oleh

Menunggu Janji Jokowi Mengembalikan Hak Minoritas

ilustrasi-jokowi-JK-2-140521-andriSatu Islam – Berdasarkan rekapitulasi hasil perolehan suara di 33 Provinsi di Indonesia dan di Luar Negeri oleh KPU, calon presiden nomor urut dua, Joko Widodo dan Jusuf Kalla, resmi ditetapkan sebagai presiden dan wakil presiden 2014, mengalahkan pesaingnya pasangan Prabowo Subianto dan Hatta Rajasa.

Dalam hitungan itu, Pasangan Jokowi – JK memperoleh 70.997.895 (53,15 persen) suara dan Prabowo – Hatta mendapat 62.576.444 suara (46,85 persen).

Usai diumumkan sebagai pemenang Pilpres 2014 oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU), pasangan Joko Widodo- Jusuf Kalla, Selasa 22 Juli 2014 malam, langsung menuju Pelabuhan Sunda Kelapa, Jakarta Utara mendeklarasikan pidato kemenangan.

Setelah pelantikan Presiden ke-7 pada 22 Oktober 2014 dan menetapkan komposisi kabinetnya, Jokowi diharapkan memenuhi janjinya semasa kampanye.

Isu yang pernah dijadikan agenda utama kebijakan pemerintahnya semasa kampanya, diantaranya melindungi kelompok minoritas seperti Muslim Syiah, Jemaat Ahmadiyah dan Jemaat GKI Yasmin.

Muslim Syiah sampai saat ini masih menghadapi diskriminasi masif dari kaum intoleran. Bahkan, warga Syiah Sampang yang terusir dari kampung halamannya sampai kini masih berada di tempat pengungsian mereka di Rusunawa Jemundo Sidoarjo Jawa Timur.

Tidak jauh berbeda dengan warga Syiah Sampang, Hingga saat ini masa ada sekitar 30 keluarga Ahmadiyah yang terasing di negaranya sendiri. Mereka hidup di pengungsian di Wisma Transito, Mataram, Nusa Tenggara Barat.

Sejak tujuh tahun silam, jemaah Ahmadiyah mengungsi dari desa mereka di Ketapang, Lombok Barat setelah sebelumnya mengalami intimidasi dan kekerasan yang berujung pada pengusiran paksa. Sejak saat itu hidup mereka terombang-ambing dalam ketidakpastian hidup dalam banyak hambatan sosial dan ekonomi.

Jemaat GKI Yasmin Bogor juga begitu, hingga kini mereka belum bisa menggunakan Gerejanya untuk kepentingan ibadah. Gereja pun masih disegel oleh pemerintah kota Bogor.

Kasus pembangunan GKI Yasmin di Bogor, Jawa Barat, sudah berlarut-larut sejak bekas Walikota Bogor Diani Budiarto membatalkan izin pendirian GKI Yasmin pada 2008. Pada 2010 Mahkamah Agung bahkan sudah mengeluarkan putusan, yang meminta Walikota Bogor membatalkan pencabutan IMB. Namun belum ada aksi yang dilakukan.

Jokowi pernah berjanji akan memanusiakan kaum minoritas di Tanah Air, seperti kaum Ahmadiyah dan Syiah. Menurut tim pemenangan pasangan Jokowi-JK, Musdah Mulia, usai diskusi `Masa Depan Kebebasan Beragama dan Kelompok Minoritas di Indonesia` di Menteng, Jakarta Pusat, Rabu 18 Juli 2014, sebagaimana yang ditulis oleh liputan6dotcom, ia menyampaikan janji Jokowi.

“Pak Jokowi mengatakan semua orang harus dimanusiakan,” ujar Musdah Mulia.

Musdah mengatakan, warga Syiah yang masih mengungsi pun nantinya akan dipulangkan ke rumah masing-masing. Saat itu ketika ditanya wartawan, Musdah mengatakan “Oh ya, tentu saja. Masa mereka jadi pengungsi seumur hidup. Nggak mungkinlah begitu, nggak manusiawi.”

Tentu kita menyadari proses mengembalikan hak minoritas yang sudah dilanggar ini tidak semudah membalikkan telapak tangan. Memang ada mekanisme yang dirancang dan ditempuh untuk menyiapkan modal sosial pemulangan mereka dan pembangunan infrastruktur mereka yang telah hilang.

Rakyat bisa mengerti hal itu, dan pihak pemerintah dalam hal ini presiden dan wakil presiden yang telah dipilih, kelak harus menjaga konsistensinya sebagai pengemban amanat publik dan konstitusi sebagaimana yang pernah dijanjikan semasa kampanye.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed