Home / Nasional / Budaya Toleran Bisa Bendung Radikalisme

Budaya Toleran Bisa Bendung Radikalisme

0610a1
Banner Maarif Institute

Satu Islam, Serang – Direktur Riset Maarif Institute Ahmad Fuad Fanani menyatakan pendidikan agama yang toleran merupakan salah satu upaya dalam membendung gerakan radikalisme dan terorisme.

“Nilai toleransi sudah dicontohkan dalam akhlak Nabi Muhammad SAW. Pendidikan agama yang toleran yakni meneladani pelajaran dan akhlaK nabi mampu membangun kebersamaan dan menghargai perbedaan. Ini bagian dalam membendung radikalisme dan terorisme,” kata Fuad Fanani dalam diskusi publik dengan tema “Beragama dengan Toleran” di Aula Kanwil Kemenag Banten, di Serang Rabu.

Selain Fuad Fanani, narasumber lain dalam diskusi publik tersebut yakni Ketua Komisi Ukhuwah Islamiyah MUI Banten, dan akademisi IAIB Eti Fatiroh.

Selain itu, kata Fuad, hal yang utama masyarakat muslim harus mampu mewujudkan wujudkan Islam ‘rahmatan lilalamin’ dalam kehidupan sehari-hari. Kemudian memahami alqu’ran dan hadist tidak secara tekstual.

Menurut Fuad, pembidaan budaya toleransi dalam beragama bisa dimulai dari kalangan muda, pelajar dan lembaga pendidikan. Mendapatkan pendidikan yang benar tentang agama dan memliki guru yang jelas seperti para ulama dan kyai.

“Mereka harus terus menerus diingatkan menyerap banyak informasi untuk perbandingan mana yang benar dan salah,” kata Dosen FISIP UIN Syarief Hidayatullah ini.

Ia mengatakan, radikalisme dan terorisme ada perbedaan walaupun sebenarnya ada irisan-risan antara terorisme dan radikalisme, karena tindakan terorisme pada awalnya karena paham radikalisme.

“Orang radikal itu biasanya tidak bisa menerima pendapat orang lain, memaksakan kehendak dan merasa paling benar sendiri,” katanya.

Fuad juga menyinggung soal gerakan Islamic State of Iraq and Syiria (ISIS). Menurut dia, ISIS merupakan bentuk neo khawarij baru karena melakukan kekerasan. Bahkan, sekarang ini namanya bukan lagi ISIS tetapi Islamic State (IS) karena ingin mendirikan negara Islam di semua negara yang mayoritas beragama Islam tidak hanya d Syiria dan Irak.

Menyikapi gerakan ISIS, kata Fuad, hal yang dilakukan yakni mengembalikan dengan keberagamaan yang toleran serta perlu penanganan yang komprehensif terhadap radikalisme itu.

Sedangkan Ketua Komisi Ukhuwah Islamiyah MUI Banten Zaenal Abidin Sujai menyatakan,?makna toleransi mengakui dan memahami perbedaan tanpa harus menggangu dan mencederai orang lain.

“Banyaknya agama di negara kita sebuah realitas, konteks perbedaan itu tidak hanya horizontal tapi ada juga perbedaan vertikal seperti perbedaan ekonomi dan lain-lain,” kata Zaenal.

Zaenal mengatakan, toleransi kalau dilakukan akan memunculkan kedamaian, kalau ada kedamaian akan ada ketenangan, sehingga terhindar dari konflik horizontal.

Sementara akademisi IAIB Eti Fatiroh mengatakan, keragaman merupakan tolak ukur pintu gerbang pilar perekat persatuan dan kesatuan bangsa. Prinsip dasar yang harus dibangun dalam toleransi yakni membangun tanpa perbedaan, kebersamaan dalam perbedaan, hidup tanpa kekerasan, dan tidak mengukur keyakinan orang lain dengan keyakinan diri sendiri.

“Hiduplah harmonis berdampingan satu sama lain secara damai,” kata Eti dalam diskusi yang dihadiri ratusan pelajar, mahasiswa dan para santri.(Ant)

 

About Abu Nisrina

Check Also

Wiranto: Pemerintah Manfaatkan Alumni Suriah Sebagai Whistleblower

Satu Islam, Jakarta – Beragam jalan keluar untuk WNI yang pergi ke Suriah menjadi wacana …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *