Home / Nasional / ISIS Rancang Perang Kota di Indonesia, Inilah Lokasi-Lokasi Strategisnya

ISIS Rancang Perang Kota di Indonesia, Inilah Lokasi-Lokasi Strategisnya

Pendukung ISIS di Indonesia

Satu Islam, Jakarta – Mantan teroris sekaligus pemerhati radikalisme Sofyan Tsauri mengungkapkan bahwa sejatinya kelompok teroris ISIS pernah merancang perang kota di sejumlah daerah di Tanah Air setelah mengguncang Marawi, Filipina.

Hal ini lantaran perang di Marawi antara tentara Filipina dan ISIS yang sudah berlangsung selama lebih kurang tiga bulan menggunakan strategi perang kota membuat militer pemerintah kerepotan.

Tujuan strategi perang kota yang rencananya di terapkan ISIS di Indonesia adalah menciptakan suasana rusuh dan chaos kemudian menyebarkan paham takfiri yang diyakini mereka.

Menurut Sofyan terdapat beberapa lokasi di Indonesia yang memungkinkan bagi ISIS untuk melakukan perang kota. Ia menyebut Bima dan Poso sempat menjadi kota yang sempat direncanakan oleh jihadis di Indonesia sebagai Madinatul Fatah atau kota pembuka terjadinya perang.

“Sejumlah daerah di Indonesia yang sudah masuk rencana mereka adalah, Aceh, Banten, Bima dan daerah di Jawa Tengah yang masih mempunyai hutan-hutan,” ujarnya kepada awak media, Jumat 11 Agustus 2017.

Bagi para jihadis, dalam qaidah aminah atau kaidah mengamankan diri yang mereka pelajari, hutan bisa dijadikan sebagai lokasi paling efektif untuk melakukan perang gerilya dan perang kota.

“Karena mainnya sebentar. Tembak-tembakan paling setengah jam. Tapi persoalannya, abis itu mau lari ke mana yang harus dipikirkan,” katanya menjelaskan.

Selain itu, kota besar seperti Jakarta dan Semarang juga dianggap Sofyan berpeluang untuk menjadi area perang para jihadis. “Selain perang gerilya, kan juga ada perang kota yang butuh banyak gedung. Di Semarang juga daerah perbukitan,” kata Sofyan.

Sofyan mengungkapkan, Marawi, merupakan target pengembangan camp-camp militan regional setelah di Suriah digempur pasukan Soviet dan sekutu Amerika.

“Sejak lama Marawi sudah sejak lama jadi daerah perdagangan senjata, apalagi sejak pimpinan ISIS menyatakan jihad tidak perlu ke Suriah, mereka berkumpul di Marawi, sudah banyak yang ke sana, lintas negara,” ungkapnya.

Bila melihat kepada lokasi geografis Marawi, ibu kota Provinsi Lanao del Sur ini adalah kota yang indah, dikelilingi perbukitan dan udara sejuk, dengan ketinggian di atas 700 mdpl, terletak di tepian Danau Lanao–danau terbesar kedua di Filipina.

Pertimbangan lokasi di Marawi, menurut Sofyan, juga tidak melulu mengenai cara kabur tetapi juga berkaitan dengan akses sokongan logistik dan senjata selama perang berlangsung.

“Indonesia kalau mau perang awur-awuran di laut juga banyak yang jual senjata. Yang punya kapal selam bebas saja itu jual di laut, karena perbatasan ribuan kilometer juga tidak ada yang jaga,” kata Sofyan.

Pria yang sebelum menjadi teroris pernah menjadi anggota Brimob ini pun menyatakan peluang ISIS untuk dapat membuat konflik di Indonesia adalah ketika terjadi distabilitas politik.

“Kemarin seperti kasus Ahok sudah banyak yang siap-siap kalau terjadi meledak ada yang mencari senjata siapa, ada yang mencari duit jatah, sudah seperti Suriah,” kata Sofyan.

Bulan Desember ketika demo 212, menurut Sofyan, Densus 88 telah menangkapi anggota ISIS yang ikut demo anti Ahok. “Coba lihat dan renungkan kembali fakta adanya Abu Al Usaibah, ada lagi tokoh ISIS seperti Syamsudin Uba yang di Pekayon itu ikut demo,” kata Sofyan.

Selain itu, menurut Sofyan, yang membuat paham ISIS lebih mudah menyebar untuk melakukan rekruitmen dan pada akhirnya menciptakan perang adalah karena kesenjangan ekonomi dan kemiskinan.

 

 

About Abu Nisrina

Check Also

Dedi Mulyadi: Radikalisme Bertentangan dengan Budaya

Satu Islam, Purwakarta – Jawa Barat merupakan provinsi dengan jumlah penduduk terbesar di Indonesia. Masyarakat …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *