oleh

Nasib Perawan Yazidi di Tangan ISIS : Ditelanjangi sampai Dibawa ke Lelang Budak

Seorang wanita Sunni dan anak-anaknya menangis saat tiba di Baghdad setelah melarikan diri dari kampung halamannya Ramadi akibat tindak kekerasan di Irak, 19 Mei 2015.(Dok : REUTERS)
Seorang wanita Sunni dan anak-anaknya menangis saat tiba di Baghdad setelah melarikan diri dari kampung halamannya Ramadi akibat tindak kekerasan di Irak, 19 Mei 2015.(Dok : REUTERS)

Satu Islam, New York – Kelompok teroris Negara Islam di Suriah dan Irak (ISIS)  menyeleksi gadis-gadis cantik yang masih perawan dari perempuan yang ditangkap sebelum mengirim mereka ke Suriah untuk dijadikan budak seks. Hal ini disampaikan Zainab Bangura, perwakilan khusus Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tentang kekerasan seksual.

Dalam laporan itu disebutkan tentang nasib seorang perempuan yang mencoba melawan saat akan dijadikan budak seks. “Satu korban dibakar hidup-hidup karena menolak untuk melakukan adegan seksual yang ekstrim,” kata Zaenab.

Ia telah melakukan perjalanan ke Suriah, Irak, Turki, Lebanon, dan Yordania dan berbicara dengan wanita yang mengalami kekerasan seksual di tangan militan, khususnya perempuan minoritas Yazidi.

Dia berbicara tentang bagaimana milisi ISIS melucuti gadis-gadis hingga telanjang, melakukan tes keperawanan, dan mengirim mereka ke lelang budak sebelum (sering) membunuh suami, ayah dan saudara mereka.

Proses tawar menawar biasanya berlangsung seru dan sengit di mana gadis-gadis tersebut dijual dalam keadaan telanjang. Demikian dilansir dari laman tempo.

“Pemimpin ISIS adalah yang pertama memilih, diikuti oleh para milisi,” kata Zaenab. “Mereka sering memilih tiga atau empat gadis dan kemudian menjualnya beberapa bulan kemudian setelah merasa bosan,” katanya kepada Middle East Eye.

Dia mengisahkan, bagaimana ia mendengar pengakuan seorang gadis yang mengaku telah diperdagangkan 22 kali dan seorang pemimpin ISIS harus menulis namanya di tangan gadis itu untuk menunjukkan bahwa dia adalah miliknya.

Beberapa wanita yang ketakutan dan putus asa, bahkan menggunakan jilbab mereka untuk menggantung diri agar dapat terhindar dari penderitaan itu. Membuat para pemerkosa dari milisi ISIS melarang wanita mengenakan jilbab di beberapa daerah.

Menurut Zaenab, perempuan di daerah itu telah dipaksa berjanji pada milisi untuk menjadi alat rekrutmen dan alat pendanaan kelompok teror melalui perdagangan, prostitusi dan uang tebusan.(Middle East Eye / Tempo)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed