Home / Nasional / Polri Sisir Teroris

Polri Sisir Teroris

Satu Islam, Jakarta – Polri aktif mendeteksi komunikasi dan pergerakan kelompok teroris berdasarkan informasi intelijen, baik berupa jaringan maupun yang bergerak tanpa pemimpin (lone wolf) yag hendak dilancarkan menjelang Lebaran Haji dan HUT Kemerdekaan RI. Pekan lalu, Densus 88 Antiteror Polri mengungkap kelompok yang diduga terkait pengiriman sejumlah WNI ke Filipina dan Suriah.

Polri tak ingin teror 16 Agustus 2013 terulang. Kala itu, kelompok Nurul Haq yang berafiliasi dengan kelompok Badri di Solo dan Santoso di Poso menyerang aparat hingga menewaskan satu polisi. Mereka memilih momentum perayaan yang dianggap toghut.

“Memang ada info yang sudah beberapa kali muncul di media sosial bahwa mereka akan menyerang dengan bom kalau ada bom. Kalau tidak punya bom maka pakai senjata api, kalau tidak punya senjata api ya pakai pisau atau senjata tajam, bahkan kalau tidak punya mereka akan menabrak,” kata Kadiv Humas Polri Irjen Setyo Wasisto saat dihubungi, Senin 14 Agustus 2017.

Mantan Wakabaintelkam Polri ini mengatakan, polisi telah mengambil sejumlah langkah untuk mendalami informasi itu dan juga mencegah supaya rencana teror itu tidak terjadi. Polri mendeteksi komunikasi dan pergerakan kelompok teroris berdasarkan informasi intelijen. Baik itu teroris yang bersifat jaringan maupun teroris yang bersifat lone wolf atau leaderlessatau bergerak tanpa pemimpin.

Selain itu dari internal Polri juga melakukan penguatan pengamanan dan penjagaan di markas-markas polisi dengan memasang barikade. Anggota Polri yang berdinas di lapangan, seperti Polantas, juga diwajibkan untuk menerapkan body system yakni harus lebih satu orang yang berjaga didukung oleh anggota lain yang membawa senjata.

Pernyataan bahwa polisi menjadi sasaran teror sudah ada sejak lama. Periode tahun ini, seruan agar polisi berjaga-jaga dengan penerapan body system dilontarkan Kapolri Jenderal Tito Karnavian, Desember 2016 lalu. Seruan serupa diulang menjelang Lebaran 2017 namun kenyataannya seorang polisi tewas di tikam di Mapolda Sumut pada 24 Juni, dan seorang polisi diserang di Masjid Falatehan, Jaksel pada 30 Juni.

Artinya, penerapan perlindungan diri polisi belum efektif benar. Menurut angota Komisi I DPR, Andreas Hugo Pareira, operasi intelijen untuk mendeteksi, memonitor dan mengantisipasi munculnya tindakan teror harus dilakukan terus menerus. Dalam artian 24 jam dalam sehari dan 7 hari dalam seminggu tanpa henti.

Hugo Pareira mengapresiasi setiap Densus Antiteror yang mengungkap jaringan dan menangkap terduga teroris sebelum terjadi aksi teror, atau mengisyaratkan akan adanya upaya teror yang akan terjadi pada peristiwa-peristiwa hari besar.

Baginya, pihak-pihak yang terkait pengamanan jangan sampai mengendurkan tindakan demikian. Karena keselamatan warga juga sangat tergantung dengan konsistensi dalam pelaksanaannya.

“Upaya pencegahan terus menerus ini sangat penting untuk menghindari terjadi teror yang memakan korban,” kata Andreas.

Setyo Wasisto mengingatkan jika tak hanya polisi yang mungkin disasar oleh kelompok teror. Tempat hiburan dan lokasi wisata pun bisa saja menjadi target mengingat kelompok teror acap kali melakukan teror di lokasi terbuka belakangan ini seperti Bom Kampung Melayu.

Masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan. Bila ada hal yang mencurigakan supaya dilaporkan ke polisi. Masyara-kat juga dihimbau aktif untuk mengenali lingkungan sekitar sehingga apabila ada orang asing mudah dideteksi. Tapi masyarakat juga diminta tidak paranoid.

Pada 16 Agustus 2013 pelaku pelaku teror menyasar polisi berseragam yang melintas di Jalan Graha Bintaro, Kelurahan Parigi Baru, Kecamatan Pondok Aren, Tangerang Selatan, tepat pada malam menjelang peringatan HUT Kemerdekaan.

Anggota Binmas Pondok Kacang, Aipda Kus Hendratma gugur saat dia hendak menuju Polsek Pondok Aren untuk mengikuti apel persiapan operasi cipta kondisi. Pelaku kemudian juga menembak mati Bripka Ahmad Maulana, anggota Buru Sergap Polsek Pondok Aren, Tangerang Selatan yang hendak menolong Kus.

Belakangan terungkap jika pelakunya adalah kelompok Nurul Haq yang berafiliasi dengan kelompok Badri di Solo dan Santoso di Poso. Mereka menyerang polisi karena menganggap polisi dalah toghut(seperti setan) dan sengaja memilih momen menjelang HUT Proklamasi.

Pengamanan Maksimal

Polda Metro Jaya bersama TNI telah menyiapkan rangkaian pengamanan terkait peringatan Hari Kemerdekaan ke-72 Republik Indonesia, di Istana Negara dan sejumlah tempat lainnya, di Ibu Kota Jakarta.

“Sudah kita siapkan rangkaian pengamanan peringatan HUT RI mulai hari ini sampai dengan 18 Agustus mendatang,” ujar Kepala Biro Operasi Polda Metro Jaya Kombes Verdianto Iskandar, Senin 14 Agustus 2017.

Dikatakannya, personel pengamanan sudah disiapkan secara maksimal untuk melakukan pengamanan. Seperti kegiatan Pidato Kenegaraan di Gedung DPR/MPR dan Renungan Suci di Taman Makam Pahlawan Nasional Kalibata, Jakarta Selatan, 16 Agustus; Upacara Kenaikan dan Penurunan Bendera Pusaka, di Istana Negara, 17 Agustus; hingga kegiatan Countdown Asian Games di Monas, 18 Agustus 2017 mendatang. Personel juga dikerahkan melakukan pengamanan di beberapa objek vital, tempat wisata, pusat perbelanjaan, dan tempat lainnya.

“Sudah kami siapkan semua antisipasi pengamanan bersama TNI. Jumlah personel pengamanan kita kerahkan maksimal termasuk dengan TNI,” ungkapnya.

Ia menyampaikan, Polri dan TNI akan memperketat pengamanan dan telah menyiapkan langkah antisipasi terkait kemungkinan adanya aksi teror.

 

About Abu Nisrina

Check Also

Kemenag Kenalkan Pendidikan Islam Bermutu ke Dunia Melalui IIEE

Satu Islam, Jakarta – Kementerian Agama (Kemenag) akan menggelar Pameran Pendidikan Islam Dunia (International Islamic …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *