oleh

Membangun Umat Islam Modern di Indonesia

jemma purdey
Dr. Jemma Purdey pada acara peluncuran buku biografi almarhum Profesor Herb Feith, seorang pelopor Indonesianis Australia, yang ditulisnya. (Foto: Situs ‘Monash Arts’, Yayasan Herb Feith)

Satu Islam, Jakarta – Ketika rakyat Indonesia menunaikan hak pilih mereka dan larut dalam pesta demokrasi, di saat yang bersamaan, mereka juga dihadapkan pada tantangan dari sektor pendidikan Islam dan sejumlah institusi penting di dalamnya, seperti pesantren, madrasah dan kampus Islam negeri.

Tak dapat dipungkiri, isu agama telah berperan penting dalam Pemilihan Presiden Indonesia 2014.

Dr. Jemma Purdey, seorang peneliti dari Deakin University, mempelajari kebangkitan popularitas Prabowo Subianto sebagai seorang politisi. Ia menemukan adanya sudut pandang agama dalam kiprah Prabowo – dan isu agama yang ia mainkan dalam musim kampanye Pemilu.

Jemma menilai, Prabowo berusaha mengisyaratkan bahwa jika ia terpilih sebagai Presiden, maka ia akan mendukung konsep pemurnian Islam. Beberapa kalangan mengartikan isyarat ini sebagai pertanda bahwa Prabowo akan melanjutkan pendekatan diskriminatif terhadap kelompok minoritas. Namun tentu saja hal ini belum dapat dibuktikan.

Pemilu Indonesia kali ini bukannya dijalankan di atas isu agama dengan pesan besar yang tersirat. Namun, partai-partai yang terlibat menggunakan agama sebagai saluran oportunis dalam kampanye, khususnya dalam kampanye hitam.

“Dan karena itu anda mendengar kampanye hitam tentang Jokowi – tuduhan bahwa ia bukan seorang Muslim, bahwa ia kemungkinan seorang nasrani, dan muncul pertanyaan akan identitas ke-Islaman Jokowi. Dan di sisi lain, anda juga mendengar pesan serupa tentang Prabowo, dan bukannya mengamini tuduhan itu, namun keluarga Prabowo banyak yang nasrani. Adiknya adalah penganut Kristen ‘evangelist’ Amerika yang taat, begitu pula dua anaknya,” ujar Jemma.

Ia menambahkan, “Jadi Prabowo memang berlatar belakang pluralitas agama yang kuat di dalam keluarganya sendiri dan justru Jokowi-lah yang disorot dan dipertanyakan status ke-Islamannya.”

Peneliti ini mengungkapkan, di Indonesia, agama adalah hal yang penting tidak seperti di Australia, di mana masyarakatnya lebih suka tak membicarakan agama. Agama adalah sebuah syarat penting yang harus dilewati kandidat politik.

Terlepas dari itu, kedua kandidat Presiden Indonesia berkampanye dengan janji untuk mendukung peningkatan pendidikan, baik peningkatan dalam kualitas pendidikan dan juga akses terhadap pendidikan itu sendiri.

Sebagian kecil anak-anak Indonesia tidak pernah bersekolah dan mengenyam pendidikan formal apapun dan sekitar 20% anak-anak Indonesia bersekolah kurang dari 6 tahun.

Beberapa sekolah yang ada di Indonesia termasuk sekolah Islam swasta, atau pesantren. Sekolah seperti itu berada dalam kelompok institusi pendidikan Islam, yang terdiri atas pesantren, madrasah, dan lebih tinggi lagi yakni universitas Islam.

Pendidikan di PesantrenAda ribuan institusi pendidikan Islam di seluruh Indonesia – dan 30% pelajar Indonesia bersekolah di sebuah pesantren atau sekolah agama harian, madrasah. Yang perlu dicatat, sekolah-sekolah Islam tersebut tidak sama dengan citra madrasah di Timur Tengah. Di Indonesia, sebuah madrasah harus mengajarkan bobot kurikulum pemerintah hampir sebesar 70% dari kurikulum yang diterapkan di sekolah itu. Banyak pesantren juga menerapkan sistem yang sama.

Bagi kebanyakan orang, pola pikir dan dukungan yang diberikan pesantren bagi mereka adalah sebuah hal yang penting, sebuah asupan sosial bagi kehidupan mereka. Tak hanya pendidikan agama, mereka juga mendapat sebuah komunitas.

“Kami punya perkemahan musim liburan untuk anak-anak dan seperti anda tahu, minat seseorang bisa begitu besar untuk menerima pendidikan jenis baru. Yang mengejutkan, ribuan sekolah ini – baik yang sederhana ataupun prestisius atau yang berada di tengah-tengah kategori tersebut – benar-benar independen. Itu juga berarti bahwa mereka juga memiliki derajat independensi yang mumpuni dari pemerintah,” jelas Shobikhan Ahmad, Kepala Sekolah Islam ‘Al-Mubtadi’ dan ‘Hidayatul Mubtadi’ di Yogyakarta yang juga Kepala Pesantren ‘Hidayatul Mubtadi’.

Menurut Jeremy Kingsley, seorang peneliti dari Institut Penelitian Timur Tengah Universitas Nasional Singapura (NUS), sekolah-sekolah Islam tersebut awalnya memang independen.

“Mereka berada di bawah pengawasan atau kepemimpinan seorang pemuka agama, atau seorang Ulama. Di Pulau Jawa, mereka disebut sebagai ‘Kyai’. Di Lombok, tempat saya melakukan sebagian besar penelitian saya, mereka dipanggil ‘Tuan Guru’. Mereka memiliki julukan yang berbeda di tiap daerah Indonesia,” urainya.Masa depan sekolah Islam di Indonesia kini diperebutkan. Bukan karena mereka beresiko punah, tapi karena mereka kini dipandang serius, termasuk dalam dekake terakhir ini di mana Pemerintah Australia turut mengucurkan dana lewat program AUSAID.

Dukungan Australia banyak mengalir ke sekolah-sekolah Islam dalam berbagai program untuk meningkatkan standar pendidikan.

Jamhari Makruf menuturkan, hal tersebut bisa dipahami, mengingat di sekolah-sekolah Islam, ada potensi kemunculan radikalisme agama dan jika kita mengingat sosok Abu Bakar Ba’ashir, tokoh ideologis Jamaah Islamiyah, ia memimpin sebuah pesantren yang terkait dengan pejuang jihad.

“Dalam dua atau tiga tahun ini ada sekitar 300 pesantren yang didanai Australia. Saya pikir dampaknya cukup besar,” ujar Jamhari.

Ia menuturkan, ada semacam ‘perang’ antara kelompok Islam konservatif dan progresif, namun institusi pendidikan Islam harus mampu mencetak Muslim yang mengerti pengajaran agama yang modern, memahami karakter orang Indonesia dengan perspektif global.

“Kami berusaha memahami konsep agama dan Ketuhanan Barat. Di saat yang sama, kami juga harus mencari teori dan konsep yang pas dalam tradisi kami sehingga kita bisa bertemu di tengah. Saya tak sepakat dengan adanya Islamisasi pengetahuan karena ini menyiratkan bahwa ada pembedaan, jurang yang cukup besar antara Island an ilmu pengetahuan. Kami yakin bisa tercapai integrasi di antara dua konsep ini,” kemuka Jamhari.

Jamhari Makruf, organisasi Islam Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama adalah bagian dari anggota masyarakat sipil Islam yang berpengaruh. Mereka sejatinya berada di tengah, namun itu bukan berarti bahwa mereka sama sekali tak memiliki dimensi politik. Jika kita merujuk pada Pemilu Indonesia tahun ini, kelompok tersebut banyak dilibatkan.(Tribunnews)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed