oleh

Muhammad bin Salman: Wahhabisme Disebar Saudi atas Permintaan Barat

Penyebaran Wahhabisme yang didanai oleh Arab Saudi merupakan permintaan negara-negara Barat untuk membantu melawan Uni Soviet selama Perang Dingin. Demikian disampaikan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman kepada Washington Post.

Pangeran Mohammed mengatakan, sekutu Barat mendesak negaranya untuk berinvestasi dalam wujud masjid dan madrasah di luar negeri selama Perang Dingin. Tujuannya, untuk mencegah perambahan pengaruh Uni Soviet—kini Rusia—di negara-negara Muslim.

Putra Raja Salman bin Abdulaziz al-Saud ini menambahkan bahwa pemerintah Saudi telah kehilangan jejak atau kontrol dalam upaya itu.”kita harus mendapatkan semuanya kembali,” ujarnya.

Menurutnya, pendanaan untuk penyebaran Wahhabisme saat ini kebanyakan berasal dari “yayasan” yang berbasis dari Saudi, bukan dari pemerintah kerajaan.

Wawancara media Amerika Serikat (AS) dengan Pangeran Mohammed selama selama 75 menit itu berlangsung pada 22 Maret 2018, yakni pada hari terakhir dari lawatannya di AS. Topik diskusi lain termasuk klaim media-media AS bahwa Mohammed bin Salman memiliki penasihat senior Gedung Putih, Jared Kushner, “di sakunya” juga dibahas.

Pada 2016 Islami.co menuliskan tentang peran Arab Saudi dalam mensponsori maraknya intoleransi, semangat kebencian dan ekstremisme berbasis agama sepertinya tak bisa lagi dipungkiri. Hal itu dikemukakan oleh Senator Amerika Serikat Chris Murphy, ketika menyoroti persoalan ekstremisme di Pakistan. “Ada sekitar 24,000 madrasah di Pakistan, dan ribuan diantaranya dibiayai dengan dana yang berasal dari Arab Saudi. Mereka mengajarkan model keislaman yang sarat sentimen anti-Syiah dan anti-Barat. Madrasah-madrasah di Pakistan tak ubahnya liga kecil buat ISIS dan Al-Qaeda,” kata Murphy.

Amerika, yang merupakan sekutu Arab Saudi, tampaknya mulai tidak nyaman dengan sepak terjang Arab Saudi dalam mendukung kelompok-kelompok ekstremis. Makin banyak bukti ditemukan bahwa kelompok-kelompok radikal memiliki hubungan yang dekat dengan pemerintahan Arab Saudi. Basis ideologi kelompok radikal ditengarai sebagian besar adalah Wahabi, yang merupakan ideologi resmi pemerintahan Wahabi.

Di depan Dewan Hubungan Luar Negeri akhir Januari 2016, Chris Murphy menyatakan bahwa madrasah-madrasah yang dibiayai Arab Saudi memang tidak secara langsung mengajarkan kekerasan, tetapi mereka mengajarkan ajaran yang banyak mengandung sentimen kebencian yang bisa menumbuhkan semangat untuk bergabung dalam tindakan terorisme. “Wahabisme mereka menumbuhkembangkan radikalisme,” katanya.

Bukan hanya Murphy, Presiden Amerika Barack Obama baru-baru ini juga menyatakan bahwa Arab Saudi ikut berperan dalam menguatnya ekstremisme di Indonesia. Obama menyebut bahwa Arab Saudi telah menggelontorkan banyak dana ke Indonesia baik untuk membangun madrasah, masjid atau beasiswa, dengan tujuan untuk mengekspor ajaran Wahabi. Sehingga tak heran, kata Obama, karakter Islam Indonesia yang dulu lebih santai dan sinkretik menjadi lebih fundamentalis dan kaku. “Makin banyak perempuan muslim Indonesia yang menggunakan hijab ala Arab Saudi,” kata Obama merujuk kondisi Indonesia terkini.

Menurut perkiraan, sejak 1960 Saudi telah menggelontorkan kurang lebih 100 miliar dolar atau lebih dari 1000 triliun rupiah dalam proyek ekspor ajaran Wahabi dan memperluas pengaruh kerajaan Arab Saudi ke berbagai negara. Angka ini lebih besar dari yang digelontorkan Uni Soviet saat perang dingin melawan Amerika, yang hanya berkisar 7 miliar dolar.

Murphy menekankan pada Kongres Amerika untuk mengevaluasi atau bahkan menghentikan dukungan terhadap operasi militer Saudi di Yaman hingga persoalan ekspor ajaran Wahabi yang memfasilitasi tumbuhnya ekstremisme dan radikalisme dibahas dan dicapai kemajuan bagi kepentingan Amerika.

Namun Amerika tampaknya selalu standar ganda dalam bersikap terhadap Saudi. Sebagaimana kita tahu, Arab Saudi adalah sekutu Amerika di Timur Tengah, yang banyak mendukung kepentingan Amerika di Timur Tengah. Maka ketika Obama ditanya terkait apa yang akan dilakukan Amerika terhadap Saudi yang mensponsori perluasan ekstremisme dan puritanisme yang merugikan Amerika sementara di sisi lain Saudi adalah sekutu politik Amerika, ia hanya bisa menjawab, “It’s complicated.” (sindo/islami.co)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed