Home / Nasional / Gita Wiryawan : Syiah Sampang Persoalan Mendasar Pemerintah

Gita Wiryawan : Syiah Sampang Persoalan Mendasar Pemerintah

130731111300Satu Islam, Sidoarjo – Semakin meningkatnya eskalasi intoleransi berbasis agama di tanah air menjadi isu hangat program jualan para politisi peserta Konvensi Calon Presiden Partai Demokrat.

Mengutip berita dari jawaban.com, Gita Wirjawan, salah satu peserta Konvensi Calon Presiden Partai Demokrat menilai persoalan pengungsi warga Syiah asal Sampang yang kini berada Rusunawa Puspo Agro Sidoarjo Jawa Timur adalah persoalan besar Pemerintah.

Hal itu harus menjadi perhatian mendasar bagi pemerintah untuk segera dituntaskan. Hal yang  menyangkut keyakinan seseorang merupakan persoalan yang paling mendasar yakni hak asasi setiap warga negara.

“Saya menangkap ada hal yang sangat mendasar yang harus disikapi pemerintah. Perlindungan hak dasar berkeyakinan karena ini sangat asasi. Tidak boleh ada yang tertinggal dalam kehidupan bernegara, tidak terkecuali urusan keyakinan dan beragama”, ujar Gita saat berkunjung ke Rusun Puspo Agro, Jemundo, Sidoarjo, Kamis 13 Februari 2014 lalu.

Terhadap tuntutan para pengungsi yang menagih janji Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) untuk menyelesaikan masalah ini, Gita berjanji akan menyampaikan aspirasi dan tuntutan warga pengungsi ke pemerintah bahkan presiden.

“Saya tidak bisa memutuskan apapun tapi saya akan bilang Pak SBY, ini nggak bener biarkan nasib rakyat terombang-ambing gara-gara beda keyakinan. Saya pribadi tidak ada kompromi dengan intoleransi dan diskriminasi”, tutupnya.

 TNI dan Polri Solusi Terhadap persoalan Intoleransi

Senada dengan Gita Wiryawan yang mengusung isu intoleransi, Pramono Edhie Wibowo dalam debat kandidat Konvensi Calon Presiden Partai Demokrat, Jumat 24 Februari 2014  mengusung tema intoleransi sebagai tawaran programnya.

Pramono Edhie Wibowo memandang bahwa aksi intoleransi yang terjadi saat ini disebabkan karena ada masyarakat yang merasa tak terayomi dengan baik sehingga rasa aman dan nyaman tak muncul.

Ia menilai beragamnya suku dan agama di Indonesia jika tidak dituntaskan dengan serius menjadi pintu masuknya intoleransi mengingat kaum intoleran menyentil perbedaan sebagai keharusan untuk dipersamakan, padahal tujuan sebenarnya adalah dominasi kelompok.

Solusi dari mantan Kepala Staf TNI Angkatan Darat (Kasad) terhadap hal ini adalah bahawa TNI dan Polri harus turun tangan dan banyak dikuatkan.

“Kita harus kuat, hebat. Kita harus ditakuti. Kalau kita kuat dan hebat kita akan ditakuti orang lain supaya tidak sembarangan kepada kita,” ujarnya.

 

About Abu Nisrina

Check Also

Ribuan Nahdliyin Semarakkan Gema Shalawat Nabi dan Zikir Akbar

Satu Islam, Probolinggo – Dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW dan menyemarakkan Hari Jadi …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *