Home / Nasional / Niat Ingsun Menjadi TKI di Malaysia, Tetapi Malah Dikirim ke Suriah

Niat Ingsun Menjadi TKI di Malaysia, Tetapi Malah Dikirim ke Suriah

Kedatangan para TKW di bandara Soekarno Hatta -bukan W yang jadi tokoh dalam laporan ini – Foto: KBRI Damaskus

Satu Islam, Jakarta – Niatnya ingin menjadi tenaga kerja Indonesia di luar negeri dengan tujuan Malaysia, akan tetapi malah terdampar di Suriah yang sedang berkecamuk dalam peperangan atas nama agama.

Tujuan W (47 tahun), wanita asal Banyuwangi Jawa Timur ini adalah negeri tetangga. Alasannya agar tidak jauh dari Indonesia. Biasanya, gaji yang ditawarkan juga cukup untuk biaya hidup keluarga di kampung halaman.

Pucuk Dicinta ulam pun tiba, harapan ingin mengubah hidup seakan mulai ada titik terang manakala datang sponsor yang menawarkannya membantu mewujudkan mimpinya itu untuk bekerja di Malaysia.

Singkat cerita W diberangkatkan oleh perusahaan jasa tenaga kerja Indonesia (PJTKI) ilegal menuju Malaysia. Belum sempat menjejakkan kaki di negeri jiran, perusahaan menawarkan W untuk bekerja di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab.

Sebagaimana diwartakan Republika, tawaran gaji Rp4,5 juta per bulan menarik minat W, untuk menjadi pekerja rumah tangga di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Penawaran itu ketika dia sudah meninggalkan kampung halamannya dan berada di Malang. PJTKI ilegal ini mengatakan W akan menggantikan TKI lain yang bekerja sebagai asisten rumah tangga di Abu Dhabi.

“Janjinya manis, gaji tinggi. Janjinya bukan Suriah tapi Abu Dhabi,” ujar W saat jumpa pers di Mabes Polri, Jakarta, Kamis 10 Agustus 2017.

Namun setahun kemudian ia justru berada di Damaskus, ibu kota Suriah yang tengah bertempur dengan ISIS. Janji PJTKI itu tidak pernah terwujud. W tidak tiba di Abu Dhabi melainkan di Damaskus Suriah yang sedang dilanda konflk.

“Saya tidak tahu kalau ternyata beda, saya dijanjikan ke Abu Dhabi, bukan ke Damaskus,” kata dia.

Awalnya, W tidak punya pikiran buruk ketika melakukan perjalanan ke Timur Tengah. W tidak mencurigai kendati dia harus melakukan beberapa kali transit dalam waktu yang tidak sebentar sebelum tiba ke tujuan.

Pertama, W diberangkat dari Jakarta menuju Batam. Kemudian, dia menyeberang ke Malaysia, Selanjutnya, dia harus transit di Yordania, dan Turki selama satu bulan. Kemudian, dia dikirim ke Beirut, Lebanon, selama satu pekan. “Selanjutnya diambil agent dibawa ke Damaskus,” kata dia.

Kala itu, W sudah menyadari bahwa PJTKI ilegal ini menipunya. Ia mengaku sempat bertengkar di Damaskus. “Saya sejak awal sudah merasa aneh, saya bilang bapak-bapak semua ini bohong,” kata dia.

Betapa pun, saat itu W belum berpikir melarikan diri. Sebuah agen TKI menempatkannya di sebuah rumah tangga, tempat ia sempat bekerja selama tiga bulan.

Namun, perwakilan agen yang menjemputnya di Damaskus berdalih. Dia pun mendebat bahwa PJTKI itu berbohong karena tidak ada pekerja yang bersedia ditempatkan di Suriah.  “Saya juga tidak mau dikirim ke sana karena janjinya kan ke Abu Dhabi,” kata dia dengan nada kecewa.

Menyadari dia tidak punya kekuatan dan lokasi yang jauh dari kampung halaman, W berusaha melakukan pekerjaannya mengurus satu keluarga di Damaskus. Padahal, upah yang didapatkannya hanya 200 dolar atau senilai Rp 2,6 juta rupiah. Gaji yang tidak sesui dengan janji pun menambah catatan baru perjalanannya di negara orang.

Sejak Mei 2016, kehidupannya memasuki drama baru yang dipenuhi rasa takut di negara orang. Dua bulan pertama di rumah itu, W mengaku menerima upah. Namun, katanya, kekerasan yang kerap dilakukan anak majikan membuatnya tidak kerasan.

Gaji bulan ketiga yang tak ia terima membulatkan tekadnya untuk pulang kampung. Konflik bersenjata yang pecah di Suriah pun akhirnya mendorongnya untuk melarikan diri ke kantor KBRI.

Ledakan bom semakin sering terdengar di Ibu Kota Suriah itu. Dalam satu pekan, W bisa mendengar dua kali ledakan. Ketika ledakan terjadi, pintu dan jendela ikut bergetar. W yang selalu dipenuhi rasa khawatir saat mendengarkan suara ledakan memilih untuk melarikan diri

“Saya takut perang dan suara bom setiap hari terdengar, pintu rumah bergetar. Itu bikin saya takut dan ingin kabur ke KBRI,” tuturnya.

Pada suatu hari pukul 04.00 dini hari waktu setempat, W meninggalkan rumah majikannya. Dia pergi dan mengadu ke KBRI di Damaskus, Sesampainya di KBRI, W (47) mengaku kaget karena ada banyak korban yang juga melarikan diri dari rumah majikan.

Sepuluh bulan kemudian, KBRI Suriah menerbangkannya ke Banyuwangi. Kepulangannya sempat terhambat surat izin meninggalkan Suriah dan tuduhan pencurian yang ditudingkan mantan majikannya.

W tidak lagi merasa sendiri. Ternyata apa yang dia alami juga dialami oleh TKI yang lain. “Mereka ada yang satu agen, ada yang beda-beda agen,” kata dia.

Ada agen PJTKI ilegal yang sudah tertangkap. “Tapi, agen saya malah belum kena (tertangkap), bapak polisi memang minta alamat detailnya ke saya, mau dikejar. Namanya ibu Evi dari Lombok,” ungkap W.

Kepala Badan Reserse Kriminal Polri Komjen Ari Dono Sukmanto menyebut nasib W juga dirasakan setidaknya ratusan perempuan Indonesia lain yang tertipu agen penyalur TKI ilegal. Agen-agen tersebut tak memegang izin dan menyalahi moratorium pengiriman TKI ke-21 negara di Timur Tengah.

Penyidik Bareskrim Polri menangkap dua pelaku tindak pidana perdagangan orang (TPPO) ke Suriah. Tersangkanya bernama Pariati dan Baiq Hafizah alias Evi.

Dua perempuan yang kini dijerat pidana perdagangan orang itu, kata Ari, diduga telah mengirimkan ratusan calon TKI dari NTB melalui Batam dan Malaysia, selama 2014 hingga 2017.

Ari menyebut satu dari sekian korban itu merupakan anak perempuan berusia 14 tahun. Dua tersangka itu memalsukan identitas anak itu menjadi berusia 19 tahun agar dapat diterbangkan ke Damaskus sebagai TKI.

“Keuntungan yang didapatkan jaringan itu Rp10-15 juta per satu calon TKI atau mencapai ratusan juta rupiah selama tiga tahun terakhir,” kata Ari.

Praktik perdagangan orang dengan modus pemberangkatan tenaga kerja ke luar negeri ini dilakukan oleh kedua tersangka sejak September 2014 hingga Desember 2016. Pariati (51 tahun) berperan sebagai perekrut calon TKI, sedangkan Baiq alias Evi (41 tahun) diduga sebagai penghubung jaringan Fadi di Malaysia.

Saat ini Polri bekerja sama dengan kepolisian Malaysia untuk menangkap Fadi, seorang warga Irak yang menampung dan mengirimkan calon TKI ke Timur Tengah.

Jaringan ini diduga telah mengirimkan ratusan TKI dari Lombok, NTB ke Damaskus melalui jalur Malaysia secara ilegal. Dalam menjalankan aksinya, para pelaku memalsukan identitas para korbannya, termasuk nama, dan tahun lahir. Sebagian besar korban masih berusia anak-anak, antara 14 sampai 19 tahun.

Kasus itu terkuak setelah korban mengalami penyiksaan selama bekerja dan melarikan diri ke KBRI Suriah di Damaskus. Dalam pengungkapan kasus ini, polisi menyita sejumlah barang bukti di antaranya sebanyak 18 paspor, dua buku tabungan, satu bundel catatan keuangan, satu buku yang berisi catatan keuangan, dan bundel formulir pendaftaran calon TKI, dan tiga ponsel.

Atas perbuatannya, kedua tersangka diancam melanggar Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO). Selain itu, kedua tersangka juga dikenai pelanggaran UU Nomor 39 tahun 2004 tentang Penempatan dan Perlindungan TKI di Luar Negeri dan UU Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak.

About Abu Nisrina

Check Also

Saat Salat Jumat, Polwan Polres Bekasi Gantikan Peran Polki

Satu Islam, Bekasi – Setiap hari Jumat, Polisi Wanita (Polwan) anggota Polrestro Bekasi Kota, melakukan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *