oleh

Mengapa AS Begitu Mengglorifikasi SDF?

Dalam pepatah Prancis ada kalimat “maju ra kuat, mundur isin” kurang lebih artinya terus maju melanjutkan suatu usaha tidak mampu, tetapi untuk mengakuinya sebagai kegagalan merasa malu. Untuk menutupi rasa malu itu, dibuatlah alasan atau rasionalisasi, sehingga tampak tetap keren, syukur-syukur masih bisa mengangkat kewibawaan.

Itulah tujuan media arus utama saat terus mengangkat berita mengenai keberhasilan SDF (Syrian Democratic force) pasukan pemberontak dukungan AS, dalam mengalahkan ISIS, untuk menunjukkan bahwa pasukan itu masih tetap eksis dan kuat berkat dukungan AS, dengan kata lain media bertujuan menampilkan wajah positif Paman Sam. Dan saat-saat ini sedang melakukan karya kemanusiaan besar dalam menyelamatkan rakyat Suriah dari hantaman ranjau darat yang telah ditanam oleh ISIS.

Demikian juga dengan kerja White Helmet masih terus ditampilkan sebagai relawan yang penuh cinta bekerja tanpa pamrih (3). Tak kurang dari NetGeo pun ikut meluncurkan puja dan puji terhadap White Helmet, sambil menghujat al-Assad, dalam film “Neraka di Bumi, jatuhnya Suriah dan bangkitnya ISIS”. Film bergenre dokumenter itu berdasarkan White Helmet sebagai sumber berita utama, sebagaimana diakui oleh Sebastian Junger yang membidani film itu.

Tentu saja kisah dari sisi lain yang juga berdasarkan bukti-bukti, tidak begitu saja bisa cocok dengan narasi media arus utama. Anda bisa membandingkannya di artikel ini. Bahkan Israel, sekutu utama AS di TimTeng pun, jelas secara terbuka mengungkapkan keengganannya melihat kekalahan ISIS.

Mungkinkan AS berbeda pendapat dengan Israel dalam hal ini? Direktur Indonesia Center for Meadle East Study (IC-MES), Dina Y. Sulaeman berpendapat bahwa para elite di AS mendefinisikan kepentingan Israel sebagai kepentingan AS. Pendapat itu bisa menjelaskan kebijakan AS di wilayah termasuk dalam hal kelompok teroris itu, yang juga dikukuhkan oleh berita baru bahwa AS menggelontorkan $5 juta untuk White Helmet (WH) yang umum diketahui berafiliasi dengan teroris. Dana itu dialirkan untuk WH, di luar wilayah Pemerintah resmi Suriah . Mengalirkan dana untuk organisasi yang melawan pemerintah sah pastilah bukan cara beradab menurut norma-norma hukum internasional!!!

Glorifikasi semacam itu memang bisa menyelamatkan wajah pemerintah AS. Dalam perang Vietnam misalnya. Pasukan AS dan koalisinya terpaksa hengkang setelah dipecundangi pasukan Vietnam dengan menggunakan taktik perang gerilya. Dan kemudian muncul banyak film layar lebar berkaitan dengan perang Vietnam. Dalam hampir semua film itu AS dengan cara tertentu ditampilkan sebagai pemenang berwajah tanpa dosa.

Tokoh Rambo misalnya, menjadi super Hero baru di abad 20. Rambo seorang veteran perang Vietnam, kembali ke Vietnam untuk membebaskan rekannya dengan mengalahkan puluhan (bahkan ratusan) tentara Vietnam seorang diri. AS tetap sukses memenangkan perang Vietnam, meskipun hanya di layar lebar, yahhhh lumayan lah. Kegagalan AS dan kroninya dalam menggulingkan Bashar al-Assad sangat memalukan. Untuk itu perlu diambil langkah-langkah “penyelamatan wajah” AS. Tugas penyelamatan itu diserahkan pada media barat, termasuk NetGeo sebagai bagian dari media arus utama barat.

Bagaimanapun AS memang membutuhkan SDF sebagai ujung tombak dan sekaligus tameng hidup bagi kepentingannya sendiri dan juga terkait kepentingan Israel. SDF sudah terlanjur dipelihara dan terus disuapi, maka tentu akan tetap setia membela kepentingan AS di wilayah khususnya terkait Israael.

Pertama, SDF sangat bermanfaat untuk melindungi perbatasan Israel-Suriah setelah menyatakan kedaulatannya atas Dataran Tinggi Golan didukung oleh AS. Maka tidak mengherankan jika media barat selalu menyebut SDF sebagai militer Suriah dukungan AS, walaupun sejatinya SDF merupakan kelompok separatis / pemberontak bersenjata. Keberadaan SDF akan sangat dibutuhkan dalam rangka mengganggu Suriah. Pasukan pemerintah Suriah, Syrian Arab Army (SAA) tentu akan ada rasa “ewuh pekewuh” jika harus memerangi SDF (yang de facto sebagian berasal dari SAA), karena pada dasarnya SAA memang menghindari perang sesama saudara, kecuali jika sangat terpaksa.

Kedua, mempertahankan keberadaan SDF merupakan cara halus untuk mengkoarkan bahwa Suriah masih dalam keadaan perang. Dalam keadaan demikian penggunaan senjata memiliki dasar yang kuat, jika suatu saat dibutuhkan untuk kembali menggoyang Assad. Maka sangat masuk akal bahwa media barat menampilkan wajah manis SDF dan WH, dan otomatis menampilkan wajah buruk Assad dan SAA. Memang itu yang dituju.

Ketiga, eksistensi SDF juga diharapkan mampu menahan pengaruh Iran-Rusia di kawasan. Seperti diketahui Laskar Hizbulloh dukungan Iran, mempunyai peran cukup besar dalam memukul mundur milisi-milisi pemberontak yang melawan pemerintah Suriah. Hizbulloh memang bukan pasukan militer reguler, tetapi mereka mempunyai kemampuan yang sudah teruji, dengan kemampuan sebanding (bahkan mungkin lebih) dari pasukan militer reguler negara lain. Tentu orang masih ingat betapa IDF (Israel Defence Force) pernah dipukul mundur dari Libanon selatan. SDF diharapkan mampu menjadi bemper melawan Hizbulloh sekaligus mengerdilkan peran laskar itu.

Keempat, AS akan menghemat biaya jika memberi dukungan logistik pada SDF, dibandingkan dengan mengirim pasukan regulernya ke kawasan. Ini strategi cerdik sekaligus kejam. Disebut “strategi kejam” karena SDF lah yang akan babak belur saat dipaksa untuk melakukan pertempuran-pertempuran sporadis di sekitar perbatasan Suriah. Harap diingat bahwa di perbatasan ada beberapa kelompok milisi lain yang saling bersaing satu sama lain.
Tentu anggota-anggota SDF sadar mengenai hal-hal tersebut di atas, tetapi memang tidak tersedia banyak pilihan setelah mereka mengambil posisi melawan Suriah dan ternyata kalah. Maka mereka tidak punya kemungkinan lain kecuali terus menerima perintah dari AS.

Jadi bagaimanapun SDF dan WH perlu terus dipertahankan dengan sokongan logistik dan umbaran berita agar tetap eksis demi kepentingan Israel-AS dan Barat. Dan itu berarti kawasan itu masih jauh dari kata “DAMAI”.

Semoga cinta selalu ada dalam hati setiap dalam hati setiap manusia. Semoga kebaikan selalu dapat mengalahkan keinginan untuk perang. Salam damai selalu.

Felix Irianto Winardi

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed