oleh

Mayoritas yang Mengayomi Minoritas

Oleh: Prof Dr Ahmad Safi’i Maarif

Mayoritas yang Mengayomi Minoritas
ilustrasi

Satu Islam – Intoleransi pembakaran Klenteng, tempat ibadah umat Budha di Tanjung Balai, Sumatera Utara, Jumat malam lalu telah melukai nama Allah, Tuhan bagi umat Islam. Jika benar para pembakar mengatasnamakan Islam, itu tindakan salah.

Merusak tempat ibadah, apalagi membakarnya, jika benar dilakukan oleh orang Islam sama saja mencemarkan nama baik Islam. Tindakan vandalis berupa pengrusakan apalagi pembakaran tempat ibadah agama lain, sudah pasti di luar bingkai Islam.

Saya dengar, pembakaran itu dipicu oleh protes warga yang meminta volume speaker masjid dikecilkan. Namun, jumlah massa membesar dan menjadi intoleran atas hasutan sejumlah oknum. Alhasil, kelompok massa kian membesar dan melakukan tindakan pengrusakan.

Mengenai pengeras suara masjid, memang sudah menjadi problematik sendiri di sejumlah lokasi. Kali ini, terulang di Tanjung Balai. Sehingga menimbulkan protes dan berbuntut sikap intoleran.

Kumandang suara adzan memang harus disebarkan. Karena, tujuan Adzan adalah memanggil umat Islam untuk beribadah berjamaah. Namun, perlu dipahami, tidak semua warga itu beragama Islam. Jadi ada baiknya, speaker atau toa masjid diarahkan ke dalam area masjid saja.

Jika kita melakukan hal kecil, dengan mengarahkan speaker masjid ke area dalam, justru kita menjunjung tinggi nama Islam yang baik dan menghargai agama lain. Pengeras suara, jangan sampai mengganggu pihak lain.

Memang benar, kita, umat Islam, adalah agama mayoritas di Indonesia. Lebih dari 250 juta penduduk Indonesia dilaporkan sedikitnya 88,1 persen beragama Islam. Nah, sisa kurang dari 20 persen itu penganut bermacam agama lain. (Baca: Problem Mayoritas-Minoritas Umat Beragama)

Alangkah indahnya, jika yang mayoritas ini mengayomi yang minoritas. Melindungi penganut agama lain. Jangan mengganggu mereka, apalagi melakukan sikap intoleransi dengan cara melakukan pengrusakan, main hakim sendiri hingga melakukan pembakaran.

Kalau ada permasalahan, sebaiknya dimusyawarahkan. Ingat, kita adalah negara hukum. Pancasila. Tertuang dalam sila kedua, Kemanusiaan Yang Adil Dan Beradab. Mari kita, umat Islam menunjukkan sikap adil dan beradab itu.

Sudahkah kita adil terhadap non-Islam. Beradabkah kita jika melakukan pembakaran atas rumah ibadah agama lain? Jangan emosi, Pancasila tidak mengajarkan itu. Apalagi, agama Islam itu sendiri. Indonesia itu milik bersama. Mari yang mayoritas ini melindungi yang minoritas. (Baca: Supremasi Hukum Tidak Mengenal Istilah Minoritas-mayoritas)

Atas peristiwa Tanjung Balai, mari kita renungkan dan jadikan pelajaran, jangan sampai terulang. Tentu, hukum tetap menjadi panglima. Provokator itu harus ditangkap, diadili dan dihukum sesuai hukum yang berlaku. Termasuk, massa yang tersulut emosinya sehingga melakukan pengerusakan hingga pembakaran. Polisi harus bertindak adil.

Ya, adil. Lagi-lagi ini menjadi kata kunci hidup bersama-bersama. Jika kita adil terhadap orang lain, kelompok lain, apalagi minoritas, barang tentu tidak akan terjadi kekerasan apalagi pembakaran rumah ibadah atas dalih agama apapun dan atas ras, suku, manapun. (Baca: Religious Hate Speech: Tirani Minoritas)

Disarikan dari hasil wawancara RMOL dengan Prof Dr Ahmad Safi’i Maarif

Sumber: RMOL

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

1 comment

News Feed