Home / Nasional / Menag: Perlu Kerendahan Hati dengan yang Memiliki Tafsir Berbeda dalam Beragama

Menag: Perlu Kerendahan Hati dengan yang Memiliki Tafsir Berbeda dalam Beragama

Menag Lukman membuka Seminar Penanggulangan Radikalisme dan Intoleransi melalui Bahasa Agama di Yogyakarta. – Foto: mudanews.com

Satu Islam, Yogyakarta – Ditjen Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama bersama dengan Panitia Milad ke-65 Masjid Syuhada Yogyakarta menggelar Penanggulangan Radikalisme dan Intoleransi. Seminar yang bertema ‘Penanggulangan Radikalisme dan Intoleransi Melalui Bahasa Agama’ ini  diselenggarakan digelar di Eastparc Hotel Jalan, Laksda Adisucipto KM 6,5 Yogyakarta, Sabtu 23 September 2017.

Acara ini dihadiri oleh Menteri Agama RI, Lukman Hakim Saifuddin, Dirjen Bimas Islam Muhammadiyah Amin, Kakanwil Kemenag DIY Muhammad Lutfi Hamid, Kepala Dinas Sosial DIY Untung Sukaryadi, pengasuh pondok pesantren Nurul Ummahat Kotagede KH Abdul Muhaimin dan ratusan hadirin.

Menteri Lukman saat membuk seminar itu  mengatakan, sebagai umat Islam harus meyakini bahwa agama dipeluk, adalah agama yang paling benar. “Akan tetapi, keyakinan itu jangan sampai membuat kita menilai agama lain salah, dan memaksa saudara kita yang berbeda dengan kita, harus seperti kita. Inilah bibit radikalisme dalam arti negatif dan ekstrimis tumbuh,” tutur Menag.

“Untuk itu, kita dituntut untuk rendah hati, untuk bisa membuka sedikit ruang toleransi dengan saudara-saudara kita yang mempunyai tafsir dan cara pandang yang tidak sama dengan kita,” lanjutnya.

Menurut Menag, Allah adalah Dzat yang Maha Sempurna, tidak terbatas. Sedang manusia adalah makhluk yang terbatas. Ketika manusia akan menafsirkan kehendak Allah yang tertulis dalam Al-Quran, maka makhluk yang terbatas tidak akan mampu memahami secara komprehensif maksud dari Yang Maha Tidak Terbatas.

“Kita hanya berupaya semaksimal mungkin, berupaya sesempurna mungkin. Karenanya, wajar jika kemudian muncul banyak tafsir. Kita harus rendah hati dan mengakui keterbatasan kita,” ujar Menag.

Dari sikap rendah hati tersebut, Menag mengajak untuk untuk terus memelihara, menjaga, dan merawat kehidupan berbangsa dan bernegara. Menurutnya, masyarakat Indonesia terlahir dalam keadaan berbeda, sehingga Indonesia tumbuh sebagai bangsa yang majemuk.

Masyarakat Indonesia juga dikenal sebagai umat yang religius di mana agama mempunyai tempat istimewa sejak ratusan tahun lalu. Menag berharap keyakinan keberagaman yang kuat menjadi pondasi dalam merawat kemajemukan bangsa.

Dirjen Bimas Islam Muhammadiyah Amin mengatakan, seminar digelar sebagai bentuk langkah pro aktif Pemerintah dalam meminimalisir gesekan dalam keberagaman di masyarakat. Menurutnya, gesekan dalam keberagamaan jika tidak diantisipasi bisa menjadi ancaman serius dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

About Abu Nisrina

Check Also

Tantangan Jurnalis Meliput Isu Agama di Indonesia

Satu Islam, Jakarta – Mayoritas penduduk Indonesia memeluk agama Islam. Dominasinya bahkan mencapai lebih dari …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *