oleh

Minoritas dalam Minoritas: Orang Cina Kok Salat

Minoritas dalam Minoritas Orang Cina Kok Salat
Ilustrasi – Foto: Kaskus

Satu Islam, Surabaya – Lazim diketahui etnis Tionghoa di Indonesia ini minoritas, akan halnya etnis Tionghoa yang muslim adalah minoritas di tengah minoritas. Muslim Tionghoa merupakan anomali dalam stereotip etnis Tionghoa berkebangsaan Indonesia. (Baca: Abad ke-14 Sudah Ada Komunitas Muslim Tionghoa)

Maka sikap pribumi ke Tionghoa muslim bisa dilihat dari pernyataan semacam ini “Orang Cina, kok, salat?” Sikap lainnya, si pribumi berjalan sembari memperhatikan ketika melihat ada etnis Tionghoa salat

Pengalaman pribadi seperti itu yang dirasakan para Tionghoa Muslim. Andini Septriani Ningrum salah satu keturunan Tionghoa muslim, mengungkapkan kehidupan kaum etnis Tionghoa muslim lewat bukunya Muslim Tionghoa: Minoritas dalam Minoritas.

Buku yang ditulis Andini hasil risetnya selama dua tahun ini. Buku yang mengungkap menjadi minoritas dalam minoritas merupakan karya tugas akhirnya (TA) sebagai mahasiswi tingkat akhir Jurusan Desain Prduk Industri ITS Surabaya, Jumat 22 Juli 2016 lalu sebagaimana dilansir  dari Surya.

Andini, mengaku topik ‘Minoritas dalam Minoritas’ yang dipilih sebagai tugas akhirnya terinspirasi dari kehidupan ibundanya yang merupakan Tionghoa mualaf. “Banyak orang yang heran bila ada kaum Tionghoa yang memeluk ajaran Islam,” ungkap Andin.

Padahal, dari riset panjangnya, Andini menemukan banyak sekali pengaruh kebudayaan Tionghoa ke dalam penyebaran ajaran agama Islam di tanah air. (Baca: Peran Tionghoa dalam Penyebaran Islam di Bumi Nusantara)

“Contohnya, banyak yang tidak tahu jika delapan dari sembilan Wali Sanga adalah etnis Tionghoa,” ungkapnya.

Di samping Wali Sanga atau Walisongo, budaya Tionghoa juga menyusup di berbagai bidang seperti arsitektur masjid, gaya berkerudung, baju koko dan lainnya.

“Hingga budaya makan ketupat di Hari Lebaran yang merupakan adaptasi tradisi Cap Gomeh dari Tiongkok,” jelas mahasiswi program studi Desain Komunikasi Visual ini.

Andini pun  terarik untuk mendokumentasikan susah senang kaum muslim Tionghoa yang merupakan minoritas dari Etnis Tionghoa yang minoritas di Indonesia dalam bentuk buku.

Menurut pengamatan Mahasiswi angkatan 2011 ini, tidak banyak buku yang membahas mengenai kehidupan kaum muslim Tionghoa modern. Selama ini, buku tentang muslim Tionghoa banyak yang membahas tokoh muslim Tionghoa bersejarah seperti Laksamana Cheng Ho atau Wali Sanga. (Baca: Imlek, muslim Tionghoa gelar ‘Seribu Jilbab’ di Masjid Cheng Ho)

“Padahal kehidupan Muslim Tionghoa sebagai kaum minoritas memiliki sejarah panjang dan penuh suka duka,” ujar Andin.

Dalam bukunya, Andini membeberkan rahasia di baliktidak cairnya dan  terputusnya rasa kebersatuan antara kaum etnis tionghoa dan masyarakat pribumi Indonesia dimulai sejak zaman Belanda hingga perpecahan di era Orde Baru.

Andini mengungkapkan tugas akhir seorang mahasiswi desain tidak hanya akan selesai sebagai tulisan namun juga sebagai produk yang siap diedarkan ke pasaran. Ilustrasi yang dia tuliskan baik yang berupa foto, narasi, hingga hingga proses penyusunan buku dikerjakannya sendiri.

Demi memenuhi tuntutan bidang studinya, Andini juga terjun dalam proses memotret, menggambar ilustrasi berbagai bukti akulturasi Tionghoa dan masyarakat Indonesia.

“Hingga perancangan layouting, font dan produksi menjadi barang jadi,” ungkapnya.

Andini mengaku, menjadi mahasiswa desain banyak sekali topik yang bisa diambil sebagai proyek tugas akhir, seperti periklanan, desain produk hingga corporate identity. Namun Andini ingin menciptakan sebuah karya yang bisa dikenangnya seumur hidup. “Juga agar bermanfaat dan memberi pengetahuan kepada masyarakat luas,” pungkasnya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed