oleh

Lapas di Jabar Berbasis Pesantren

57681535526lapasSatu Islam, Bandung – Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Jawa Barat I Wayan K Dusak menginginkan agar lembaga pemasyarakatan (lapas) dan rumah tahanan negara (rutan) di Jawa Barat berbasis pesantren. Hal itu perlu dilakukan agar warga binaan setelah keluar nanti menjadi lebih baik.

Demikian hal tersebut dikemukakan saat meresmikan mesjid di Lapas Anak Bandung, Jumat (7/2/2014). Peresmian mesjid ini sekaligus Pembukaan Pesantren untuk anak didik Warga Binaan.

Dusak mengatakan pada dasarnya semua Lapas dan Rutan di Jawa Barat ini berbasis Pesantren. “Semua Warga Binaan di Jawa Barat hendaknya berakhlak mulia,” katanya.

Miftahul Jannah memiliki arti kunci surga. Lapas Anak ini akan dijadikan sebagai protipe di Jawa Barat. Mesjid adalah tempat ibadah kaum muslim yang memiliki peran strategi dalam pertumbuhan peradaban umat muslim, tutur Dusak.

Seiring dengan pertumbuhan Mesjid dan tantangan perubahan jaman yang semakin cepat. Pengelolaan Mesjid menuntut manajemen yang baik.

“Hal ini diperlukan untuk kemakmuran Mesjid,” ujar Dusak.

Jadikanlah mesjid Miftahul Jannah ini sebagai pusat keunggulan dakwah dan sy”iar Islam. “Makmurkanlah Mesjid ini sebagai tempat untuk memupuk rasa persaudaraan, kesatuan dan persatuan umat Islam,” katanya.

Mesjid Miftahul Jannah secara resmi dibuka ditandai dengan penandatanganan Prasasti oleh Kakanwil didampingi Kadiv Pemasyarakatan dan Kalapas Anak Catur Budi fatayatin.

Di samping itu Kementerian Agama Kota Bandung memberikan sumbangan berupa Alquran kepada Warga binaan Lapas Anak Bandung. Kini jumlah warga binaan Lapas Anak Bandung sebanyak 74 orang.

Kebanyakan kasus anak tersebut terkait pencurian dan narkoba, Asusila dan penggelapan, ungkap Kalapas Catur Budi Fatayatin kepada wartawan usai persemian Mesjid.

Dalam peresmian itu terlihat puluhan anak-anak menggenakan sarung dan baju koko dengan berkopiah berbaris rapi, meski mendapat mengawas para petugas Lapas kesan tersebut seakan berada di lokasi pesantren.

Lantunan sholawat disertai anak-anak lebih santun menghormati kepada yang tua dengan mencium tangan. Sedangkan, keberadaan 12 ustad yang rata-rata pemuka agama bekerja sama dengan Kantor Kementerian Agama Kota Bandung.

Keberadaan anak-anak yang jumlahnya sebanyak 74 anak tersebut dan rata-rata usia dibawah 17 tahun terpaksa harus mempertanggung jawabkan perbuatan karena tersangkut tindakan kriminal.

Sumber : Pikiran Rakyat

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed