Home / Nasional / Menyucikan Benda Pusaka di Bulan Bersuci

Menyucikan Benda Pusaka di Bulan Bersuci

Gus Anton Lukman Hakim

Satu Islam, Kediri – Tak ada kesan mistis d dalam ruang tamu berukuran sekitar 5×10 meter milik kediaman Gus Anton Lukman Hakim (48) di Desa Kolak Kecamatan Ngadiluwih Kediri. Tampak deretan buku yang tersusun rapi di dalam lemari yang cukup besar dan deretan foto ulama terpasang di dinding.

Di salah satu sudut ruang itu beberapa deret pusaka keris dan tombak diletakkan di bawah menunggu untuk dijamas (dicuci). Entah siapa saja pemilik deretan pusakan yang lengkap dengan warangkanya (rumah penutup).

Tampak dua orang laki-laki sedang menunggu di ruang tamu  sembari sesekali menghisap rokok dan menyeruput kopi yang disediakan tuan rumah .

“Maaf Gus, kedatangan saya ke sini untuk menyucikan keris dan tombak warisan dari almarhum bapak saya,” kata salah satu laki-laki itu sembari mengeluarkan enam pusaka berupa 5 keris dan 1 tombak ketika Gus Anton menemui mereka.

Di bulan Suro atau Muharram banyak orang yang menyucikan pusaka kepadanya. Selalu ada saja orang yang datang kepadanya untuk menyucikan benda-benda yang dikeramatkan oleh masyarakat Jawa itu.

“Pada bulan-bulan selain Suro juga ada orang yang meminta menyucikan pusaka tapi umumnya pada bulan Suro begini,” terang Gus Anton kepada Satu Islam

Berbagai macam tujuan orang menyucikan keris. Ada yang sekedar memenuhi wasiat leluhurnya, ada pula agar keris itu keluar pamor (gambar yang berbentuk ukiran) dan bersih dari karat. Bahkan ada yang tujuannya karena alasan mistis.

Mengenai relasi menyucikan pusaka, utamanya keris dengan bulan Suro, Gus Anton menjelasakan, bahwa masayarkat Jawa meyakini bulan tersebut merupakan  bulan penyucian lahir dan batin. Karena itu segala lelaku tirakat yang tujuannya untuk penyucian batin afdolnya dilakukan pada bulan Suro.

“Karena bulan Suro itu bulan penyucian, maka upaya penyucian benda-benda yang dikeramatkan itu dilakukannya pada bulan Suro pula,” kata Gus Anton sembari memperhatikan secara seksama salah satu keris yag berada di dalam genggamannya.

Begitu sucinya bulan Suro masyarakat Jawa meyakini segala perbuatan yang bernuansa pesta atau bersenang-senang  pantang untuk dilakukan. Bahkan bila ada yang melakukan akan mendapatkan bala atau bencana.

“Bila dihubungkan ke agama Islam banyak peristiwa penting yang terjadi di bulan Suro atau Muharram, salah satunya peristiwa terbunuhnya cucu Kanjeng Nabi yaitu Sayyidina Husein,” kata Gus Anton.

Di tengah pembicaraan itu, tampakseorang tamu sedang meminta tolong kepada Gus Anton . Beberapa saat setelah Gus Anton keluar dari ruangan tengah ia menemui laki-laki yang sudah tidak muda lagi. Gus Anton memberikan sesuatu berupa bungkusan kepada tamunya.

Kata teman yang menyertai Satu Islam, banyak orang yang bertamu ke Gus Anton untuk meminta amalan, jimat, penglarisan, bahkan ada yang meminta ilmu kekebalan. Dari berbagai keterangan, ia mewarisi ilmu-ilmu itu dari almarhum ayahnya.

Sepeninggal tamu itu undur diri dari kediamannya, pengasuh Ponpes Chaqullah melanjutkan penjelasannya mengenai hubungan penyucian pusaka dengan bulan Suro. Dengan serius laki-laki berambut gondrong mengenakan sarung dan bersongkok sebagaimana lazimnya Gus (putra kiai) itu menerangkan apa yang dia ketahui.

“Sebenarnya bulan Suro ini tidak identik dengan penyucian benda pusaka atau penyucian diri saja, lebih dari itu, bulan tersebut juga untuk menyucikan berbagai entitas. Makanya bersih desa itu dilakukan pada bulan Suro pula,” terangnya.

Dua tamu yang menyucikan pusaka itu undur diri ketika jeda penjelasan yang diberikan Gus Anton . Suasana yang sebelumnya serius menjadi lebih cair, apalagi ketika Gus Anton mengatakan tidak menjajikan waktu penyelesaian pekerjannya. Dua tamu itu menawar agar disegerakan penyelasaian penyucian benda-benda pusakanya sembari berkelakar. Gus Anton dengan senyum menjawab bahwa banyak pusaka yang harus dikerjkannya.

“Garapan saya banyak sekali ini,” kata Gus Anton. Ia pun melanjutkan obrolannya.

“Dalam unsur material keris itu terdapat berbagai macam jenis besi yang dicampur-campur,” lanjutnya.

Menurutnya, sang empu pembuat keris itu sarjana besi pada jaman dahulu. Empu memiliki kemampuan mengetahui karakteristik setiap jenis besi dan energi positif atau energi negatif yang dikandungnya. Bila dicampur akan mengasilkan kekuatan tertentu dan memiliki energi tertentu. Bahkan pencampuran itulah akan membentuk pamor karena perbedaan warna antara unsur besi satu dengan lainnya.

“Ketika dicuci menggunakan arsenik yang diistilahkan warang maka pamornya keluar. Kalo penyucian biasa yang diistilahkan pemutihan hanya menghilangkan karat yang menempel pada keris itu,” terangnya.

Catatan mengenai ragam besi, lanjut  Gus Anton dilakukan oleh Ronggowarsito, pujangga Keraton Surakarta pada abad 19. Dari catatan itu, pengetahuan besi yang digunakan untuk membuat keris tidak hanya pada penempaan besinya saja, tetapi juga pembedaan senyawa besi satu dengan lainnya.

“Ada 12 jenis besi menurut catatan Ronggowarsito,” katanya.

Gus Anton pun mengutip Alquran dalam surah Al Hadid ayat 25 ketika menjelaskan kekuatan besi dan jenis-jenisnya.  Menurutnya kitab suci Alquran telah memberikan petunjuk kepada manusia akan manfaat besi.

لَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَأَنْزَلْنَا مَعَهُمُ الْكِتَابَ وَالْمِيزَانَ لِيَقُومَ النَّاسُ بِالْقِسْطِ وَأَنْزَلْنَا الْحَدِيدَ فِيهِ بَأْسٌ شَدِيدٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ وَرُسُلَهُ بِالْغَيْبِ إِنَّ اللَّهَ قَوِيٌّ عَزِيزٌ (٢٥)

Artinya: Sungguh, Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan bukti-bukti yang nyata dan Kami turunkan bersama mereka kitab dan neraca (keadilan) agar manusia dapat berlaku adil. Dan Kami menciptakan besi yang mempunyai kekuatan hebat dan banyak manfaat bagi manusia, dan agar Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)-Nya dan rasul-rasul-Nya walaupun Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Mahakuat lagi Mahaperkasa.

Terkait dengan aspek mistis yang diyakini masyarakat Jawa pada pusaka, Gus Anton menjelaskan bahwa karena pencampuran kesenyawaan jenis besi itu mengahasilkan kekuatan dan energi tertentu, dan pemberian istilah yang tidak dimengerti masyarakat awam, maka benda-benda pusaka itu dikeramatkan.

“Saat itulah jin tertarik untuk menempel pada pusaka. Penyucian pusaka diantaranya untuk membersihkan energi negatif jin dari pusaka melalui ritual dalam penyucian,” jelasnya mengakhiri obrolan sore itu.

About Abu Nisrina

Check Also

Tantangan Jurnalis Meliput Isu Agama di Indonesia

Satu Islam, Jakarta – Mayoritas penduduk Indonesia memeluk agama Islam. Dominasinya bahkan mencapai lebih dari …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *