Home / Nasional / Kongres Umat Islam Mengundang Syiah, Menolak Ahmadiyah

Kongres Umat Islam Mengundang Syiah, Menolak Ahmadiyah

369188_620
Wakil Presiden Jusuf Kalla didampingi Gubernur DIY Sri Sultan Hamengkubuwono X, Menteri Agama Lukman Hakim, Ketua Umum MUI Dien Syamsuddin, dan wakil ketua MPR Hidayat Nur Wahid saat pembukaan Kongres Umat Islam Indonesia VI di Bangsal Pagelaran, Keraton Yogyakarta, 9 Februari 2015. – Foto : Tempo/Suryo Wibowo

Satu Islam, Yogyakarta – Kongres Umat Islam VI yang digelar di Yogyakarta bertujuan menjadi ajang silaturahmi antarmuslim di Indonesia. Namun pertemuan yang berlangsung 8-11 Februari 2015 itu ternyata tak mengundang jemaah Ahmadiyah.

Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Din Syamsuddin, beralasan, tidak diundangnya Ahmadiyah karena MUI menyatakan Ahmadiyah dinyatakan di luar akidah islamiah.

“Ahmadiyah sudah dinyatakan di luar akidah islamiah oleh MUI,” Din seusai pembukaan di Pagelaran Keraton Yogyakarta, Senin, 9 Februari 2015.

Sementara itu untuk kelompok Islam Syiah, dia mengatakan pihaknya mengundang perwakilannya untuk hadir dalam KUI. Sayang, sampai saat ini pihaknya belum mendapat kepastian apakah ada perwakilan dari Syiah yang datang atau tidak.

“Syiah kita undang tapi mungkin sedang ada masalah-masalah di dalam, jadi belum ada yang datang. Kita tidak tahu siapa nanti yang datang,” ujarnya.

Din mengatakan peserta kongres dinilai cukup mewakili kelompok-kelompok di dalam Islam. Ada kriteria tertentu peserta kongres dan mereka merupakan pimpinan pada organisasi Islam. Menurut dia, kongres ini tak mungkin mengundang semua elemen kelompok Islam. “Kalau mau diundang semua, bisa ribuan jumlahnya,” katanya.

Wakil Presiden Jusuf Kalla yang membuka kongres ini mengatakan, dari 250 juta jiwa penduduk Indonesia, 220 juta jiwa di antaranya penganut Islam. Tak mudah berbicara atas nama Islam di Indonesia karena banyak perbedaan aspirasi, pandangan, dan budaya. Namun ia yakin kongres ini akan memberikan jalan terbaik jika berbicara dengan baik.

Cendekiawan muslim Azyumardi Azra mengatakan peserta kongres ini memang didominasi oleh kelompok arus utama Islam di Indonesia. Misalnya saja, Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama. Adapun kelompok “sempalan”, seperti Ahmadiyah, tidak ada. “Ahmadiyah, ya, enggak karena MUI sudah keluarkan fatwa sesat,” katanya.

Meski demikian, ia mengatakan, kongres ini berupaya menemukan bahwa komitmen Islam di Indonesia adalah Islam moderat. Islam ini adalah Islam yang menolak kekerasan. Islam moderat juga Islam yang ramah terhadap budaya lokal. “Atau seperti dalam forum ini, laki dan perempuan tidak dipisah,” katanya.

Model Islam moderat Indonesia, kata dia, merupakan percontohan Islam moderat di negara-negara lain. Model ini bisa menjadi kontribusi Islam Indonesia untuk dunia.

About Abu Nisrina

Check Also

Polda Metro Larang Acara Internasional Khilafah Forum

Satu Islam, Jakarta – Polisi melarang adanya kegiatan Internasional Khilafah Forum 1438 Hijriah yang sedianya …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *