Home / Nasional / ISIS Merupakan Radikalisme Lama yang Berbungkus Baru

ISIS Merupakan Radikalisme Lama yang Berbungkus Baru

vandalisme-ISIS
ilustrasi

Satu Islam, Jakarta – Direktur Deradikalisasi Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Irfan Idris mengungkapkan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) adalah bungkus baru dari gerakan-gerakan radikalisme terdahulu. Untuk itu, BNPT terus menggalakkan upaya untuk meredam gerakan tersebut dengan program kontra ideologi, kontra narasi, kontra radikalisme, dan kontra propaganda.

“Kita tidak boleh lemah menghadapi mereka karena radikalisme itu sangat berbahaya. Ada banyak jalan menuju Roma yang mereka lakukan untuk mencapai tujuannya,” kata Irfan Idris di Jakarta, Jumat 12 Juni 2015.

Dia mengatakan negara harus kuat, karena penyakit radiklaisme yang menjual agama, membuat negara itu chaos. “Itu penyakit, itu ISIS bukan negara. Sama dengan penyakit, kalau kita drop, akan masuk. Kalau negara kita kuat, masyarakat kuat, kampus kuat, saya kira kelompok radikalisme yang mengatasnamakan agama tidak bisa masuk,” tandasnya.

Sementara Ketua Kajian Islam dan Timur Tengah Universitas Indonesia (UI) Muhammad Lutfi mengatakan propaganda kelompok radikalisme harus dihadapi dengan pemahaman tentang ideologi bangsa dan agama Islam yang benar. Itu harus dilakukan secara terus-menerus melalui berbagai lembaga dan unsur masyarakat, juga melalui teknologi, khususnya media internet atau dunia maya.

“ISIS itu adalah rekayasa dan itu dikendalikan oleh kekuatan tertentu yang bertujuan merusak umat Islam. Sebenarnya mereka tidak memiliki jaringan tertentu di Indonesia, mereka hanya punya ideologi dan memegang kunci negara Islam dan hijrah. Kunci itulah yang dijadikan senjata untuk menarik pengikut untuk hijrah ke suatu negara, dimana kaidah-kaidah hukum Islam dilakukan. Padahal itu semua tidak benar,” paparnya.

Untuk mencegah penyebaran ISIS di Indonesia, lanjut Lutfi, pemerintah harus memiliki program, terutama untuk memperketat WNI pergi ke luar negeri, terutama ke Timur Tengah. Kemudian juga para ulama di Indonesia diberi wawasan tentang aktivitias gerakan radikalisme atau ISIS di dunia internasional.

Selain itu, BNPT harus mengajak seluruh komponen dan lembaga organisasi Islam seperti NU, Muhammadiyah, dan Persis sebagai ujung tombak dalam pencegahan masuknya paham radikalisme di tengah masyarakat.

About Abu Nisrina

Check Also

Belasan Ormas Jatim Bergabung Bentuk Forum Kebangsaan

Satu Islam, Surabaya – Belasan organisasi masyarakat (Ormas) di Jawa Timur bergabung bersama membentuk Forum …