oleh

Masjid Kampus UI Klarifikasi Hasil Riset Setara Institute Atas Radikalisme

Satu Islam, Depok – Pengurus Masjid Ukhuwah Islamiyah Universitas Indonesia (Masjid UI) mengeluarkan tanggapan terkait laporan penelitian yang dirilis Setara Institute. Laporan berjudul “Potret Intoleransi dan Potensi Radikalisme di Bogor dan Depok” itu telah memicu pemberitaan yang seolah mengasumsikan masjid di Kampus UI adalah sarang radikalisme.

Sebagaimana diwartakan CNN Indonesia, riset Setara Institute terhadap ratusan masjid di Kota Depok dan Bogor sepanjang Agustus hingga Oktober, menyimpulkan bahwa masjid-masjid di lokasi perumahan dan kampus menjadi sarang radikalisme dan intoleransi.

Dalam siaran persnya, Kepala Humas dan KIP UI, Rifelly Dewi Astuti, mengatakan dalam risetnya Setara Institute tidak ada menyebutkan bahwa masjid kampus Depok sebagai sarang radikalisme, sebagaimana dimuat di sebuah portal berita online tertanggal 1 November 2017.

“Melainkan studi Setara Institute menyebutkan bahwa Masjid di Kampus menjadi salah satu Pusat Kegiatan Keagamaan di Kota Depok,” kata Rifelly.

UI juga menyatakan berkomitmen menjaga keutuhan NKRI dengan memerangi intoleransi dan radikalisme, serta menentang setiap potensi aksi terorisme di dalam kampus. Selain itu, kata Rifelly, kampus akan menindak tegas setiap warga UI yang provokasi mengarah pada radikalisme dan memecah belah bangsa.

Sementara itu, ketua pengurus Masjid UI Abdul Mutaali dalam pernyataan resmi mengatakan, secara keorganisasian, Masjid UI menyatakan telah terintegrasi dengan Kampus UI sehingga visi dan misinya mengacu kepada visi dan misi UI. Paham keagamaan Masjid UI berlandaskan pemahaman ahlus Sunnah wal jama’ah dalam koridor Pancasila, UUD NRI Tahun 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika.

“Seluruh kegiatan dan kajian di Masjid UI mengacu pada lima dasar nilai Masjid UI, yaitu Tafahum (pemahaman keislaman yang komprehensif mengharmonikan Islam dan keindonesiaan), Tawazun (keseimbangan antara materialisme dan spiritualisme), Tawasuth (moderat), Takamul (universal dan holistik), dan Tasamuh (saling menghormati perbedaan),” ujar Abdul.

Menyikapi pemberitaan terkait hasil penelitian Setara Institute yang diperoleh pertama kali dari sebuah media daring (online), pengurus Masjid UI menyatakan belum pernah diwawancarai atau dimintai pendapat oleh media tersebut.

Pengurus Masjid UI memandang perlunya meminta penjelasan lebih lanjut mengenai penelitian itu dari Setara Institute. Untuk itu pengurus mengundang Setara Institute untuk mempresentasikan hasil penelitian tersebut secara akademik, utuh, dan terbuka.

Pengurus Masjid UI menerima hasil penelitian sebagai masukan dan evaluasi. Masukan yang bersifat konstruktif dinilai dapat menjadikan Masjid UI sebagai masjid kampus yang dibanggakan tidak hanya di level nasional, tapi juga di level internasional.

Peneliti Setara Institute Sudarto saat memaparkan hasil riset lembaganya, pihaknya  mengikuti pengajian hampir setiap pengajian di masjid di kawasan Depok, masjid di dalam UI dan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Hidayatullah. (Baca: Setara: Masjid Kompleks & Kampus di Depok Sarang Radikalisme)

Tercatat ada 529 masjid dan 927 musala di Depok. Jumlah itu terdiri dari masjid pemerintah atau BUMN, masjid donasi individu, masjid umum di perumahan, dan masjid kampus.

Dari hasil riset tersebut Sudarto mengatakan, bibit radikalisme terdapat baik di masjid yang berlokasi di kawasan perumahan maupun di dalam kampus.

Sudarto mencontohkan salah satu kelompok agama bernama Depok Islamic study Circle (DISC) yang membagi pengajian dalam dua kategori, yaitu umum dan eksklusif anggota.

“Dalam situs DISC, ada gambar otak dengan ulat serta lalat yang disimpulkan sebagai otak Jaringan Islam Liberal (JIL) yang harus dilawan. Mereka juga menganggap Ahmadiyah, Syiah, LGBT dan komunisme sebagai musuh Islam,” kata Sudarto, kemarin.

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed