Mereka yang Anti Perbedaan

Oleh: Abdul Hakim

foto: sketsanews.com

Di jaman ini kalau kita perhatikan, khususnya melalui media sosial sebagai sarana yang dapat digunakan oleh siapa pun untuk menuangkan pikirannya, telah umum kita ketahui ada begitu banyak hater dan monster yang siap mencabik-cabik siapa saja yang berbeda pendapat dengan mereka. Ketika, misalnya, ada seseorang yang berani menampilkan suatu pemikiran yang berbeda dengan pandangan mainstream di kalangan masyarakat umum, maka segera akan kita temukan banyak orang yang mendadak seperti kesurupan untuk melawan dan mendiskreditkan orang yang menyatakan gagasan yang yang berbeda itu.

Seringkali kita saksikan bahwa orang yang berani berjalan melawan pandangan arus utama di dalam masyarakat itu, kemudian menjadi bulan-bulanan berupa hujatan, fitnah, intimidasi, persekusi, bahkan sampai kepada serangan fisik. Hal seperti itu bisa terjadi antara lain karena adanya sekelompok orang yang berusaha memaksakan agar setiap orang setuju dan hanya boleh mengikuti pandangan mereka. Apabila tidak demikian maka mereka akan melancarkan berbagai intimidasi agar orang tersebut bertekuk lutut di hadapan mereka, karena memandang bahwa kelompoknya sebagai pemegang kebenaran mutlak atas suatu wacana penting di tengah masyarakat.

Saya merasa perlu mengangkat soal ini karena melihat makin meningkatnya permusuhan dan intimidasi serta persekusi yang dilakukan oleh mereka yang dikategorikan sebagai kelompok radikal dan intoleran dalam masyarakat kita sekarang ini. Pada kelompok seperti itu, ketika ada orang yang berani menyampaikan kritik terhadap tokoh idola mereka dan atas berbagai tindakan mereka yang cenderung brutal dan suka main hakim sendiri, tak ayal terhadap yang bersangkutan bukan hanya akan dimusuhi, intimidasi dan kekerasan secara fisik pun sangat mungkin untuk mereka lakukan. Kasus intimidasi yang menimpa Afi Nihaya Faradisa, dokter Fiera Lovita yang bekerja di RSUD Solok dan pemuda yang bernama Mario di Jakarta, itu menjadi contoh nyata dari tindakan brutal mereka.

Orang-orang seperti itu tampaknya sangat alergi terhadap mereka yang sering menyerukan untuk memiliki pemikiran terbuka, toleransi, menghormati kebhinekaan, persatuan, anti radikalisme dan ekstremisme, melawan terorisme, serta menjunjung tinggi NKRI dan Pancasila. Ciri yang sangat mencolok dari orang-orang tersebut adalah sikap mereka untuk selalu menempatkan diri pada sisi yang berseberangan dan menyampaikan kritik pedas terhadap hampir setiap kebijakan pemerintah. Dan, terjadinya hal seperti itu menurut pengamatan saya merupakan dampak yang terus berkelanjutan dari perseteruan politik pada pilpres 2014 dan pilgub DKI Jakarta 2017 yang telah membuat pembelahan yang tajam dalam kehidupan sosial dan politik di Indonesia saat ini, yang juga dimanfaatkan oleh kelompok-kelompok garis keras itu untuk menjalankan agenda mereka sendiri.

Tentu saja kita sama sekali tidak menginginkan negeri ini terus dirongrong dan dikangkangi oleh kelompok-kelompok radikal dan fasis yang mengatasnamakan agama untuk melegitimasikan tindakan-tindakan intoleran mereka yang biasa mengedepankan tindak kekerasan itu, yang telah berulangkali mereka lakukan sebelum ini. Hampir dapat dipastikan bahwa kelompok yang menganut ideologi kekerasan tersebut adalah mereka yang hendak mengganti sistem kenegaraan di NKRI ini menjadi sebuah negara dengan dasar ideologi agama tertentu, dalam hal ini agama Islam. Kemudian pada giliran berikutnya mereka hendak menjadikan syariat Islam sebagai sumber hukum satu-satunya di Indonesia menurut versi mereka.

Sekiranya kelompok tersebut berhasil menancapkan kekuasaannya di negeri yang plural dalam berbagai hal seperti Indonesia ini, sudah dapat dibayangkan bahwa mereka akan memaksakan berbagai aturan yang mereka yakini sebagai penerapan dari syariat Islam itu, dengan cara kekerasan seperti yang telah biasa mereka lakukan selama ini. Kita bisa mengatakan demikian dengan berkaca kepada kelompok radikal dan ekstrem seperti Taliban dan ISIS yang telah menjadikan Islam sebagai ajaran horor haus darah yang menakutkan dan penuh dengan tindak kekerasan. Saya yakin setiap orang yang masih berfikiran waras dan mau menggunakan akal sehatnya, tentu tidak akan mau hidup di bawah kekuasaan seperti itu, karena hal itu justru bertentangan dengan Islam sebagai ajaran yang penuh rahmat untuk semesta alam!

 

 

Check Also

Prof Hamid Dabashi: Berkat Mesin Pengumpul Data Anda, Terimakasih Saudara Mark !

Satu Islam, 22 April 2018- Saya melihat potongan kesaksian Anda di depan Kongres AS – dasi …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.