Home / Nasional / Islam Tuhan Islam Manusia

Islam Tuhan Islam Manusia

Satu Islam, Jakarta – Siapa yang tidak kenal dengan Haidar Bagir. Seorang penulis ternama yang sudah mengeluarkan berbagai judul buku. Salah satu karya terbarunya yaitu buku yang berjudul “Islam Tahan Islam Manusia”.

Di beberapa tempat mendapat penolakan, terutama di Solo bahwa ada ancaman akan di tuntut oleh 3000 orang yang menolak diskusi buku ini. Pada saat itu suasananya cukup asik karena ada 1200 polisi yang menjaga dengan beberapa barakuda dan mobil untuk penyeprot air itu, alhamdulillah situasi dan diskusi bisa berjalan dengan lancar. Di Ponorogo sudah ada penolakan, kemudian di Lampung dan itu Alhamdulillah semua bisa berjalan baik. Serta dibuktikan bahwa diskusi ilmiah bisa dilakukan serta bisa diteruskan di kampus-kampus.

Salah satunya acara diskusi buku ini dilakukan di Gedung LIPI, Jl. Gatot Subroto, Jakarta Selatan. Selain di hadiri oleh Haidar Bagir, namun juga ada pembicara Yudi Latif, A. Moqsith Ghozali, Wahyudi Akmaliyah, dan moderator Putut Widjanarko.

Perjalanan atau proses terbentuknya sebuah buku Islam Tuhan Islam Manusia di awali dengan dunia ini sudah menunjukkan tanda-tanda kekacauan. Maka dari itu dapat di atasi dengan mengembalikan manusia pada spiritualitas. Kemudian tulisan-tulisan yang diambil dari benang merahnya yang pernah di tulis oleh Haidar Bagir. Kemudian sistematikanya tersusun rapi serta bekerjasama dengan Putut Widjanarko untuk membentuk menjadi sebuah buku. Namun pada saat itu buku tersebut belum ada judulnya.

Ketika ditanya oleh redaktor judul buku tersebut, tanpa berfikir panjang secara spontan menyebutkan buku itu berjudul “Islam Tuhan Islam Manusia” dan tidak ada sedikit pun untuk mengubah judul tersebut. Hal yang menarik adalah ketika kembali membaca buku tersebut ternyata sesuai dengan judul. Apa maksud dari judul Islam Tuhan Islam Manusia dan bagaimana judul ini mewakili seluruh isi buku ini.

Agama yang bermula dari Tuhan diturunkan Islam, namun ketika sampai kepada manusia, Islam itu bukan lagi Islam Tuhan ia menjadi Islam Manusia. Karena Islam yang sudah melewati saringan pemikiran manusia. Dalam hal ini tidak boleh ada pemahaman tentang Islam yang diyakini inilah yang diperoleh dari Tuhan. Gus Mus mengatakan bahwa orang yang percaya diperoleh dari Tuhan dan itu di anggap sebagai satu-satunya yang benar, sesungguhnya dia sudah menempatkan dirinya pada posisi Tuhan.

Kemungkinan besar orang yang paling meyakini keislamannya adalah orang yang musyrik. Bahkan ada manusia yang menganggap dirinya seperti Nabi Muhammad saw. Rasulullah merupakan manusia yang maksum, dalam al-Quran sendiri dikatakan bahwa dia tidak berbicara dibarengi dengan nafsu, dan semua yang dikatakan oleh Rasulullah merupakan wahyu dari Allah Swt.

Seperti contoh apabila mata, pendengaran, semua panca indra ini sehat, tapi ada satu teknologi yang memungkinkan manusia bisa hidup dalam keadaan otaknya di ambil. Apakah dia bisa memahami isi al-Quran? Sehingga manusia tersebut hanya meyakini apa yang dia lihat, mendengar, dan membaca dengan lisannya tanpa berfikir tentang kebenarannya dan menganggap orang lain salah, kafir, musyrik yang tidak sepaham dengan dirinya. Al-Quran tersebut tidak sampai melewati manusia kecuali saringan dari akalnya dan itu di katakan oleh Sayyidina Ali Bin Abi Thalib waktu perang melawan Muawiyah yang mengangkat al-Quran dalam tombak.

Kemudian Ali as ingin tahkim atau administration, lalu Khawarid protes dikarenakan Ali tidak menghukum Muawiyah? Kemudian Sayyidina Ali as mengatakan, “Sesungguhnya aku ini berhukum dengan al-Quran.” Tapi al-Quran itu tidak bisa berbicara, karena yang bisa memahami adalah orang-orang yang membaca sesuai dengan akalnya. Selanjutnya Ali as mengatakan, “Buatlah al-Quran itu berbicara, karena ia tidka bisa berbicara sendiri.” Jadi tidak ada Islam yang dipahami manusia, kecuali itu Islam manusia.

Semua tafsir Islam kebenarannya relatif, tidak ada lagi kebenaran Islam yang mutlak di dunia setelah Nabi Muhammad saw. Semua pemahaman relatif, bisa benar dan salah, sebagian benar sebagian salah, dan ada yang benar semua dan ada yang salah semua. Hal itu dapat ditunjukkan berupa contoh, bahwa ada lebih dari satu kebenaran dari sebuah kubus.

Bayangannya berbentuk bulat dan itu benar, di sisi lain berbentuk kotak dan itu juga benar. Hal itu menunjukan perbedaan dalam sudut pandang, dalam benda yang sama namun berbeda penilaian tergantung pada penglihatan suatu sisi yang dinyatakan benar. Sehingga dalam perbedaan pandangan jangan mengatakan pandangan orang lain salah, karena setiap manusia memiliki cara pandang yang berbeda.

Jadi hal yang utama itu sepandai apapun penilaian itu bersifat relatif tidak mutlak, bisa benar dan juga bisa salah. Kemudian setiap tafsir itu kemungkinan benar agar manusia bisa saling belajar, belajar dengan banyak orang lain. Sehingga manusia menilai sesuatu dapat di lihat dari berbagai sudut pandang dan dapat menemukan kebenaran di sisi Tuhan. Perbedaan penafsiran itu karena adanya keterbatasan manusia dalam memandang sutau objek.

Di sisi lain Allah menginginkan manusia memiliki penafsiran yang berbeda-beda. Dari sudut pandang tasawuf epistemologi, semua ciptaan Allah sebagai suatu menivestasi, ungkapan yang merupakan pancaran dari Allah Swt. Tuhan itu satu tapi menivestasinya banyak, seperti matahari bersinar yang sinarnya terpancar ke berbagai sudut tempat. Seperti mazhab dikatakan sebagai wadah.

Allah setiap waktu, setiap detik menciptakan segala sesuatunya selalu unik dan berbeda beda. Sehingga objek yang satu dengan yang lainnya berbeda. Setiap manusia menampung wadah ciptaannya Allah. Sehingga wadah kombinasi dengan menivestasi Allah menciptakan suatu yang lain. Seperti air yang berada di dalam 3 wadah yang berbeda, wadah toples, tabung dan gelas.

Di sisi oleh air yang berasal dari sumber yang sama, sehingga ketika air tersebut masuk ke dalam 3 wadah tersebut menghasilkan bentuk air yang berbeda-beda. Artinya manusia itu memiliki bentuk yang berbeda-beda, dan jumlah manusianya pun sebanyak jumlah manusia yang di ciptakan Allah. Dalam hal ini Tuhan menghendaki wahyu yang diturunkan ke nabi di pahami berbeda-beda, sehingga manusia yang saling belajar maka manusia memiliki pemahami yang lengkap apa yang diinginkan Tuhan.

Dalam al-Quran, (Al Baqarah: 147-148) Kebenaran dari Tuhanmu, dan jangan sekali-kali kamu termasuk orang yang ragu. Dan tiap-tiap orang mempunyai arah dia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan. Di mana saja kamu berada, pasti Allah akan mengumpulkan kamu semuanya. Sesungguhnya, Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.

Makna dari Islam Manusia diturunkan untuk manusia. Tuhan tidak membutuhan agama, tuhan menurunkan agama untuk manusia bukan untuk tuhan. Agama diturunkan agar dapat membahagiakan manusia, memberi rahmat bagi manusia. Artinya bila ingin membela tuhan jangan menyusahkan manusia, jangan menyusahkan makhluk tuhan lainnya. Al-Quran diturunkan tidak membuat manusia susah, tapi membuat manusia takut kepada sang Ilahi.

Tidak boleh seseorang dikatakan kafir kecuali argumentasi Islam telah sampai kepadanya dalam keadaan benar dan meyakinkan di tolak itu kafir. Sakralnya budaya lokal, sama sakralnya dengan syariah menurut ajaran Islam. Bisa dapat dikatakan peninggalannya para nabi, peninggalannya para orang-oreang bijak. Solusi dari permasalahan saat ini harus di kembalikan pemahaman moral, agama sebagai sumber cinta kasih.

Dalam buku ini dapat menerjemahkan dan melihat persoalan dalam konteks Islam. Buku ini mengajarkan bagaimana cara kita beragama, dan buku ini juga menjelaskan secara padat, proforsional melihat permasalahan yang sedang terjadi dan solusi dalam menyelesaikan permasalahan yang ada.

Terlihat ada ketidakcocokan pemikiran dengan realitas pada masyarakat Indonesia. Indoensia merupakan terposmodernkan di dunia, jumlah pengguna pesawat HP lebih dari 300 jt dan pengguna internet 130 jt. Tetapi cara penggunaan teknologi internet ini dengan sikap kultural zaman batu.

Tingkat baca Indonesia 64 dari 66 negara, semakin rendah dan bebal. Apabila sudah berinteraksi dengan haightech semua paling intens, hingga Indonesia peringkat ketiga penggunaan internet terpadat di dunia. Problm yang dihadapi saat ini adalah ketika kita sangat konsumtif dengan haightech tapi tidak diimbangi dengan realitas yang ada dan permasalahan gosip, ketegangan bermula dari sana.

Dengan tidak adanya keseimbangan ini menjadi tidak cerah dan semakin keruh. Maka dalam hal ini dibutuhkan yang namanya spiritualitas, cara menyalakan kembali cahaya itu dengan menggabungkan spiritualitas agama dengan spiritualitas nusantara yang merupakan bagian dari kebudayaan Indonesia.

Dengan berbagai perbedaan agama, suku, bahasa, budaya dapat di selesaikan secara harmoni dengan semangat gotong royong yang merupakan ajaran spiritualitas nusantara. Jadi perbedaan-perbedaan itu merupakan saling melengkapi satu sama lain. Itulah hakikat pancasila, dan hakikat pancasila adalah spiritualitas nusantara serta seluruh ajaran spiritualitas adalah ajaran kasih sayang.(Shella)

 

About Abu Nisrina

Check Also

Wiranto: Tak Ada Rekonsiliasi dengan Rizieq

Satu Islam, Jakarta – Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto menanggapi enteng permintaan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *