oleh

Membangun Kebersamaan dalam Masyarakat Plural

Oleh : Abdul Hakim

Suatu ajaran yang tidak sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan seringkali membuat para pendukungnya berusaha untuk memaksa orang lain untuk menerima apa yang menjadi keyakinan mereka. Hal seperti itu, biasanya dimulai melalui proses indoktrinasi dan pencucian otak.

Ajaran seperti ini sangat anti kritik dan menolak logika sebagai dasar dalam mengukur sebuah kebenaran. Para pengusungnya tidak mengenal dialog dengan pihak lain, karena apa yang ada padanya telah diyakini sebagai kebenaran mutlak.

Sikap seperti itu, biasanya sangat menonjol dalam kelompok-kelompok keagamaan yang menganut paham eksklusivisme. Yaitu suatu paham yang mengklaim sebagai pemegang tunggal kebenaran suatu ajaran. Dan, terhadap mereka yang tidak sepaham, secara serta merta akan dianggap sebagai kelompok sesat yang harus dimusuhi.

Paham seperti inilah yang banyak mewarnai cara pandang masyarakat kita pada saat ini. Karena sikap anti kritik dan logika itu, masyarakat akan sangat mudah dibangkitkan rasa solidaritasnya, melalui sentimen keagamaan dan primordial lainnya. Hal seperti itu, tentu saja akan menjadi sasaran empuk bagi para petualang politik dan kekuasaan, untuk memanpaatkannya demi memenuhi kepentingan mereka sendiri.

Namun, hal itu seringkali tidak disadari, karena luapan emosi dan fanatisme yang menihilkan penggunaan akal sehat. Dalam sebuah bangsa yang multi kultur dan plural seperti Indonesia, sikap dan pandangan keagamaan eksklusif seperti itu, tentunya sangat tidak kompatibel. Bagi bangsa yang penuh keragaman seperti ini yang diperlukan adalah sikap inklusif, moderat, toleran, dan semangat kebersamaan. Ketika ada satu kelompok yang berusaha memaksakan kehendaknya sendiri dengan menafikan kesepakatan bersama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, maka yang akan kita saksikan adalah kehidupan masyarakat yang penuh dengan pertentangan dan permusuhan, dan pada akhirnya kehancuran.

Apa yang diungkap di atas lazim terjadi  di dalam lingkungan masyarakat yang masih diliputi oleh cara pandang yang sempit dalam melihat suatu persoalan, khususnya yang berkaitan dengan masalah suku, etnis, dan agama seringkali muncul benturan dan pertentangan yang sangat keras. Hal seperti itu biasanya terjadi karena masing-masing orang atau kelompok hendak memaksakan pendapatnya sendiri sebagai sebuah kebenaran yang harus diikuti.

Gejala seperti itu tentu tidak boleh terus dibiarkan. Karena, lambat laun ia akan membuat masyarakat tersebut menyimpan penyakit akut dan sewaktu-waktu bisa membuat letupan sosial yang tidak kita inginkan bersama. Karena itu, seruan dari para tokoh bangsa dan ormas keagamaan mengenai pentingnya toleransi, menjaga persatuan, menghormati kebhinekaan, dan mematuhi hukum yang berlaku, sangat penting untuk terus disosialisasikan.

Berbagai kerusuhan dan kekerasan berlatar SARA yang telah berulangkali terjadi di tanah air kita, seharusnya telah cukup menjadi pelajaran berharga bagi setiap warga bangsa. Telah cukup banyak darah dan nyawa dari penduduk negeri kita yang dikorbankan karena ambisi dari sekelompok kaum intoleran yang sudah tidak peduli dengan nilai-nilai suci ketuhanan dan kemanusiaan sebagaimana tercantum dalam falsafah dan dasar negara Pancasila.

Apa yang terjadi di negara-negara Timur Tengah sekarang ini, berupa perang saudara yang telah meluluhlantakkan seluruh sisi kehidupan mereka, seharusnya memberikan gambaran yang sangat jelas mengenai betapa sia-sia dan absurdnya segala bentuk permusuhan, pertentangan, dan peperangan yang tak berkesudahan itu.

Sesungguhnya, apabila setiap orang telah memahami betul arti pentingnya kedamaian, persatuan, dan penghargaan terhadap kebhinekaan yang ada dalam kehidupan umat manusia di dunia ini, seharusnya yang menjadi pusat perhatian adalah bagaimana setiap orang atau kelompok dapat memberikan kontribusi terbaik bagi kemajuan bangsa dan negara dalam pelbagai bidang keunggulan yang mereka miliki.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed