oleh

Memikir Ulang Paradigma Gerakan Islam

Dok : ariefgustiputra.net
Dok : ariefgustiputra.net

Oleh : M. Subhi Ibrahim*

Prof. Dr. Nurcholish Madjid (Cak Nur) membagi perjuangan menjadi dua; perjuangan proaktif atau fight for (berjuang untuk) dan perjuangan reaktif atau figh against (berjuang melawan). Keduanya penting, punya fungsi masing-masing sesuai konteks historisnya. Bahkan, kedua model ini bisa berjalan seiring.

Sebagai contoh kasus: Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Pada tahun 60-an, dan awal 70-an, HMI cenderung pada fight against. Yaitu perjuangan melawan penyokong ideologi anti-agama dan anti-Pancasila, wa bi al-khusus PKI. Pada waktu yang sama, HMI pun fight for, yang proaktif dan positif. HMI bukan sekedar melawan konsep PKI dan para pendukungnya, bahwa Pancasila hanyalah bernilai instrumental (alat pemersatu) yang bila telah tercapai tujuannya bisa dibuang; HMI pun berpendapat bahwa, Pancasila adalah jiwa bangsa, titik temu (kalimah al-sawa’) berbagai golongan di tanah air.

Dalam konteks kekiniaan, kita butuh fight for daripada fight against. Maksudnya, yang lebih diprioritaskan adalah kemampuan berpartisipasi secara proaktif dan positif dalam pembangunan. Oleh karena itu, penekanannya bukan sekedar semangat berapi-api dan berkobar an sich, melainkan kemampuan teknis yang tinggi: kemampuan yang berorientasi pada problem solving (pemecahan masalah) daripada solidarity making (penciptaan solidaritas).

Dengan demikian, Hattaisme lebih dibutuhkan dibanding Sukarnoisme. Hal ini simplistic, namun ada benarnya, karena ciri kepemimpinan Bung Hatta adalah problem solving, sedangkan ciri kepemimpinan Bung Karno adalah solidarity making. Jadi, saat ini kita lebih banyak memerlukan Hatta-Hatta, dan sedikit saja memerlukan Soekarno-Soekarno, meskipun sejumlah Soekarno tetap berguna.

Singkatnya, paradigma gerakan-gerakan Islam wajib digeser dari pola fight against ke fight for. Harus diakui, perjuangan dengan tekanan pada problem solving sebagai wujud dari fight for yang proaktif lebih sulit, lebih ‘dingin’, lebih bersifat ‘kerja tekun’ daripada ‘kerja berkobar’. Karena itu, ‘kerja tekun’ sebagai pola perjuangan menjadi kurang populer bagi orang banyak (awam). Tentunya, jika dibandingkan dengan solidarity making dan fight against yang lebih mudah dituangkan dalam retorika-retorika panas, negativistik, provokatif, populer, dan mengairahkan orang banyak.

Tapi ingat, menurut Cak Nur, fight against menurut tabiatnya akan selalu bersifat jangka pendek, sedangkan fight for akan bersifat jangka panjang dan mengikuti garis kontinum yang tidak terputus-putus, dengan grafik yang selalu menanjak.

Tradisi Intelektual
Fight for membutuhkan bahan bakar keilmuan. Oleh sebab itu, perlu penggairahan kembali tradisi intelektual. Bercermin pada sejarah klasik Islam, kita bisa belajar dari al-Ghazali misalnya. Tradisi intelektual muslim Indonesia memang masih muda. Bayangkan, ketika al-Ghazali sibuk menulis karya polemisnya yang sangat filosofis, Indonesia (baca:Jawa) menyaksikan kekuasaan kerajaan Dhaha atau Kediri dengan rezim Jayabayanya.

Al-Ghazali dan Jayabaya hidup satu kurun, yakni abad ke-11 Masehi. Sebagaimana al-Ghazali yang meninggalkan karyanya, seperti Ihya ulum al-Din, Jayabaya pun meninggalkan karya tulis, yakni Jangka Jayabaya. Tanpa bermaksud mengurangi nilai warisan nenek moyang sendiri, namun jelas, dari sudut penilaian yang tidak apriori memihak, terdapat perbedaan kualitatif antara isi karya warisan kedua tokoh ini.

Al-Ghazali mewariskan suatu rangkaian karya-karya renungan filosofis yang mendalam, selain yang bersifat polemis. Sedangkan Jayabaya mewariskan suatu karya yang oleh banyak orang dipandang sebagai kreatifitas imaginatif, jika bukan khayalan dan reka-reka belaka.

Yang paling menarik dari tradisi intelektual Islam adalah tradisi menulis. Perbedaan, pertentangan bahkan perseteruan pendapat selalu dituangkan dalam bentuk buku. Saat al-Ghazali tidak setuju dengan pikiran-pikiran Ibn Sina, ia curahkan ketidaksetujuannya tersebut dalam bentuk buku Tahafuth al-Falasifah (kerancuan para filosof). Begitu pula, ketika Ibn Rusyd tidak sependapat dengan al-Ghazali, ia menyusun buku Tahafuth Tahafuth (kerancuan dari kerancuan).

Ketegangan intelektual klasik Islam tersebut menjadi produktif dan memperkaya khazanah keilmuan Islam. Oleh karena itu, lebih layak dan elegan bila ketidaksetujuan kita terhadap pandangan yang berbeda dengan kita dan kelompok kita pun, dituangkan dalam bentuk karya-karya keilmuan yang berkualitas tinggi. Sehingga anak cucu kita kelak membaca, bahwa kita membangun kebudayaan dan peradaban Indonesia dengan tinta, bukan dengan darah.

Melawan Kharijisme
Yang paling mengerikan dari gerakan keagamaan adalah bila terasuki kharijisme. Sebagai kelompok sosial, Khawarij telah punah. Namun, manifestasi ideologisnya masih kita temukan pada sikap kaku dalam berpegang pada kerangka pikir kelompok kita, dan tidak menghormati pemahaman kelompok lain, serta dengan gampang mengkafirkan sesama muslim hanya karena berbeda pikiran dengan kita, lalu menghalalkan darahnya. Atau kita halalkan segala hal—fitnah, kebohongan, tirani, penyalahgunaan kekuasaan—untuk menjatuhkan orang yang tidak sepaham dengan kita.

Dalam bentuk apa pun, kharijisme merugikan. Apalagi dalam konteks kebangsaan. Pluralitas bangsa Indonesia membutuhkan sikap toleran yang tinggi. Kegagalan untuk menghargai the other (yang lain) adalah bencana dalam relasi hidup berbangsa dan bernegara.

Atmosfir toleransi bisa dibangun dengan dialog, yang mengutamakan otak daripada otot. Gerakan-gerakan keagamaan sudah selayaknya membangun tradisi dialog, yang mengedepankan argumen-argumen rasional dibanding pengerahan massa. Apalagi bila mau mencontoh al-Ghazali, alangkah berwarnanya langit keberagamaan di bumi pertiwi ini.

Wa Allahu a’lam bi al-shawabi

)* Dosen Falsafah dan Agama Universitas Paramadina Jakarta

Editor : FA

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed