Home / Nasional / Tugas NU Perangi Islam Dangkal

Tugas NU Perangi Islam Dangkal

muktamar-NUSatu Islam, Jakarta – Indonesia beruntung memiliki dua organisasi massa (ormas) Islam besar, Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah. Dua ormas yang menjadi kekuatan civil society Indonesia itu setidaknya berperan besar dalam meredam berbagai konflik aliran Islam di Tanah Air.

Tentu ini tidak bermaksud meremehkan peran organ civil society lainnya, apalagi pemerintah. “Tapi, itu yang membedakan Indonesia dengan negara-negara di Timur Tengah. Negara-negara Arab sulit meredakan konflik aliran, sedangkan kita mampu karena civil society-nya kuat,” ucap Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Said Aqil Siradj, kepada SH di gedung PBNU, Jakarta, Senin 1 Juni 2015.

Di Timur Tengah, konflik aliran melahirkan pertumpahan darah yang luas dalam jumlah besar. Konflik diikuti dengan pergantian rezim yang memerintah.

Perang terbuka menimbulkan pengusiran yang menyebabkan pengungsian marak terjadi. Sebagai contoh dapat dilihat di Afganistan, Sudan, Iran, Yaman, dan Suriah.

Konflik aliran juga berimbas ke penguasaan aset-aset ekonomi. Tidak sedikit konflik aliran dalam negeri secara sengaja atau tidak melibatkan campur tangan negara lain. Hal ini karena sejumlah negara di Timur Tengah memiliki aset ekonomi yang melimpah, terutama minyak dan gas bumi (migas).

Di Indonesia, kalaupun ada letupan konflik, hal tersebut tidak meluas dan mampu dilokalisasi. Padahal, Indonesia menjadi negara berpenduduk Islam terbesar di dunia, namun paling heterogen dengan berbagai suku, agama, ras, serta golongan.

Menurut Said Aqil Siradj, hal tersebut bisa berjalan karena Islam di Nusantara dipahami sebagai pembawa rahmat, tidak antibudaya. Agama ini juga adaptif dengan adat istiadat yang ada.

“Islam adalah agama hidayah, agama kemanusiaan. Kebudayaan tidak diberantas, tetapi disinergikan dengan ajaran Islam, diperkuat,” serunya.

Hal itulah yang dilakukan PBNU dari sejak berdirinya pada 1936, yakni menjadikan Islam sebagai pengamalan hidup. Islam yang menyatu dengan budaya saling membutuhkan dengan negara. Negara memerlukan Islam dan Islam memerlukan negara.

Tantang Berat

Masih adanya kelompok Islam yang berpandangan eksklusif dan tidak menyukai minoritas tidak dapat dielak. Konflik aliran Syiah dan Ahmadiyah tentu tak bisa dianggap enteng. Namun, ini tidak bisa dibandingkan dengan yang terjadi Timur Tengah.

Said Aqil Siradj mengakui, pemahaman tentang Islam yang melenceng dari makna Islam sebenarnya masih banyak terjadi di Indonesia. Hal itu menjadi tantangan tersendiri bari organ civil socitey, seperti NU dan Muhammadiyah.

Khusus bagi NU, Said Aqil memaparkan, tantangan ke depan dirasa kian berat. Gerakan radikal Islam terus bermunculan. Perusakan tempat ibadah, aksi bom bunuh diri di tempat umum, bahkan paham Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) menjalar di Indonesia. Eksklusivitas antara kelompok makin mengemuka dan menganggap perbedaan sebagai ancaman.

Ia menduga, ada pihak luar yang sedang berupaya memindahkan konflik aliran di Timur Tengah agar masuk Indonesia. Tetapi, ia memastikan, hal itu tak akan bisa terjadi selama organ civil society Indonesia masih sangat kuat.

Sejatinya, Islam tidak pernah membeda-bedakan satu sama lain. Mendiskriminasi orang lain sama saja dengan menghina Islam sendiri.

“Inilah yang harus dihadapi, memerangi pemahaman Islam yang dangkal,” ujarnya. Sebab sebenarnya, Islam mengutamakan sikap inklusif, toleran, dan saling menghargai perbedaan.

Untuk meyakinkan penganut Islam dangkal, Said Aqil Siradj mengatakan, NU harus memperkuat basis argumentasi keislamannya. Islam yang dianggap dangkal itu dari aliran Wahabi dan Salafi. Keduanya berkembang di Yaman. Wahabi dan Salafi berkembang di Indonesia karena memanfaatkan situasi ekonomi masyarakat yang masih miskin.

“Mereka punya banyak uang. Mereka mencari pengikut dengan menebar uang ke mana-mana,” ucapnya.

Jika situasi ekonomi dan pendidikan Indonesia terus membaik dari waktu ke waktu, ia yakin aliran radikal mati dengan sendirinya. Karena itulah, dalam Mukmatar PBNU pada 1-5 Agustus 2015 mendatang di Jombang, Jawa Timur, tema yang diangkat adalah “Memperkokoh Islam Nusantara”.

Basis argumentasi keislaman telah dikembangkan NU di 24 universitas milik PBNU yang tersebar di seluruh Indonesia saat ini. PBNU juga menjalin kerja sama yang baik dengan semua partai politik (parpol). Dengan demikian, suara NU bisa masuk ke kebijakan negara melalui kader-kader yang ada di parpol.

“Kami tidak terafiliasi dengan parpol tertentu. Dengan demikian, kami bisa masuk ke semua organ civil society, seperti parpol juga,” katanya.

Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang didirikan tokoh NU, Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, bukanlah satu-satunya partai yang memiliki warga NU di dalamnya. Saat ini, ada sekitar 120 warga NU yang yang terpilih sebagai anggota DPR/DPD. Sekitar 1300 warga NU juga terpilih sebagai anggota DPRD provinsi dan kabupaten/kota di berbagai parpol yang ada.

“NU wajib melindungi minoritas. Itu tugas NU. Islam di Indonesia mayoritas dan kami wajib melindungi minoritas,” ujarnya.

Itulah alasan Islam Indonesia menjadi model bagi dunia. Indonesia sangat terbuka, tetapi juga harus mampu menyaring yang dibutuhkan masyarakatnya sehingga menjadi umat beragama yang damai.

Negara membutuhkan agama dan agama butuh negara. Kolaborasinya dapat menjadi hebat.

Sumber : Sinar Harapan Cetak

About Abu Nisrina

Check Also

Belasan Ormas Jatim Bergabung Bentuk Forum Kebangsaan

Satu Islam, Surabaya – Belasan organisasi masyarakat (Ormas) di Jawa Timur bergabung bersama membentuk Forum …