Home / Nasional / Kang Said: Selamatkan Demokrasi, Perkuat Kewarganegaraan

Kang Said: Selamatkan Demokrasi, Perkuat Kewarganegaraan

20150426-said-agil-siradj
KH. Dr. Said Aqil Siradj

Satu Islam, Jakarta – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH. Dr. Said Aqil Siradj berpendapat masalah kewarganegaraan dalam rakyat Indonesia harus terus ditingkatkan mutunya.

“Untuk menjadi bangsa demokrasi yang kokoh maka dibutuhkan kewargaan dan kewarganegaraan yang bermutu. Partisipasi dalam pembangunan di segala bidang melalui musyawarah atau deliberasi menjadi penting. Pejabat negara perlu memberikan teladan dengan tindakan konkret menegakkan hukum, memeratakan ekonomi, menyediakan keyamanan hidup dengan jaminan keamanan, dan tentu saja menyejahterakan rakyatnya,” tutur Kang Said saat ditemui oleh Satu Islam di Stasiun Cirebon, Sabtu 9 Mei 2015.

Kang Said menilai, selama ini  warga, atau dalam konsepsi keilmuan politik yang disebut civic belum begitu menampakkan hasil menjadi citizenship. Sebab menurutnya, masyarakat belum merasakan apa untungnya menjadi warga negara.

“Warga belum merasa memiliki kepemimpinan, bahkan sering belum merasa memiliki negara dalam artian yang melindungi, terlayani, dan hak-haknya di jamin. Moto kami melayani Anda itu masih label. Karena itulah warga Indonesia juga belum merasakan adanya civic-nasionalism-nya. Merasakan menjadi bangsa paling-paling saat tim nasional sepakbola bertanding,” ujarnya tertawa.

Terkait dengan demokrasi yang belum menyejahterakan rakyat dan hal tersebut terkait dengan umat Islam di Indonesia, Kang Said menyatakan agar kewargaan (civic) harus diterapkan dalam konteks nilai esensial, bukan label.

“Dalam Islam misalnya, konsepsi muwatonah atau istilah akademiknya Civic-Islam misalnya, penting memilih jalur dengan menekankan nilai-nilai kemajuan dalam diri manusia seperti kapasitas, profesionalitas, etos, etik, dan karakter. Nilai itu lebih penting dari pada label. Karena itu Civic-Islam juga harus menuju ke arah pembangunan manusia yang sadar sosial-politik dengan lepas label,” jelasnya.

Hal tersebut menurut Kang Said perlu ditekankan karena dalam ajaran Islam, urusan politik tidak detail membakukan secara eksak urusan-urusan kemasyarakatan. “Islamnya penting sebagai nilai, identitas (Islam)nya tidak penting. Karena itu, civic yang kita inginkan adalah civic yang bernafaskan kemajemukan, keadilan, kesetaraan, kesejahteraan dan meningkatkan derajat martabat hidup manusia yang manusia itu selalu menuju pada upaya untuk kemanusiaan dan rahmat semesta alam,” pungkasnya. (Satar.S)

About Abu Nisrina

Check Also

Mau Ubah Pancasila? Hadapi Dulu NU!

Satu Islam, Sumedang – PCNU Sumedang menyatakan sikap, bagi siapa saja yang mencoba ingin mengubah …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *