Home / Nasional / Dubes Inggris Terkejut Samarinda Dikelilingi Lubang Tambang

Dubes Inggris Terkejut Samarinda Dikelilingi Lubang Tambang

dubes-inggris-untuk-indonesia-tinjau-lubang-tambang_20150618_213550
Dubes Kerajaan Inggris untuk Indonesia Moazzam Malik meninjau lubang tambang yang tidak direklamasi di seputaran Jl Padat Karya, Samarinda Utara, Kalimantan Timur, Kamis 18 Juni 2015 – Foto: Tribunkaltim

Satu Islam, Samarinda – Duta Besar Kerajaan Inggris untuk Indonesia, Moazzam Malik, dibuat terkejut setelah tahu Samarinda dikelilingi lubang tambang batu bara yang dekat dengan permukiman warga. Terlebih lubang bekas galian tambang telah memakan korban jiwa, yaitu M Raihan yang merupakan salah seorang bocah berusia 10 tahun yang tewas tenggelam di kolam tambang milik PT Graha Benua Etam (GBE) pada Desember 2014 silam.

Dubes pun mengunjungi keluarga M Raihan di seputaran Jalan Padat Karya, RT 86, Kelurahan Sempaja Utara, Samarinda Utara, Kamis 18 Juni 2015.

Informasi yang dihimpun, tujuan kedatangan Moazzam adalah salah satunya terkait sebuah kegiatan seputar perubahan iklim di Kutai Kartanegara. Namun setelah mendengar informasi tentang kondisi pertambangan di Samarinda yang meresahkan, ia pun menyempatkan diri untuk berkunjung dan melihat langsung.

Setelah berbincang-bincang sejenak dengan ibunda Raihan, Rahmawaty di kediamannya yang masih berada di Jl Padat Karya, Moazzam dan beberapa rekannya meminta untuk ditunjukkan lokasi lubang-lubang tambang.

Moazzam Malik mendapati kabar 79 lubang menganga berada dekat dengan permukiman dan mengepung ibu kota Kalimantan Timur itu. Dua lubang di antaranya, disambangi dubes Inggris di hari terakhir dari dua hari lawatannya di Kaltim.

“Dia terkejut, kaget. Sampai bertanya banyak tentang berapa lubang per tambang seperti ini, hingga luasnya (di Samarinda),” kata dinamisator Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) Merah Johansyah, Kamis 18 Juni 2015.

Malik semakin dibuat heran setelah mendapati kabar lebih dari 70 persen wilayah Samarinda dikapling untuk kegiatan tambang. “Dia juga bertanya berapa luas lubang tambang itu. Kira-kira dua kali lapangan sepak bola,” kata Merah.

Malik melakukan lawatan ke Samarinda selama dua hari. Ia mengampanyekan perubahan iklim dan semangat mengurangi efek rumah kaca, khususnya di Indonesia, selama dua hari itu.

Dia bahkan juga memberi kuliah umum tentang perubahan iklim ini di Universitas Mulawarman Samarinda pada hari pertama. Dalam kuliah itu, Malik menjelaskan bahwa Indonesia masuk lima negara penyumbang emisi terbesar di dunia.

Merah mengatakan, Malik menjanjikan akan membicarakan temuan ini ke pemerintah Indonesia. Inggris pun berharap Indonesia, terutama Kaltim, bisa menjadi provinsi yang berperan besar dalam perubahan iklim dan menjadi bagian dari rencana aksi daerah mengurangi efek gas rumah kaca.

“Dubes mengatakan akan memberi masukan ke Pemerintah RI, agar menguatkan pengawasan dan sanksi bagi kegiatan pertambangan yang seperti ini,” kata Merah.

Sektor batu bara kata Merah, juga mempunyai andil yang sangat besar dalam perubahan iklim terkait dengan penghilangan dan penggundulan hutan yang tidak terkendali, serta alih fungsi hutan menjadi pertambangan (deforestasi).

Malik lalu berharap, investor dari Inggris tidak membeli batu bara yang berasal dari proses penghancuran lingkungan hidup.

“Jatam sendiri tetap meminta agar negara-negara internasional selektif terhadap kerja sama dengan pemerintah Indonesia terkait investasi di batu bara,” kata Merah.

About Abu Nisrina

Check Also

Belasan Ormas Jatim Bergabung Bentuk Forum Kebangsaan

Satu Islam, Surabaya – Belasan organisasi masyarakat (Ormas) di Jawa Timur bergabung bersama membentuk Forum …