Home / Nasional / Survei Kemenag: Indeks Kerukunan Umat Beragama Meningkat

Survei Kemenag: Indeks Kerukunan Umat Beragama Meningkat

Ilustrasi toleransi

Satu Islam, Jakarta – Indeks kerukunan umat beragama tahun 2016 mengalami kenaikan sebesar 0,12 poin dibandingkan dengan tahun 2015, demikian hasil survei Kementerian Agama.

Kepala Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama, Prof Abd. Rahman Mas’ud mengatakan, survei mengukur tiga indikator utama indeks yaitu toleransi, kesetaraan, dan kerja sama.

“Hasil survei juga menemukan hubungan positif antara keterlibatan tokoh agama dan organisasi keagamaan dengan kerukunan umat beragama,” kata Mas’ud dalam penjelasannya yang disampaikan saat mengisi pengajian bulanan Muhammadiyah di Menteng, Jakarta..

Dia menambahkan survei tersebut juga memotret indeks kerukunan responden yang aktif dalam organisasi sosial maupun keagamaan lebih tinggi dibanding yang tidak terlibat aktif. Komunitas tempat berorganisasi menularkan virus positif pada anggotanya.

Isu tolerasi dan kerukunan antarumat beragama, belakangan menjadi isu nasional menyusul beberapa kasus intolerasi. Kasus yang menarik perhatian adalah kasus penistaan agama yang diduga dilakukan oleh Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.

Masud menjelaskan, survei menunjukan tingkat kerukunan umat beragama di Indonesia cukup tinggi meskipun sepanjang tahun 2016 sempat terjadi beberapa gesekan kecil di akar rumput. Selain itu, hasil survei juga menemukan hubungan positif antara keterlibatan tokoh agama dan organisasi keagamaan dengan kerukunan umat beragama.

“Kepercayaan umat beragama terhadap tokoh agama memiliki indeks yang tinggi sebesar 68,65 persen. Kepercayaan umat beragama terhadap orang dari suku berbeda 73,71 persen. Sedangkan kepercayaan umat beragama terhadap penganut agama lain sebesar 77,09 persen,” kata Masud.

Terkait indeks tersebut, Mas’ud menilai Indonesia patut bersyukur karena memiliki ormas Islam berpaham moderat, seperti Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama. Menurut dia, negara dengan dasar Islam sekali pun belum tentu mempunyai ormas Islam yang sangat mengakar dan dapat menyemai nilai Islam moderat dan santun.

Kedua organisasi yang sangat setia pada negara ini melakukan banyak tugas yang seharusnya diemban oleh negara dan sekaligus menjadi control atau penyeimbang bagi pemerintah.

“NU dan Muhammadiyah membuktikan pengamalan Islam yang penuh kedamaian, Islam yang ramah, Islam yang senyum,” katanya. “Masyakat Indonesia beruntung, karena mempunyai faktor yang merukunkan. Salah satunya adalah kearifan lokal yang hampir ada di berbagai daerah dan suku di Indonesia.”

Selain organisasi Islam, Indonesia juga memiliki kearifan local (local wisdom) yang tetap lestari. “Masyakat Indonesia beruntung, karena mempunyai faktor yang merukunkan. Salah satunya adalah kearifan local yang hampir ada di berbagai daerah dan suku di Indonesia,” ujar Mas’ud.

Selain indeks kerukunan itu, Selain indeks kerukunan itu, hasil kajian Balitbang Diklat Kemenag menyebutkan penyebab ketidakrukunan umat beragama dipengaruhi oleh faktor non-agama dan faktor agama.

Faktor non-agama di antaranya karena adanya kesenjangan ekonomi, kepentingan politik, konflik sosial dan budaya. Sedangkan faktor agama, seperti terkait polemik izin pendirian rumah ibadah, metode penyiaran agama, dan perkawinan antar pemeluk agama yang berbeda.

Faktor agama lainnya yang ikut mempengaruhi adalah penodaan agama, kegiatan kelompok sempalan serta pengamalan agama yang tekstualis.

About Abu Nisrina

Check Also

Dedi Mulyadi: Radikalisme Bertentangan dengan Budaya

Satu Islam, Purwakarta – Jawa Barat merupakan provinsi dengan jumlah penduduk terbesar di Indonesia. Masyarakat …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *