Home / Nasional / Jaga Wajah Islam Yang Toleran

Jaga Wajah Islam Yang Toleran

11096431_882103838502803_6559783828231382025_n
Wakil Menteri Agama RI, Prof Dr Nasaruddin Umar saat menjadi pembicara dalam Tabligh Akbar di Masjid Darussalam, Pondok Pekayon Indah, Bekasi Selatan. – Foto : SBI/RADAR BEKASI

Satu Islam, Bekasi – Di dunia luar, Indonesia dikenal sebagai Negara dengan mayoritas warga muslim yang toleran. Maka itu, jangan sampai konflik sektarian di Timur Tengah merembet ke Indonesia. Hal itu bisa dihindari jika umat Islam di Indonesia memperkuat persatuan serta melandasi keislaman dengan kasih sayang.

Demikian dikatakan  Wakil Menteri Agama RI, Prof Dr Nasaruddin Umar saat menjadi pembicara dalam Tabligh Akbar di Masjid Darussalam, Pondok Pekayon Indah, Bekasi Selatan, Minggu 29 Maret 2015. Nasaruddin membawakan ceramah berjudul ”Peta Kekuatan Islam dan Strategi Umat untuk Menjemput Masa Depan Bangsa dan Negara.”

Pria kelahiran Sulawesi Selatan itu memulai ceramahnya dengan membedah filosofi makna Darussalam, yang berarti rumah perdamaian. Nama tersebut, kata dia, jangan sekadar dijadikan nama saja. Tetapi juga harus diwujudkan dalam visi misi keberagamaan masyarakat setempat.

Nasaruddin mencontohkan sebagaimana yang saat ini terjadi di Timur Tengah, di mana perang antarsesama bangsa Arab sendiri tak kunjung usai. Padahal, menurut dia, idealnya Arab menjadi prototipe bangsa yang dapat mengejawantahkan ajaran Islam, sebab di sanalah Islam turun.

“Itu artinya, jangan sampai fenomena serupa terjadi di Indonesia. Nah, bagaimana untuk menjaga bangsa ini? Ialah dengan memperkokoh pemahaman keagamaan kita dan menjaga persatuan dan kesatuan. Sebab, Indonesia sangat kaya akan potensi. Saat ini perkembangan perekonomian Indonesia nomor dua di dunia,” ujarnya.

Hal tersebut, menurut Nasaruddin, perlu diketahui dan disadari masyarakat. Agar kebanggaan dan rasa optimis dapat terus dijaga. Pasalnya, yang dewasa ini sering didengungkan hanyalah pesimisme seakan-akan Indonesia esok akan kiamat. ”Setiap saya keluar negeri, orang luar selalu bertanya dan iri terhadap kondusifitas Indonesia,” terang peraih Bintang Karya Satya Presiden tahun 2001 ini.

Seperti ketika Nasaruddin pergi ke Spanyol, di mana di negara Matador tersebut krisis melanda di segala aspek kehidupan dan pengemis pun menghiasi pinggir-pinggir jalan. Pertumbuhan ekonomi Indonesia, kata dia, saat ini hanya kalah dari Tiongkok yang mengalami pengingkatan di kisaran tujuh persen.

”Belum lagi kekayaan bangsa kita. Waktu saya makan ikan di Dubai, ikannya terasa tidak begitu segar. Kata mereka itu ikan impor dari Jepang. Sebab di laut Dubai yang panas, ikan tak bisa bertahan hidup. Sedang kalau musim dingin, ikan juga tidak tahan. Nah, yang dari Jepang pun sekarang kan sering nyuri ikan dari Indonesia, karena laut Indonesia paling potensial,” ungkapnya.

Indonesia, lanjut Nasar, juga hidup dengan budaya maritim yang adiluhung. Budaya maritim mencirikan banyaknya proses interaksi masyarakat lokal dengan mereka yang tengah melakukan perjalanan. Melimpahnya air di Indonesia pun membuat masyarakat dengan senang hati memberikan air pada mereka yang singgah.

”Itulah kelebihan Indonesia. Ini negeri yang disegani oleh mereka yang dari luar negeri. Bercandanya, mungkin itu yang menjadi alasan mengapa Tuhan tidak menurunkan Nabi di bumi Indonesia. Sebab, ustad saja cukup. Kemudian, terdapat beberapa cara bagaimana kita mengukuhkan persatuan ini,” paparnya.

Yang pertama, sambung dia, adalah dengan melandasi keislaman kita dengan kasih sayang. Nasar mencontohkan, jangan sedikit-sedikit mengkafirkan mereka yang tidak sepaham dengan kita. ”Yang tahlil bid’ah, yang salaman setelah salat bid’ah. Memang ada dalilnya, tapi coba kita lihat konteksnya, dan juga asbab nuzul dan wurudnya,” ujarnya.

Nasar mencontohkan, seperti ketika Nabi menganjurkan buang air kecil dengan duduk, itu berlaku lebih spesifik pada orang Arab yang memiliki budaya mengenakan gamis. Sedang untuk orang Indonesia yang sebagian mengenakan celana, maka kencing dengan duduk akan semakin susah.

”Pernah suatu ketika saat nabi mengimami salat maghrib, tercium bau kentut. Usai salat, nabi mempersilahkan sahabat yang kentut tersebut untuk mengambil wudu. Tidak ada yang beranjak karena mungkin malu. Kemudian nabi merubah redaksinya, bagi yang tadi habis makan daging unta silakan ambil wudu. Nah, itu bukan berarti daging unta menyebabkan batal wudu, tetapi itu diplomasi,” jelasnya.

Strategi berikutnya ialah, dengan membangun kebaikan dari bawah ke atas. Berkebalikan dengan amar ma’ruf yang dari atas ke bawah. Menurut Nasar, umat yang kokoh pada akar rumput akan sulit dipecah belah oleh pihak luar. ”Maka itu, mari kita ciptakan keberagamaan yang progresif namun tetap menjaga kerukunan hidup antarumat beragama,” tukasnya.(gobekasi.co.id)

 

About Sarah

Lifetime learner, wanderlust, lover

Check Also

Belasan Ormas Jatim Bergabung Bentuk Forum Kebangsaan

Satu Islam, Surabaya – Belasan organisasi masyarakat (Ormas) di Jawa Timur bergabung bersama membentuk Forum …