Home / Nasional / Kisah Jenderal Soedirman dan Keris Saktinya

Kisah Jenderal Soedirman dan Keris Saktinya

Satu Islam, Jakarta – Bila memperhatikan tubuhnya yang kurus kering, sakit-sakitan, wajah pucat karena kurang istirahat, pihak pemerintah Belanda tak pernah mengira bila lelaki berpangkat jenderal  ini mampu membuat pasukan Belanda kalang-kabut.

Betapa tidak, operasi pengejaran Sudirman yang dilakukan Belanda selalu gagal. Dalam kondisi sakit-sakitan dengan ditandu prajuritnya yang setia, ia bergerilya hingga ke Gunung Wilis Kediri dengan mendaki bukit, menembus belantara, menghadang tanah tandus berbatu, untuk menghindari serbuan Belanda tanpa henti.

Bagi sebagian rakyat Indonesia, Jenderal Soedirman dianggap memiliki ilmu kesaktian. Keajaiban dan kejadian-kejadian mistis senantiasa melingkupi perjalanan gerilya Panglima Besar Jenderal Sudirman ini. Dalam perjalanan gerilyanya ia senantiasa memaki keris.

Tempo mengisahkan ketika di Desa Bajulan, Nganjuk, Jawa Timur, pesawat Belanda yang sedang mencari para gerilyawan dan bisa tiba-tiba memuntahkan bom atau peluru. Tapi sang Jenderal dari Banyumas ini tetap saja lolos.  Saat itu, penduduk kampung yang tengah berada di sawah, halaman, dan jalanan itu panik masuk ke rumah atau bersembunyi ke balik pepohonan karena bereliwerannya desing pesawat Belanda dan bom yang dijatuhkan.

Letnan Kolonel Simon Spoor tak pernah mengira bila setelah menduduki Yogyakarta, kemudian menawan para pemimpin republik, negara yang bernama Indonesia itu dengan sendirinya akan lumpuh. Satu hal yang luput dari perhatiannya adalah kekuatan tentara yang ternyata masih tetap ada dan kuat. Ia pun mengejar Sudirman yang memimpin tentara dari medan gerilya. Keadaan ini membuat Sudirman semakin kepayahan, sebab disamping kesehatannya yang terus menurun karena tidak diobati secara optimal, ia pun harus terus-menerus bergerak siang dan malam, menghindari kejaran musuh.

 

Selama lima hari di Bajulan, tak sekali pun Belanda menjatuhkan bom atau menembaki penduduk. “Itu berkat keris dan doa-doa,” kata Jirah 16 tahun, seorang perempuan warga Bajulan yang mengintip dan menguping pembicaraan antara sang Jenderal dengan Pak Kedah yang merupakan ayah angkatnya.

Soedirman seolah-olah tahu tiap kali Belanda akan datang mencarinya. Karena itu, operasi Belanda mencari buron nomor wahid tersebut selalu gagal. Soedirman terkenal punya firasat dan perhitungan jitu semasa bergerilya. Anak bungsunya, Mohamad Teguh Sudirman, mendengar banyak cerita ”kesaktian” ayahnya. Teguh lahir pada 1949 ketika ibunya bersembunyi di Keraton Yogyakarta saat ayahnya bergerilya. Dia tak sempat bertemu dengan ayahnya, yang meninggal dua bulan setelah ia lahir, dan hanya mendengar kisah Soedirman dari sang ibu, Siti Alfiah.

Saat Sudirman kembali ke Yogyakarta, rakyat menyemut di pinggir jalan menyambut. Air mata jadi saksi bagaimana lelaki kurus pengidap TBC akut itu telah gemilang mempertahankan martabat negeri. Ia berhasil mengusir berbagai aral rintang, tapi tak berhasil mengusir penyakit TBC yang bersarang di tubuhnya.

Ceritanya ketika Soedirman sampai di Gunungkidul. Ia tak mengizinkan pasukannya beristirahat lama-lama. Benar saja, beberapa saat kemudian, pasukan Belanda tiba di lokasi peristirahatan pasukannya. Jika Soedirman, yang dalam sakit bengek dan tubuh rapuh, tak segera meminta mereka jalan lagi, pertempuran tak akan bisa dihindari. “Dan bisa jadi pasukan Bapak kalah,” kata Teguh.

Soedirman, yang selalu menyamar sepanjang gerilya, juga kerap diminta mengobati orang sakit. Di sebuah desa di Pacitan, Teguh bercerita, Soedirman dan pasukannya kelaparan karena tak menemukan makanan berhari-hari. Mau meminta kepada warga desa, takut ada mata-mata Belanda. Saat rombongan ini beristirahat, seorang penduduk menghampiri mereka dan meminta air mantra untuk kesembuhan istri lurah di situ.

Sang Panglima mengambil air dari sumur, lalu meniupkan doa. Ajaib, istri lurah yang terbaring payah itu bisa bangun setelah minum. Pak Lurah pun menyilakan Soedirman dan anak buahnya beristirahat. Ia menjamunya dengan pelbagai makanan. “Baru setelah itu Bapak mengenalkan diri,” kata Teguh.

Akan halnya keris milik Soedirman, Jirah menceritakan tentang apa yang ia saksikan di rumahnya mengenai kesaktian keris sang Jenderal. Saat itu, lelaki pemakai beskap yang oleh semua orang dipanggil ”Kiaine” atau Pak Kiai itu mengeluarkan keris dari pinggangnya.

Keris itu perlahan miring, lalu jatuh ketika bunyi pesawat menjauh. Kiaine menyarungkan keris itu lagi dan para pendoa meminta undur diri dari ruang tamu. Kepada Jirah, seorang pengawal Kiaine bercerita bahwa keris dan doa itu telah menyamarkan rumah dan kampung tersebut dari penglihatan tentara Belanda.

Suatu ketika tentara gerilyawan Soedirman terpojok, nyaris tak ada celah meloloskan diri dari kepungan pasukan Belanda. Soedirman tiba-tiba mencabut keris itu dan mengarahkannya ke langit. Tiba-tiba awan hitam bergulung-gulung, petir dan angin menghantam-hantam. Hujan lebat pun turun dan membuyarkan kesolidan pengepungan Belanda dan pasukan Soedirman selamat.

Menurut Mohamad Teguh Sudirman, keris milik ayahandanya itu pemberian seorang kiai di Pacitan yang tak disebut namanya. Lalu dimana keris itu sekarang?

Menurut penuturan Teguh, keris itu ditinggalkan Soedirman di rumah penduduk. Beberapa tahun setelah Soedirman meninggal pada 1950, Panglima Kodam V Brawijaya Kolonel Sarbini datang ke rumahnya di Kota Baru, Yogyakarta, ditemani seorang petani.

Sarbini bercerita kepada ibunya, Siti Alfiah, petani itu hendak mengembalikan keris Soedirman.Oleh keluarga, keris itu dititipkan di Museum Soedirman di Bintaran Timur, Yogyakarta. Sayangnya menurut Teguh, keris itu kini menghilang entah kemana.

Suatu ketika, seorang prajurit Soedirman heran menganai kesaktian yang dimiliki Soedirman dan menanyakan jimat sang Jederal. Diluar dugaan Soedirman memberikan jawaban yang mengejutkan.

“Saya punya tiga jimat. Jimat pertama, Saya tidak pernah lepas dari bersuci; kedua, saya selalu shalat tepat waktu; ketiga saya setiap bertindak selalu ikhlas untuk kepentingan rakyat bukan kepentingan pribadi, golongan maupun partai,” katanya.

About Abu Nisrina

Check Also

Tantangan Jurnalis Meliput Isu Agama di Indonesia

Satu Islam, Jakarta – Mayoritas penduduk Indonesia memeluk agama Islam. Dominasinya bahkan mencapai lebih dari …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *