Home / Nasional / NU, Muhammadiyah dan MUI: Kuatnya TNI Ketika Bersama Rakyat

NU, Muhammadiyah dan MUI: Kuatnya TNI Ketika Bersama Rakyat

TNI bersama rakyat saat membantu korban longsor di Kabupaten Limapuluh Kota – Dok: netralnews.com

Satu Islam, Jakarta – Sejumlah pihak menanggapi kesan-kesan Islami yang diisyaratkan dalam peringatan HUT ke-72 TNI, di Cilegon, Banten, Kemarin. Tokoh NU, Muhammadiyah dan MUI menyebut  pentingnya menjaga hubungan antara TNI dan umat Islam.

Ketua Pengurus Besar  Nahdhatul Ulama (PBNU)  KH Marsudi Syuhud mengatakan, hubungan antara TNI dan umat Islam yang menjadi bagian dari rakyat Indonesia adalah sebuah keniscayaan. Kuatnya TNI, kata Kiai Marsudi, adalah ketika bersama rakyat.

“Hubungan TNI dengan rakyat, tidak hanya sekadar dengan umat Islam, itu adalah sebuah keniscayaan karena kuatnya TNI adalah bersama rakyat. Sampai sekarang hubungan TNI dan rakyat itu masih baik,” kata Kiai Marsudi Kamis 5 Oktober 2017.

Marsudi melanjutkan, hubungan antara TNI dan para ulama pun harus terus dijaga. Sebab, ulama dan umat Islam itu bagian dari rakyat.

Nahdlatul Ulama pun telah menjalin kerja sama berupa pakta pertahanan dengan TNI untuk bersama-sama melawan perang proxy. “Dengan itu pastilah tentara akan bersama rakyat. Karena mayoritas di Indonesia memeluk Islam, tentu bersama umat Islam,” ujar Kiai Marsudi.

Kiai Marsudi mengakui, perang memang mudah pecah. Contohnya ada pada beberapa negara yang tadinya aman, tapi kemudian terjadi konflik peperangan. Namun, di Indonesia, menurut dia, jika rakyat dan tentara itu sama-sama menjalin kerja sama yang baik, skenario perpecahan sukar dilancarkan.

Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin TNI merupakan pasukan Indonesia yang dibentuk oleh rakyat untuk mempertahankan kemerdekaan. Karena itu, menurut Din, tidak salah jika TNI disebut berasal dari rakyat. “Bersama rakyat, TNI akan kuat,” ucap dia.

Tidak hanya itu, akar TNI juga berkaitan erat dengan umat Islam seperti Barisan Hizbullah dan juga Hizbul Wathan. Hizbul Wathan sebagai gerakan kepanduan dan organisasi otonom pada Muhammadiyah, pada masa kemerdekaan dipimpin oleh Jenderal Sudirman. Sosok Sudirman ini kemudian menjadi pendiri TNI.

“Karena pendirinya Jenderal Sudirman, sering kami di Muhammadiyah itu berbangga dan mengatakan bahwa dalam TNI itu mengalir darah Muhammadiyah, dan sosok Sudirman sampai sekarang tetap dijadikan idola oleh prajurit-prajurit TNI,” tutur Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) ini.

Bagi Din, Sudirman adalah sosok jenderal yang sederhana dan istiqamah karena dalam keadaan sakit pun tetap memimpin pasukan dan menunjukkan tanggung jawabnya.

“Nilai semacam ini yang sudah mengkristal dalam sapta marga, itulah yang perlu disenyawakan dalam diri setiap prajurit TNI ke depan,” kata dia.

Ia pun mengungkapkan kebanggaannya terhadap Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang dalam lintasan sejarah telah mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dari gangguan musuh.

“Kita juga bangga mengatahui bahwa profesionalitas TNI itu tidak kalah dibandingkan dengan militer negara-negara lain, maupun dari segi kecanggihan persenjataannya masih belum maju, namun dari sudut moril, profesionalitas TNI itu diakui oleh dunia,” ujar dia

Semantara itu, Ketua MUI Banten KH AM Romly mengatakan,  momentum perayaan HUT TNI yang tahun ini merayakan ke-72, TNI hendaknya terus meningkatkan profesionalismenya dan menyatukan diri dengan rakyat.

“Selamatkan NKRI yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 seraya merawat kebhinekaan,” kata KH AM Romly.

Ia berharap TNI dengan rakyat harus tetap menyatu dan tidak bisa dipisahkan karena TNI lahir dari rakyat. “TNI harus tetap menyatukan diri dengan rakyat. Karena TNI dan rakyat bagaikan ikan dan air,” katanya.

Presiden Joko Widodo dalam pidatonya menegaskan TNI harus bersatu dengan institusi lainnya.

Dalam sambutannya, Presiden memuji semangat anggota TNI yang mengabdi untuk bangsa dan negara.

“Pada kesempatan yang membanggakan ini, saya ingin menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya atas profesionalisme TNI yang terus meningkat, terima kasih yang sebesar-besarnya atas komitmen seluruh jajaran TNI dalam memegang teguh Sumpah Prajurit, terima kasih yang sebesar-besarnya atas dedikasi para prajurit dalam menjalankan tugas-tugas berat yang penuh risiko,” kata Presiden.

Kepala Negara mengatakan jati diri TNI, seperti yang dipesankan Jenderal Soedirman, semakin relevan bahwa politik TNI adalah mengutamakan negara dan loyalitas tentara untuk kepentingan bangsa.

Loyalitas bagi kepentingan bangsa dan negara berarti kesetiaan memperjuangkan kepentingan rakyat, menjaga kesatuan NKRI dan setia kepada pemerintahan yang sah.

Tema Peringatan HUT Ke-72 TNI Tahun 2017 adalah ‘Bersama Rakyat TNI Kuat’ yang bermakna kesadaran TNI yang bersumber dari rakyat, berbuat dan bertindak bersama rakyat menjadi modal utama TNI di dalam mengawal dan mengamankan kepentingan nasional menuju cita-cita bangsa.

About Abu Nisrina

Check Also

Tantangan Jurnalis Meliput Isu Agama di Indonesia

Satu Islam, Jakarta – Mayoritas penduduk Indonesia memeluk agama Islam. Dominasinya bahkan mencapai lebih dari …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *