oleh

Meneladani Ulama Moderat Syaikh Ramadhan Al-Buthi

634994729792877417_333.jpg_q_1Satu Islam, Jakarta – Masyarakat dunia kehilangan seorang sosok tersohor dan pemikir Islam moderat yaitu Syaikh Sa’id Ramadhan Al-Buthi yang sering menyuarakan tentang pentingnya persatuan Islam dan perdamaian. Setahun yang lalu, ulama pendukung Presiden Bashar Assad ini telah meninggalkan kita. Beliau wafat pada Kamis malam 21 Maret 2013, diakibatkan adanya ledakan bom bunuh diri saat dirinya mengisi pengajian rutin di Masjid Jami Al-Imam, Damaskus.

Untuk memperingati itu, Pondok Pesantren Putri Al-Kenaniyah, Pulomas, Jakarta Timur menggelar acara tahlilan, dzikir dan tausiyah (26/3/2014). Acara tersebut disampaikan oleh ulama besar dari Suriah Syaikh Wahbah Al-Zuhaili, Syaikh Nabil Al-Jawwad, Mantan Ketua PBNU KH Hasyim Muzadi, dan DR Lutfi Fathullah. Keempat narasumber tersebut bergantian menyampaikan pengalaman-pengalaman almarhum Syaikh Ramadhan Al-Buthi.

Syaikh Wahbah Al-Zuhaili, seorang mufasir Al-Qur’an dengan karya monumentalnya Al-Tafsir Al-Munir Fi Al-Aqidah Wa Al-Syari’ah Wa Al-Manhaj, menyampaikan pengalaman beliau, selama 40 tahun bersama Syaikh Al-Buthi di Damaskus. “Syaikh Al-Buthi mempunyai kedekatan yang cukup erat dengan Indonesia. Buku-buku beliau juga sangat banyak seperti fiqh Syirah, Allamadzhabiyah, Syraha Kitab Hikam dan lainnya. Selama 40 tahun saya bersama syaikh Al-Buthi tidak pernah berbeda pendapat kecuali untuk sepakat. Syaikh Al-Buthi merupakan seorang zuhud, ‘arif (bijaksana) dan pembaharu Islam. Ketawadhu’an beliau bisa kita lihat dari tidak mau menerima imbalan apapun, tidak mempunyai kendaraan, dan hidup dengan apa adanya. Seorang pembaharu yang konsisten memperjuangkan Islam yang berdasarkan Al-Qur’an dan Al-Sunnah tanpa takut kepada siapapun. Beliau membawa panji-panji Islam dengan gigih dan berani.”

Mantan Ketua PBNU, KH Hasyim Muzadi turut pula menyampaikan pengalaman beliau bertemu sebanyak tiga kali dengan Syaikh Ramadhan Al-Buthi, yang salah satunya tatkala anaknya Yusron Al-Shidqi diterima menjadi murid Syaikh Al-Buthi.

KH Hasyim mengatakan, “Mengapa saya ingin bertemu dengan Syaikh Al-Buthi? Saya ingin membuktikan jika selama ini beliau dikenal dengan seorang yang zuhud, akhirnya saya dengan beberapa ulama dari Indonesia bersilaturrahmi kepada beliau di Suriah.”

KH Hasyim mengatakan apa yang dikatakan oleh Syaikh Wahbah Al-Zuhaili diatas betul, tetapi untuk kontek pembaharu, Syaikh Ramadhan Al-Buthi adalah seorang pembaharu yang tidak menciptakan sesuatu dari tiada menjadi ada, tetapi memoles sesuatu yang lama menjadi baru dan terlihat sesuatu itu belum pernah ada.

Syaikh Nabil Al-Jawwad, menyampaikan tausiyah terkait kepergian seorang ulama besar. Beliau mengatakan, “Jadilah orang-orang yang berilmu, karena orang yang berilmu akan dikenang sepanjang masa. Seperti yang ada dalam ayat Al-Qur’an, ‘diantara orang-orang yang takut kepada-Nya hanyalah para ulama (orang yang berilmu)”. Kita mendoakan semoga Syaikh Ramadhan Al-Buthi wafat dalam keadaan syahid, dan kita generasi penerusnya yang selalu mempelajari ilmu-ilmunya mendapat keberkahan.”

Penyampaian terakhir oleh murid Syaikh Al-Buthi yaitu DR Lutfi Fathullah, ia berguru kepada Syaikh Al-Buthi selama 5 tahun dirumah kediaman beliau. Lutfi Fathullah mengatakan bahwa ia tidak akan menjadi orang seperti sekarang ini, yang mengajar di 30 pasca sarjana, mengisi di stasiun televisi TVRI dan beberapa tempat pengajian tanpa jasa almarhum. Ia juga mengungkapkan bahwa oang kedua yang mempengaruhi pola pikir saya setelah KH Zarkasyi. Ia merasa bersyukur mendapat rekomendasi dari Syaikh Al-Buthi karena tidak semua orang diberikan rekomendasi teraebut. Terakhir beliau mengatakan jika ingin melihat rekaman video-video syaikh Al-Buthi, agar kita selalu mengenang jasa-jasa beliau, seilahkan buka situs http://warungustad.com/.

Selamat jalan guru tercinta kami, Syaikh Ramadhan Al-Buthi, semoga Allah mempertemukanmu dengan kanjeng Nabi, bertemu Allah Swt dan orang-orang yang dikau inginkan, kami sebagai murid-muridmu hanya bisa berdo’a, semoga Allah mengampuni dosa-dosamu dan menempatkanmu di tempat yang layak. Wallahu A’lam bi Al-Shawab.. (Muhammad Makmun Rasyid/ Satu Islam)

 

Editor : Jehan

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

2 comments

  1. Ping-balik: Syaikh al-Buthi: Jangan Kafirkan Ahlul Kiblat | SYIAH INDONESIA

News Feed