loading...
Home / Kemanusiaan / Memaknai Kemanusiaan dan Keindonesiaan Gus Dur
loading...

Memaknai Kemanusiaan dan Keindonesiaan Gus Dur

Oleh: Mamang M. Haerudin

Satu Islam – 30 Desember adalah hari dimana empat tahun silam, salah seorang pejuang kemanusiaan, Abdurrahman Wahid (Gus Dur) telah berpulang dengan damai keharibaan-Nya. Dialah manusia biasa yang begitu mencintai semua umat manusia apapun latar belakang sosialnya dengan seluruh makna kemanusiaannya.

Jika ditelusuri dari sekian lama perjalanan hidupnya, Gus Dur merupakan ikon bangsa sebagai orang yang paling konsisten dalam mengusung makna kemanusiaan dan keindonesiaan. Sebagai penganut agama (Islam) yang baik, Gus Dur tak serta merta mengamalkan gagasannya tanpa rujukan yang jelas. Tentang kemanusiaan, gagasan ini berdasar pada QS. Bani Israil [17]: 70, “Sungguh, telah Kami muliakan bani Adam (manusia), dan Kami angkut mereka di darat dan di laut. Kami bagi mereka rezeki yang baik-baik, dan Kami utamakan mereka melebihi sebagaian besar makhluk yang Kami ciptakan.”Dan tentang keindonesiaan, berdasar pada QS. al-Hujurat [49]: 49, “Hai manusia, Kami ciptakan kamu dari laki-laki dan perempuan. kami menjadikan kamu berbagai bangsa dan suku, supaya kamu saling mengenal.”

loading...

 

Demikian, maka ketika banyak orang beramai-ramai berteriak membela Tuhan, Gus Dur justru membela manusia. Karena katanya, Tuhan tak perlu dibela dan Dia tak sedikit pun perlu pada pembelaan manusia. Manusialah yang mesti dibela, karena ia rentan terhadap diskriminasi dan kekerasan. Gus Dur tahu betul, ketika Tuhan memuliakan manusia, maka tugasnya adalah meneladani kemuliaan Tuhan dalam memuliakan manusia. Begitu juga, ketika ia menjadi bagian dari bangsa Indonesia, keberagaman (pluralitas) sebagai anugerah tiada kira dari-Nya mesti disemai agar tumbuh persatuan dan kesatuan di tengah keberagaman dan perbedaan, ia pun menjadi sosok yang ingin selalu mengenal—bukan mencekal—siapapun, tak pandang mereka bersuku, berbahasa, dan beragama apa.

Gus Dur dan Kemanusiaan

Bertepatan dengan 1000 hari wafatnya Gus Dur yang telah lalu, salah seorang murid dan sahabat dekat beliau, KH. Husein Muhammad (2012) menulis buku bertitel ‘Sang Zahid: Mengaruhi Sufisme Gus Dur’ mengatakan, sebagaimana para sufi besar, Gus Dur adalah seorang yang selalu berkehendak hidupnya diabdikan sepenuhnya bagi manusia dan kemanusiaan. Manusia dan kemanusiaan adalah fokus pikiran dan perhatian utama Gus Dur, berhari-hari, siang dan malam dan pada setiap napas yang berhembus. Ia mencintai manusia.

Jika ditelusuri akar pembelaannya terhadap manusia, Gus Dur sebagai seorang yang lahir dari kultur pesantren, mengikatkan pembelaannya itu pada lima prinsip kemanusiaan universal yang pernah dikonsepsikan al-Ghazali dan al-Syathibi yakni hak beragama/berkeyakinan (hifzh al-Din), hak hidup (hifzh al-Nafs), hak berpikir/berpendapat (hifzh al-‘Aql), hak atas kehormatan tubuh dan kesehatan reproduski (hifzh al-‘Irdh wa al-Nasl) dan hak kepemilikan atas harta/benda (hifzh al-Mal).

Kita pun melihat konsistensi Gus Dur dalam mengamalkan lima prinsip kemanusiaan universal, beberapa di antaranya ketika Gus Dur tak gentar membela hak beragama Kong Hu Cu, mengusulkan pencabutan TAP MPR XXV tahun 1966 (tentang pelarangan Komunisme, Leninisme, dan Marxisme), membela Inul Daratista, Ahmadiyah, dan berbagai individu maupun kelompok lain yang tertindas dan terdiskriminasi.

loading...

 

Gus Dur tak pernah haus pujian dan kehormatan, badai kritik dan caci maki yang menjatuhkan datang dari sana-sini, namun Gus Dur tak gentar, ia tetap konsisten dengan gagasan dan pembelaannya. Mengutip pandangan Amin Khulli (1995), bahwa terkadang sebuah pemikiran dianggap sebagai kekafiran, diharamkan dan diperangi, tetapi ia kemudian seiring dengan gerak zaman pemikiran itu menjadi mazhab, keyakinan dominan, dan gagasan perbaikan di mana dengannya kehidupan terus melangkah ke depan. Menjadi semakin unik karena, di satu sisi Gus Dur dicaci, dibenci, dan disumpahserapahi dan di sisi lain secara bersamaan ia dikagumi, dicintai dan dirindukan.

Gus Dur dan Keindonesiaan

Membincangkan Gus Dur sama halnya membincangkan Indonesia. Sadar akan identitasnya sebagai warga Negara Indonesia, hidup dan matinya dipertaruhkan untuk kedigdayaan Indonesia. Sampai ia memeluk agama Islam pun, ia mengusung keberislaman yang bercorak Indonesia (Islam Indonesia), bukan Islam ala Arab, Barat, atau lainnya. Konsistensi inilah yang olehnya disebut sebagai pribumisasi Islam. Sebagai upaya mengindonesiakan Islam, bukan mengislamkan Indonesia. Gus Dur ingin membumikan Islam tanpa harus menghilangkan corak keindonesiaan. Dalam hal ini Gus Dur sejalan dengan para pemikir Muslim lain seperti alm. Nurcolish Madjid, Ahmad Syafii Maarif, M. Dawam Rahardjo, Djohan Effendi, dan lain-lain.

Gus Dur memaknai Islam tak secara simbolis-normatif, begitulah ketika ia memaknai kata al-Silmi dalam QS. al-Baqarah [2]: 208,  , sebagai sebuah kata sifat kedamaian, menunjuk pada sebuah entitas universal, yang tidak perlu dijabarkan oleh sebuah sisitem tertentu, termasuk sistem Islami. Gus Dur memaknai Islam bukan sebagai sistem karena ia paham betul bahwa semua warga Negara apapun agama dan identitas lainnya mempunyai kedudukan yang setara. Tak ada warga Negara kelas dua di Indonesia. Lebih dari itu Gus Dur menegaskan, pemaknaan Islam yang simbolis-normatif ini patut dipersoalkan, karena juga akan berdampak pada kaum muslimin yang tidak menjalankan ajaran Islam secara penuh. Kaum muslimin seperti ini—sering disebut muslim nominal atau abangan—tentu akan dinilai kurang Islami jika dibandingkan dengan mereka yang—mengaku—kaffah (penuh).

loading...

 

Selain itu Gus Dur juga adalah orang yang begitu konsisten dalam menjaga keagungan alat pemersatu bangsa, yang kini dikristalisasikan menjadi empat pilar kebangsaan; UUD 1945, Pancasila, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika. Gus Dur juga meyakini bahwa NKRI tak dapat ditawar dan ia harga mati. Berurusan dengan NKRI berarti berurusan dengannya. Gus Dur juga pernah menjadi pimpinan tertinggi ormas Islam bernama Nahdlatul Ulama (NU). NU sendiri hingga saat ini melandaskan asasnya pada Pancasila, bukan Islam secara normatif.

Gagasan pribumisasi Islam sendiri adalah wujud nyata dari konsistensinya pada Islam Indonesia, Islam yang berbasiskan kultur kebangsaan. Bangsa yang telah dianugerahi Tuhan dengan berbagai keanekaragaman dan kekayaan sumber daya alam yang melimpah. Meminjam istilah Robert W. Hefner (2005) bahwa Indonesia sebagai Negara yang kaya akan ‘pluralist endowments’, sebagai bangsa yang berproses secara sosiologis dengan melibatkan berbagai agen atau aktor sejarah dari berbagai suku bangsa. Keanekaragaman dan kekayaan itu membentang luas di atas hamparan pulau-pulau dari Sabang sampai Merauke. Maka sampailah, apa yang selama ini diperjuangkan Gus Dur merupakan perjuangan untuk mendamaikan dan mensejahterakan manusia, khususnya warga Negara Indonesia, untuk bisa saling mengenal dan bersahabat dengan pluralitas.

Radar Cirebon, Jum’at, 27 Desember 201

Sumber: kompasiana

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

loading...