Home / Nasional / Dawam Rahardjo Terima Yap Thiam Hien Award karena Konsisten Bela Ahmadiyah dan Syiah

Dawam Rahardjo Terima Yap Thiam Hien Award karena Konsisten Bela Ahmadiyah dan Syiah

1365491517Satu Islam, Jakarta – Mengutip berita dari beritasatu.com, Todung Mulya Lubis, ketua Yayasan Yap Thiam Hien, mengatakan pembelaan Prof. Dawam Rahardjo  kepada kelompok di masyarakat yang dianggap sebagai komunitas minoritas lantang beruara dan bersikap konsisten.

“Isu kebebasan beragama harus lepas dari kalkulasi untung rugi suara dalam pemilu. Sebab ia merupakan bagian dari paket yang melekat pada setiap politikus, kewajiban konstitusinal dan kewajiban memberikan pendidikan politik yanag mencerdaskan dan mencerahkan rakyat,” ucap Mulya usai memberikan peghargaan Yap Thiam Hien award kepada Prof.Dawam Rahardjo, Kamis 30 Januari 2014 di Jakarta.

Mulya mengatakan hak asasi kebebasan beragama merupakan amanat kemanusiaan dan amanat konstitusi, yang dititipkan ke pundak mereka yang nantinya berkuasa. Isu HAM tidak boleh redup oleh hiruk pikuk perhelatan demokrasi di tahun politik saat ini.

Mulya mengaku Dawam Rahardjo dipilih karena konsistensinya membela komunitas Ahmadiyah, Syiah dan umat Kristen di Tanah Air. Bahkan karena konsistensinya membela Ahmadiyah dan Syiah, Dawam yang merupakan salah seorang tokoh di PP Muhammadiyah justru dikeluarkan dari organisasi massa keagamaan itu pada 2006.

Menurut Mulya, konsistensi dan kegigihan Dawam dalam menyuarakan hak asasi kebebasan beragama di negeri ini memang harus terus menerus dirayakan karena isu ini semakin hari kian redup dan tidak menarik di ruang-ruang publik.

“Isu ini seakan dikurung sendiri dalam sunyi di tengah hiruk pikuk pesta demokrasi kita tahun ini,” ucapnya.

Bahkan, lanjut Mulya, logika para pengidam jabatan politik justru tidak menaruh kepeduliaan untuk membela minoritas karena akan menyinggung perasaan mayoritas sehingga bisa kehilangan suara mayoritas dan hanya mendapatkan suara minortas.

“Ngapain membela minoritas, apa untungnya? Demikianlah rasio logika kalkulator politik berbicara,” ungkap Mulya.

Dia mengakui, mereka yang peduli kepada kesetaraan bagi setiap warga negara, termasuk kebebabasan beragama senantiasa berteriak berulang-ulang daftar tumpukan masalah dan pelanggaran hak asasi kebebasan beragama yang tidak berujung sepanjang dua periode pemerintahan saat ini.

“Bagi the outgoing government, isu ini semakin tidak digubris lagi,” tukasnya.

Mulya mengingatkan, demokrasi tidak Cuma soal menang kalah pemilu. “Demokrasi adalah soal perlindungan hak asasi minoritas. Di situlah kesehatan suatu demokrasi diuji, adanya minorias. Tidak ada demokrasi tanpa minoritas, dan tidak ada demokrasi yang sehat tanpa perlindngan minoritas,” tandas Mulya.

Sementara itu, Dawam yang didaulat untuk berbicara seusai menerima Yap Thiam Hien Award mengakui, dia sempat merasa hanya berjuang seorang diri membela kelompok minoritas karena banyak yang menghujat daripada yang mendukung sikapnya itu.

“Dengan hujatan itu, saya merasa kesepian, Saya merasa sendirian,” tutur Dawam yang kini berusia 73 tahun.

Namun, dengan penghargaan Yap Thiam Hien Award yang mengukuhkannya sebagai pejuang hak asasi manusia, Dawam merasa bahwa dia tidak berjuang sendiri.

“Dengan penghargaan ini, saya tidak merasa sendirian membela minoritas,” ucapnya.

Hadir di penganugerahan itu Ketua Mahkamah Konstitusi Hamdan Zoelva, guru besar hukum tata negara Jimly Asshiddiqie, wartawan senior Fikri Jufri, advokat Lelyana Santosa, serta para pegiat hak asasi manusia. Anak perempuan Yap Thiam Hien, Ny Yap Hong-Ay Looho menberikan plakat Yap Thiam Hien Award kepada Dawam yang datang bersama istri, anak serta cucunya.

 

 

 

 

About Abu Nisrina

Check Also

Dosen Terlibat HTI Diberi Sanksi Administratif

Satu Islam, Jakarta – Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristek Dikti) Mohammad Nasir mengumpulkan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *