Home / Nasional / Menag: Nilai Agama Perajut Keragaman

Menag: Nilai Agama Perajut Keragaman

Menag-di-cilangkap
Menag saat memberikan sabutan pada acara Haflatut Tasyakur Akhir Sanah Pondok Pesantren Al Hamid, Cilangkap, Cipayung, Jakarta Timur – Foto: Kemenag.go.id

Satu Islam, Cilangkap –  Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin menyampaikan bahwa perajut dari semua keragaman di Indonesia, mulai dari budaya, etnis dan ras adalah agama. Hal itu disampaikan Menag saat memberikan sabutan pada acara Haflatut Tasyakur Akhir Sanah Pondok Pesantren Al Hamid, Cilangkap, Cipayung, Jakarta Timur, Tahun Pelajaran 2014/2015, Sabtu 6 Juni 2015.

“Pesantren banyak memberikan andil terhadap kemerdekaan Indonesia, maka dari itu pesantren adalah lembaga pendidikan yang khas Indonesia,” papar Menag.

Bahkan, lanjut Menag, di Timur Tengah sekalipun, kita tidak akan mendapatkan model pesantren yang begitu banyak tersebar di bumi nusantara. “Di sinilah kearifan orang tua terdahulu yang telah mampu dan berhasil memadukan nilai-nilai ajaran Islam ke dalam budaya yang berkembang di nusatara sejak ratusan tahun lalu, seperti hal nya yang dikembangkan oleh Walisongo,” urai Menag.

Bagi Menag, yang khas dari pesatren adalah tidak ada sedetikpun kegiatan yang tidak mengandung pendidikan. Pesantren sejak dulu kala menerapkan sistem, apa yang didengar, apa yang dirasakan, apa yang dilakukan dan apa yang difikirkan, apa yang kita mimpikan, selalu mengandung nilai pendidikan.

Menag menambahkan bahwa nilai agama tidak bisa dipisahkan dari kemasyarakatan dan pemerintahan kita. Ini bisa dilihat dalam rumusan pancasila dan UUD 1945 yang juga merupakan kandungan dari nilai-nilai agama. “Kita adalah negara yang memposisikan nilai agama pada posisi yang strategis. Nilai agama banyak mewarnai pemerintahan kita Indonesia,” katanya.

“Apapun etnis kita dibelahan Indonesia ini, selalu menjunjung tinggi nilai keagamaan,” tambahnya.

Menag juga melihat berbagai konflik yang terjadi di Indonesia itu bukan merupakan konflik agama. “Bagaimana mungkin agama yang memanusiakan manusia, untuk mensejahterakan kita semua, tidak masuk akal sama sekali, jika justru agama menjadi isu konflik,” jelasnya.

“Pandangan saya tidak ada konflik agama. Yang ada hanyalah kepentingan politik, kepentingan ekonomi, kepentingan hukum, dan kepentingan lain, yang menggunakan agama sebagai landasan pijak, sebagai alat pembenar dalam menghadapi konflik yang pada hakikatnya konflik kepentingan,” tambahnya.

Di mata Menag yang juga alumni pesantren Gontor, pesantren telah mampu mengajarkan nilai-nilai Islam yang memanusiakan manusia, Islam yang moderat, terbuka, penuh toleransi, menjunjung nilai tasamuh, bukan tatorruf (ekstrim). Menurutnya, Islam masuk ke Indonesia penuh kedamaian. Tidak ada setetespun darah tumpah saat Islam masuk ke daerah di seluruh Indonesia. Untuk itu, Menag berharap, pesantren bisa menjadi garda terdepan untuk merespon perkembangan global saat ini.

Sebelumnya pengasuh pondok pesantren Lukman Hakim Al Hamid menyampaikan bahwa pesantren yang berdiri sejak tahun 2002 itu sudah banyak meluluskan santri-santri hebat. Pada acara kali ini, pesatren mewisuda sebanyak 162 santri dari MTs dan MA. Tampak hadir dalam acara para pendidik atau guru, alim ulama, jajaran Kankemenag DKI Jakarta, wali santri, dan seluruh santri pondok pesantren Al Hamid.(Kemenag.go.id)

About Abu Nisrina

Check Also

Forum Umat Islam Semarang Batalkan Aksi Demostrasi Tolak Perppu Ormas

Satu Islam, Semarang – Forum Umat Islam Semarang (FUIS) batalkan aksi demostrasi penolakan Peraturan Pemerintah …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *