oleh

Mengupas Mitos “Tanah Yang Dijanjikan”

Oleh: Muhammad Anis
Dosen Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga dan Pascasarjana “Kajian Timur Tengah” UGM, Yogyakarta.

Tanah yang dijanjikan (the promised land) adalah salah satu isu utama yang digunakan sebagai dalih dalam menggalang gerakan Zionisme dan menegakkan Negara Yahudi (the jewish state) yang digagas oleh Theodore Hertzl. Isu inilah yang kemudian dijadikan alasan untuk mengagresi tanah Palestina, mengusir warganya, dan melakukan pembantaian demi pembantaian hingga detik ini.

Argumentasi Teologis

Sejarah “tanah yang dijanjikan” dalam kacamata Islam sebenarnya telah selesai di masa lalu. Awalnya, Allah SWT berkehendak melengkapi rahmat-Nya bagi Bani Israel, karena itu Musa as berkata kepada mereka: “Wahai kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu.” (QS. al-Maidah: 21). Ketika Bani Israel mendengar ini, mereka enggan karena takut kepada para penguasa zalim yang tinggal di sana. Allah SWT ingin agar Bani Israel membebaskan Tanah Suci, agar penduduknya hanya menyembah Dia.

Tetapi, Bani Israel lebih menyukai hidup enak. Mereka ingin memperoleh segala sesuatu melalui mukjizat. Sehingga, mereka pun berkata kepada Musa: “Hai Musa, sesungguhnya dalam negeri itu ada orang-orang yang gagah perkasa, sesungguhnya kami sekali-kali tidak akan memasukinya sebelum mereka keluar dari sana. Jika mereka telah ke luar dari situ, pasti kami akan memasukinya.” (QS. al-Maidah: 22).

Hanya dua orang—dari ribuan orang Bani Israel—yang bersedia bangkit dan berkata: “Serbulah mereka dengan melalui pintu gerbang (kota) itu, maka bila kamu memasukinya niscaya kamu akan menang. Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (QS. al-Maidah: 23).

Namun mayoritas Bani Israel berkata pada Musa as: “Hai Musa, kami sekali-kali tidak akan memasukinya selama-lamanya, selagi mereka ada di dalamnya, karena itu pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja.” (QS. al-Maidah: 24).

Lagi-lagi Bani Israel mengingkari Musa, sehingga dia menjadi sedih, sehingga ia pun menengadah ke langit dan berkata: “Wahai Tuhanku, aku tidak menguasai kecuali diriku sendiri dan saudaraku. Sebab itu pisahkanlah antara kami dengan orang-orang yang fasik itu.” (QS. al-Maidah: 25).

Karenanya, Allah murka kepada Bani Israel, yang telah menyakiti dan tak mematuhi perintah Musa. Allah pun mengazab Bani Israel dalam bentuk keterasingan mereka di alam liar gurun pasir Sinai selama empat puluh tahun. Mereka hidup di tempat-tempat berbeda di gurun pasir tersebut selama masa itu. Dengan demikian, jelaslah bahwa isu “tanah yang dijanjikan” tersebut telah berakhir, dikarenakan penolakan dan pengingkaran kaum Yahudi sendiri.

Kenyataan historis Islam tersebut semakin dipertegas oleh pernyataan kelompok Yahudi yang tergabung dalam Naturei Karta, sebuah organisasi yang menentang keras gerakan Zionisme. Mereka menyebut diri mereka sebagai kelompok Yahudi Yudaisme, untuk membedakan dengan kelompok Yahudi Zionisme. Mereka menyatakan:

“Yudaisme merupakan keyakinan yang berasaskan pada wahyu di Sinai. Keyakinan ini menegaskan bahwa pengasingan adalah hukuman bagi kaum Yahudi dikarenakan dosa-dosa mereka. Sedangkan Zionisme telah lebih dari seabad menolak wahyu di Sinai itu. Keyakinan Zionis menyatakan bahwa pengasingan kaum Yahudi dapat diakhiri melalui agresi militer. Zionisme telah merampas hak warga Palestina, mengabaikan tuntutan mereka, serta menjadikan mereka sebagai target penganiayaan, penyiksaan, dan pembunuhan. Kaum Yahudi Taurat di dunia terkejut dan terlukai oleh dogma non-religius dan kejam ini. Ribuan ulama dan pendeta Taurat telah mengutuk gerakan tersebut. Mereka tahu bahwa hubungan baik kaum Yahudi dan Muslimin sebelumnya di Tanah Suci (Palestina) telah terlukai oleh gerakan Zionisme. Negara Israel yang disangsikan itu berdiri menentang Taurat. Karena itu, kami Naturei Karta berada di garis depan dalam perang melawan Zionisme selama lebih dari seabad. Kehadiran kami adalah untuk menolak kebohongan dan kejahatan Zionisme, yang mengatasnamakan orang-orang Yahudi. Berdasarkan keyakinan Yahudi dan hukum Taurat, kaum Yahudi dilarang untuk memiliki negara sendiri, sementara menunggu datangnya Sang Mesiah.”

Roger Garaudy, seorang ilmuwan Perancis, menyatakan bahwa isu “tanah yang dijanjikan” versi Israel tersebut merupakan mitos. Sehingga, yang sebenarnya terjadi adalah “tanah yang ditaklukkan” (the conquered land), bukan “tanah yang dijanjikan” (the promised land). Ia memberikan bukti-bukti konkrit yang mendukung pernyataannya tersebut dengan mengacu pada literatur-literatur Yahudi dan Kristen. Salah satunya, ia mengutip pernyataan Francoise Smyth (Dekan Fakultas Teologi Protestan di Paris saat itu): “Penelitian historis mutakhir telah menurunkan derajat ke taraf fiktif seputar representasi klasik eksodus (dari Mesir), penaklukan Kanaan, persatuan nasional Israel sebelum pengasingan, dan perbatasan-perbatasan. Historiografi Bibel tidak memberikan keterangan atas apa yang diceritakan.”

Dengan demikian, isu “tanah yang dijanjikan” yang digunakan oleh Israel sebagai dalih pendudukan atas Palestina sejatinya bukan merupakan ajaran Taurat maupun Injil, apalagi Islam.

Argumentasi Genealogis

Kaum Ashkenazi saat ini merupakan populasi terbesar dalam ras Yahudi, kurang lebih mencapai 80 persen dari total Yahudi di dunia. Jauh melampaui dua ras Yahudi lainnya: Sephardim dan Mizrahi. Di Israel, populasi Ashkenazi sekitar 48 persen dari total Yahudi yang ada di negeri ilegal tersebut. Sejak awal pendudukan Israel di Palestina, kaum Ashkenazi memainkan peran penting di bidang ekonomi, politik, dan media.

Mereka (kaum Zionis Ashkenazi) senantiasa menyebarkan narasi bahwa semua ras Yahudi berasal dari satu nenek moyang yang asli Palestina. Kemudian, pasca penaklukan oleh kaum Muslimin pada abad ke-7 M, mereka lari meninggalkan Palestina dan menetap di Eropa Selatan. Lalu pindah ke Eropa Timur, melalui Jerman. Narasi ini kerap disebut Hipotesis Rhineland. Ini dijadikan alasan oleh kaum zionis Ashkenazi untuk memiliki kembali Palestina.

Namun, saat ini seorang pakar dan peneliti genetika asal Israel lulusan Johns Hopkins University, Eran Elhaik, membantah narasi tersebut. Menurut penelitiannya, ras Yahudi Ashkenazi secara genetis berasal dari Kaukasus, suatu daerah di perbatasan Eropa dan Asia, yang berada di antara Laut Hitam dan Laut Kaspia. Bukan berasal dari Timteng (Palestina). Mereka adalah keturunan bangsa Khazar, yaitu orang-orang Turki yang tinggal di negeri-negeri besar di Eurasia, yang kemudian bermigrasi ke Eropa Timur pada abad ke-12 dan 13 M. Dan, bangsa Khazar telah berkonversi ke agama Yahudi pada abad ke-8 M. Ini senada dengan pandangan sebelumnya, yang dilontarkan oleh penulis dan jurnalis Yahudi kenamaan, Arthur Koestler, dalam bukunya yang terkenal “The Thirteenth Tribe” (1976).

Dari penelitian tersebut bisa disimpulkan pula bahwa klaim “tanah yang dijanjikan” tidak berlaku. Klaim kaum Zionis Ashkenazi tersebut gugur dengan sendirinya, disebabkan asal-usul mereka bukan dari keturunan Bani Israel. Melainkan, dari bangsa Khazar yang non-Yahudi. [IC-MES]

Referensi:

  1. Roger Garaudy, “The Founding Myths of Israeli Politics”. Telah diterjemahkan ke bahasa Indonesia dengan judul “Mitos dan Politik Israel”.
  2. www.nkusa.org, “Judaism versus Zionism”.
  3. www.nkusa.org, “Judaism and Zionism are not The Same Thing”.
  4. https://www.darkmoon.me/2013/top-israeli-scientist-says-ashkenazi-jews-came-from-khazaria-not-palestine/
  5. Arthur Koestler, “The Thirteenth Tribe: The Khazar Empire and Its Heritage”.
  6. https://www.britannica.com/place/Israel
  7. https://www.britannica.com/topic/Ashkenazi

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed