dengan buka bersama.(YusAn)

About Abu Nisrina

Check Also

Kemenag Kenalkan Pendidikan Islam Bermutu ke Dunia Melalui IIEE

Satu Islam, Jakarta – Kementerian Agama (Kemenag) akan menggelar Pameran Pendidikan Islam Dunia (International Islamic …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *