Home / Nasional / Kala Haji Misbach Menyerang Muhammadiyah

Kala Haji Misbach Menyerang Muhammadiyah

Tokoh muslim komunis, Haji Misbach. – Foto: Sabit/Tirto.id

Satu Islam, Jakarta – Para peneliti sejarah, pustakawan, kerani buku, akademisi, atau para jurnalis senior di negeri ini tentu mafhum siapa sosok Haji Misbach. Ia yang di kenal sebaga ‘Haji Merah’ merupakan juragan batik asal Kauman, Solo. Namanya Darmodiprono, namun selepas naik haji, ia mengubah namanya menjadi Misbach.

Pada tahun 1920-an, ketika benih marxisme mulai masuk ke Indonesia, yang menyebarkannya ke bumi rakyat adalah para Haji. Mereka mengibarkan panji-panji “Islam Komunis”. Ia menjadi penggerak Islam kiri di Pulau Jawa.

Langkah pertama Haji Misbach terjun ke medan pergerakan dengan cara bergabung dalam Inlandsche Journalisten Bond (IJB), organisasi pers bumi putra pertama yang didirikan oleh Mas Marco Kartodikromo (1914).

Lewat IJB ini, Misbach berkenalan dengan Haji Fachrodin dari Kauman, Yogyakarta. Kebetulan, keduanya sama-sama pedagang batik. Keduanya juga sama-sama berasal dari keluarga pejabat Kraton. Sama-sama berasal dari Kauman, tetapi beda tempat. Kedua putra Kauman (beda tempat) ini bersama-sama menerbitkan majalah Medan-Moeslimin (1915) dan Islam Bergerak (1917) sebagai corong perlawanan atas penindasan kolonial Belanda.

Hubungan Misbach dengan Muhammadiyah tatkala dia bersam dan Fachrodin bersama-sama menerbitkan majalah Medan-Moeslimin (1915) yang berada di bawah organisasi Sidik Amanah Tableg Vathonah (SATV). Sosok Kyai Ahmad Dahlan ditempatkan sebagai kontributor resmi Medan-Moeslimin untuk wilayah Yogyakarta. Sejak tahun 1915-1919, hubungan antara Muhammadiyah dengan SATV sangat harmonis, saling mengisi. Kyai Dahlan sering diundang ke Solo, di rumah Kyai Mochtar Boechari, mengisi pengajian forum SATV.

Kala itu, Kyai Haji Ahmad Dahlan dan Muhammadiyah bermitra cukup dekat dengan Sarekat Islam (SI) pimpinan Tjokroaminoto, begitu pula Misbach dan Fachrodin. Ketika Tjokroaminoto membentuk Tentara Kandjeng Nabi Mohammad (TKNM) sebagai wujud protes terhadap kasus penistaan agama oleh Martodharsono dan Djojodikoro pada 1918, Misbach turut di dalamnya.

Misbach kemudian bahkan mendirikan laskarnya sendiri yang diberi nama Sidik, Amanah, Tableg, Vatonah (SATV) untuk mendampingi TKNM. Selain itu, ia menyebar seruan tertulis untuk menyerang Martodharsono dan Djojodikoro (Parakitri Simbolon, Menjadi Indonesia: Akar-akar Kebangsaan Indonesia, 1995:573).

Retaknya hubungan harmonis SATV dengan Muhammadiyah dimulai ketika Haji Misbach masuk bui pada tahun 1920. Misbach ditangkap tentara kolonial karena ia menjadi provokator kerusuhan  dan pemogokan buruh tebu di Klaten (desa Nglungge).

Sebagaimana diwartakan oleh tirto.id , a walnya TKNM menggagas aksi bela Islam sekaligus menggalang pengumpulan dana di Surabaya pada 6 Februari 1918, yang kemudian berlanjut ke kota-kota lainnya, kurang lebih 42 tempat di Jawa dan Sumatera (Taufik Rahzen, Tanah Air Bahasa: Seratus Jejak Pers Indonesia, 2007:32).

Aksi tersebut berhasil menghimpun ratusan ribu peserta dan terkumpulnya dana lebih dari 10.000 gulden. Setelah itu, terjadilah pertikaian antara Tjokroaminoto dengan rekannya sesama petinggi CSI, Haji Hasan bin Semit, terkait dugaan penggelapan uang TKNM (Suryana Sudrajat, Kearifan Guru Bangsa, 2006:50). Perseteruan itu berakibat keluarnya Haji Hasan bin Semit dari Central Sarekat Islam (CSI) dan TKNM.

Isu penggelapan uang TKNM itu membuat Misbach kecewa. Terlebih lagi, Tjokroaminoto tidak melanjutkan aksi TKNM, hanya mengumpulkan uang iuran serta mengirim kawat kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda dan Kasunanan Surakarta Hadiningrat agar menghukum Martodharsono tanpa melakukan tindakan sendiri yang lebih tegas.

Misbach menganggap TKNM dan SI serta Tjokroaminoto selaku pemimpin besarnya telah mengkhianati tujuan membela Islam, bahkan memanipulasikannya. Ia pun mulai melancarkan serangan terhadap guru-guru agama, kyai, dan para tokoh TKNM serta SI. Menurutnya, mereka tidak ada bedanya dengan Martodharsono dan Djojodikoro yang telah menodai Nabi Muhammad dan Islam (Sudrajat, 2006:50).

Keretakan hubungan Misbach dengan Tjokroaminoto dan SI, yang kemudian menjalar ke Muhammadiyah. Misbach juga  menuduh Muhammadiyah membiarkan penindasan kolonial Belanda terhadap kaum pribumi. Itu karena Muhammadiyah tidak menempuh jalur politik untuk membela rakyat tertindas, seperti halnya gerakan Sarekat Islam (SI) pimpinan Haji Omar Said Tjokroaminoto, juga Muhammadiyah.. Dalam artikel “Moekmin dan Moenafik” (Islam Bergerak, 10 Desember 1922), Misbach mengritik orang-orang yang tidak memilih jalur politik sebagai munafik (Muhammadiyah) dan mereka yang memilih jalur politik sebagai Islam sejati (SI).

“… Sekarang, kita semua tahu, bahwa Muhammadiyah adalah perkumpulan kapitalis dan sangat dipengaruhi oleh kapital,” tukas Misbach (Takashi Shiraishi, Zaman Bergerak: Radikalisme Rakyat di Jawa 1912-1926, 1997:362).

Suaramuhammadiyah.id mengupas keretakan hubungan Misbach dengan Muhammadiyah. Disebutkan, Misbach juga menyerang Muhammadiyah karena dianggap tidak memerangi fitnah terhadap umat Islam, justru organisasi yang didirikan oleh ‘kaum modal putih’ (kapitalis muslim, red) ini dianggap hanya menyiarkan agama Islam tanpa membela kaum tertindas, bahkan terlibat dalam kasus renten (Medan-Moeslimin, 20 November 1922).

Satu per satu tokoh-tokoh Muhammadiyah menjadi objek sasaran kritik tajam dari Haji Misbach dan kubu SI Merah. Kyai Ahmad Dahlan dituduh sebagai rentenir, karena terlibat dalam skandal hutang Perserikatan Pegawai Pegadaian Bumiputra (PPPB) pada tahun 1922. Haji Fachrodin dituduh sebagai tokoh munafik dan penipu. Hoofdbestuur (HB) Muhammadiyah dianggap telah menjadi agen kapitalis. Konon, pada saat itulah Misbach keluar dari Muhammadiyah (lihat Nor Hiqmah, 2008: 5).

Dengan semangat berapi-api, Misbach datang ke Rapat Tahunan Muhammadiyah 1923 di Yogyakarta menyampaikan usulan (vorstel) agar Muhammadiyah mengubah haluan organisasi menjadi partai politik pergerakan layaknya SI (Soewara Moehammadijah, no 5 & 6, Mei & Juni 1923).

Akan tetapi, Djojosoegito dalam catatan notulen Rapat Tahunan Muhammadiyah 1923 menyebutkan bahwa “Haji Misbach itu bukan sekutu Muhammadiyah.” Ia memilih keluar dari keanggotaan Muhammadiyah karena tidak sehaluan lagi dengan perjuangan organisasi ini. Catatan ini sudah cukup untuk menjelaskan status Haji Merah dan hubungannya dengan Muhammadiyah.

Tak lama setelah menyerang Muhammadiyah, Haji Misbach ditangkap oleh pemerintah kolonial Belanda dan dibuang ke Manokwari (1923). Sebuah sumber menyebutkan, ketika di Manokwari, Misbach menjalin komunikasi dengan Firma Abdullah Lie, sebuah perusahaan jasa yang melayani pengiriman barang-barang dari Ambon ke Manokwari. Sumber ini berasal dari kesaksian Haji Ismail Abu Kasim, alumni MULO dan HIK Muhammadiyah (Solo).

Menurut Ismail Abu Kasim, perintis Muhammadiyah di Ambon adalah Haji Misbach dari Solo. Misbach menggunakan jasa Firma Abdullah Lie milik Haji Muhammad Abu Kasim, ayah kandung Haji Ismail Abu Kasim, untuk memesan berbagai kebutuhan hidupnya.

Menariknya, selama di pembuangan, Misbach justru berusaha memesan beberapa buku bacaan dan majalah. Rupanya, sekalipun Misbach telah keluar dari Muhammadiyah, ternyata ia tetap menjadi pelanggan majalah Suara Muhammadiyah. Firma Abdullah Lie inilah yang menyuplai kebutuhan Misbach selama di Manokwari (baca M. Amin Eli, “Muhammadiyah Maluku: Hasil Penyemaian Kyai Misbach”, Suara Muhammadiyah no. 20 Th. Ke-61/1981).

Nah, dari hasil korespondensi antara Haji Misbach dengan Haji Muhammad Abu Kasim muncul gagasan mendirikan Muhammadiyah di Ambon. Haji Abu Kasim sendiri seorang Muslim keturunan Tionghoa. Ia berhasil meyakinkan kawannya yang bernama Auw Yong Koan, seorang Muslim keturunan Tionghoa pula. Kemudian ada Abdurrahman Didin, seorang perawat di rumah sakit militer di Ambon.

Akhirnya, pada sekitar tahun 1930-an, gagasan untuk mendirikan Muhammadiyah di Ambon berhasil terwujud. Haji Muhammad Abu Kasim, Auw Yong Koan, dan Abdurrahman Didin adalah tokoh-tokoh perintis yang sekaligus menjadi pengurus pertama Muhammadiyah di Ambon.

About Abu Nisrina

Check Also

PBNU: Dalam 25 Tahun ke Depan Indonesia Alami Ledakan Intelektualitas

Satu Islam, Lumajang – Indonesia berpotensi mengalami ‘ledakan intelektualitas’ dalam 25 tahun ke depan. Pada …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *