oleh

Menangnya Perjuangan Petani Karawang dan Peran Muhammadiyah

Foto: muhammadiyah.or.id

Satu Islam, Jakarta – Perjuangan 267 orang petani Kampung Cisadang, Teluk Jambe, Karawang, akhirnya menemui titik cerah. Setelah lebih dari 8 bulan hidup terlantar di penampungan, Presiden Joko Widodo akhirnya menyatakan bahwa ia akan menjamin petani Karawang mendapatkan haknya atas lahan dan tempat tinggal di Karawang, beserta dengan penerbitan Sertifikat Hak Milik (SHM)

Pengacara publik Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta, Alldo Fellix Januardy mengatakan janji Presiden dengan petani dilakukan dalam pertemuan tertutu pada tanggal 3 Mei 2017 lalu di Istana Negara Republik Indonesia.

“Dalam pertemuan itu, Joko Widodo memerintahkan Sofyan Djalil, Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia untuk segera memetakan ulang lahan di kawasan Teluk Jambe untuk diredistribusikan sebagai lahan pengganti pertanian warga,”kata Alldo Sabtu 6 Mei 2017 sebagaimana diberitakan RMOL.

Selama proses transisi dan pengukuran tanah, Presiden Jokowi menginstruksikan Bupati Karawang, Cellica Nurrachadiana, untuk menampung para petani Karawang di rumah dinas Bupati Karawang.

Diintruksikan pula Kementerian Sosial Republik Indonesia juga akan mengalokasikan dana jaminan hidup sebesar Rp 900.000,- (sembilan ratus ribu Rupiah) per orang per bulan selama 1 (satu) bulan sebagai dana bantuan sosial untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Petani Karawang telah mengalami penggusuran paksa dengan kekerasan sejak bulan Oktober 2016 akibat konflik lahan dengan PT. Pertiwi Lestari, perusahaan yang diduga menduduki lahan hutan negara secara ilegal.

Konflik itu mengakibtakan 11 orang petani sempat menjadi korban kriminalisasi atas tuduhan pengeroyokan dan disidangkan di Pengadilan Negeri Karawang. Hanya 6 di antaranya yang dinyatakan tidak bersalah oleh Majelis Hakim.

Selama berjuang di penampungan, 3 orang petani bernama Ibu Awen, Bapak Ideng, dan Bapak Idi yang meninggal dunia karena mengalami trauma akibat konflik agraria.

Keberhasilan advokasi kasus ini tidak lepas dari besarnya semangat dan pengorbanan mereka yang perlu dikenang abadi. Tak hanya itu, ratusan petani Teluk Jambe, Karawang itu juga pernah melakukan aksi kubur diri selama 8 bulan di depan Istana Negara, Jakarta. Mereka menuntut keadilan atas perampasan tanah mereka.

Selama aksi protes,  sebagaimana diberitakan muhammadiya.or.id, para petani memilih menginap di Masjid Taqwa PP Muhammadiyah Menteng Jakarta. Setelah beberapa malam menginap di Gedung Pusat Dakwah PP Muhammadiyah sambil terus berdemo di siang hari, ratusan petani Teluk Jambe pada Senin, 20 Maret 2017, direlokasi ke Panti Asuhan Muhammadiyah, Jalan KH Mas Mansyur 57, Tanah Abang, Jakarta Pusat. Semua kebutuhan mereka selama di Panti Asuhan ditanggung Muhammadiyah.

Kini mereka telah direlokasi ke rumah dinas Bupati Karawang mulai hari ini, Sabtu 6 Mei 2017 pukul 13.00 WIB. Para petani dari Karawang menyampaikan terima kasih pada Persyarikatan Muhammadiyah yang telah menampung dan membantu advokasi mereka selama sebulan lebih.

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir menyatakan akan mengawal kasus ini sampai tuntas dan hingga para petani kembali mendapatkan tanah beserta sertifikatnya dan semua hak-haknya.

“Dengan semangat al-Ma’un, para petani Karawang kami bantu. Kami berharap ada jalan lanjutan untuk pemecahan kasus terhadap petani Karawang,” ucap Haedar.Lanjut Haedar, Muhammadiyah akan senantiasa menunjukkan sikap keberpihakan kepada kaum dhu’afa-mustadh’afin.

Haedar mengatakan, sejak awal, Muhammadiyah terus melakukan beragam cara untuk mewujudkan keadilan dan menghilangkan segala bentuk kesenjangan sosial-ekonomi.

“Muhammadiyah terus berupaya dalam hal pemberdayaan, pembebasan, dan pemajuan untuk umat dan bangsa,” kata Haedar.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed