oleh

Kisah Rasulullah Dan Para Sahabat Dalam Toleransi

arab-onta
ilustrasi

 

Satu Islam – Islam itu agama yang paling menjunjung toleransi. Jika saat ini yang dikenal masyarakat ialah wajah Islam yang anti-toleran, sungguh itu merupakan penyesatan. Siapa lagi dalangnya kalau bukan media yang bersekekutu dengan pihak yang memiliki kepentingan untuk merusak Islam. Dengan tanpa mengindahkan asas cover both side, beberapa media dengan sangat bangganya menyebut Islam itu eksklusif dan anti-toleran. Mereka menutup mata dan telinga dari fakta sebenarnya yang sudah lama dalam sejarah emas Islam sejak dahulu sampai zaman sekarang. Lalu, bagaimana kita membuktikan bahwa Islam itu agama yang toleran?

Kalau kita ingin objektif, seharusnya mengkaji suatu hal dari sumber primer sebagai referensi utama. Seperti itu pula jika ingin mengkaji seperti apa toleransi dalam Islam. Nabi Muhammad SAW, para sahabat, tabi’in, dan tabi’it tabi’in adalah pribadi pemberi contoh paling unggul dan dapat dipercayai dalam segala aspek kehidupan seorang muslim. Di sini akan digambarkan dua peribadi yang telah memberikan contoh dalam hal penerapan toleransi yang benar.

Adalah Rasulullah SAW teladan utama dalam hal melakukan toleransi yang profesional. Sesuatu paling sederhana boleh kita ambil dari salah satu riwayat berikut: Jabir bin Abdullah RA berkata, “Suatu jenazah melewati kami, lalu Nabi berdiri kerananya, dan kami pun berdiri. Kami bertanya, ‘Wahai Rasulullah, jenazah itu adalah jenazah orang Yahudi.’ Beliau bersabda, ‘Jika kamu melihat jenazah, maka berdirilah!’ (HR Bukhari)

Sebenarnya jika kita berhenti di titik ini saja, sudah boleh kita dapati bahawa beliau sangat menghormati siapa pun kerana beliau menyedari pada dasarnya semua manusia adalah ciptaan Allah SWT. Dalam hal ini, beliau tidak membeza-bezakan agama orang tersebut. Apa yang beliau sabdakan di atas adalah untuk seorang Yahudi yang telah meninggal. Bagaimana sikap beliau terhadap orang Yahudi atau Nasrani yang masih hidup? Tentu beliau akan lebih menghargai lagi, bukan?

Sudah terbukti bahawa dalam kehidupan bermasyarakat seharian di Madinah, beliau juga sangat menekankan umat Islam untuk boleh menghormati dan menghargai kepada umat Yahudi atau Nasrani. Belum ditemukan dalam sejarah seorang Muslim pun yang menghina, merusak, atau mengganggu peribadatan bukan muslim. Ini menjadi hal yang wajar kerana mereka pasti memahami makna firman Allah SWT:

“Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan.” (QS Al-An’am: 108)

Sehingga di sini semakin jelas bahwa Rasulullah SAW sudah menggariskan bahawa kita wajib bertoleransi kepada keyakinan orang lain selama mereka tidak melakukan penyerangan terhadap keyakinan kita. Bahkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, Piagam Madinah (Shahifah al-Madinah) mencantumkan tentang Yahudi sebanyak 24 pasal dari jumlah 47 pasal. Di antara isi piagam ini ada yang mengatur tentang kesepakatan bahawa apabila ada musuh yang menyerang Madinah, maka semua wajib saling membantu mempertahankan negeri Madinah, tanpa melihat apapun agamanya. Masih banyak isi dalam piagam ini yang mencerminkan kehidupan yang harmoni antara orang yang beragama Islam dan bukan beragama Islam. Ini menjadi bukti tak terelakkan bahawa beliau sangat berusaha menjaga hubungan baik dengan kalangan di luar Islam.

Tokoh selanjutnya yang menarik kita contoh ialah Umar bin Khathab RA. Saat beliau memegang amanah sebagai khalifah. Ada sebuah kisah dari banyak teladan beliau tentang toleransi, yaitu saat Islam berhasil membebaskan Jerusalem dari penguasa Byzantium pada Februari 638 M. Tiada kekerasan yang terjadi dalam ‘penaklukan’ ini.  Singkat cerita, penguasa Jerusalem saat itu,  Patriarch Sophorinus, “menyerahkan kunci” kota dengan begitu saja.

Suatu hari, Umar dan Sophorinus menginspeksi gereja tua bernama Holy Sepulchre. Saat tiba waktu shalat, beliau ditawar menjadi Sophronius shalat di dalam gereja itu. Umar menolak seraya berkata, “Jika saya shalat di dalam, orang Islam sesudah saya akan menganggap ini milik mereka hanya kerana saya pernah shalat di situ.” Beliau kemudian mengambil batu dan melemparkannya keluar gereja. Di tempat batu itu jatuhlah beliau kemudian shalat. Umar kemudian menjamin bahawa gereja itu tidak akan diambil atau dirosak sampai bila- bila dan tetap terbuka untuk peribadatan umat Kristen.

Toleransi Umar ini lalu diabadikan dalam sebuah piagam perdamaian yang dinamakan al-‘Uhda al-Umariyyah yang sama dengan Piagam Madinah. Di bawah kepemimpinan Umar hak dan kewajiban mereka dijamin serta dilindungi. Tidak menghairah jika kemudian sebagai “balas budi”, Sophorinus juga menyatakan jaminannya, “Kami tidak akan mendirikan monastery, gereja, atau tempat pertapaan baru di kota dan pinggiran kota kami;…Kami juga akan menerima musafir Muslim ke rumah kami dan memberi mereka makan dan tempat tinggal untuk tiga malam…Kami tidak akan mengucapkan ucapan selamat yang digunakan Muslim; Kami tidak akan memasang salib … di jalan-jalan atau pasar-pasar milik umat Islam.” (lihat al-Tabari, Tarikh al-Umam wa al-Muluk; juga History of al-Tabari: The Caliphate of Umar ibn al-Khathab Trans Yohanan Fiedmann, Albay, 1992, p 191).

Bukan Umar RA saja yang meneruskan sikap toleransi yang diajarkan dalam Islam. Para sahabat yang mulia lainnya banyak yang mengimplikasikannya dalam berbagai sisi kehidupan terutama bermasyarakat (muamalah) seperti jual beli dan transaksi lainnya yang tidak bertentangan dengan syariat Islam. Sebut saja Abdurrahman bin ‘Auf, seorang sahabat terkemuka, memulai usaha di hari-hari pertamanya saat tiba di Madinah dengan berdagang di pasar Bani Qainuqa’, milik Yahudi (Shahih Bukhari, no. 3780). Ali bin Abu Thalib, menantu Nabi SAW, sebagian persiapan walimahnya ditangani oleh seorang dari Bani Qainuqa’ (Shahih Muslim, no. 5242). Bahkan ternyata Rasulullah SAW pernah menggadaikan baju perangnya dengan 30 sha’ gandum kepada seorang Yahudi Bani Zhafar bernama Abu Syahm (Ibnu Hajar, Fathul Bari, Jilid tujuh hal. 461).

Kesimpulanya, Islam sebenarnya mengatur tentang toleransi. Hendaknya kita berusaha terus mengkaji dan mensosialisakan konsep seperti ini baik kepada sesama orang beragama Islam atau kepada bukan Islam. Harapannya ialah tiada lagi kesan yang muncul bahawa Islam itu intoleran. Nabi Muhammad SAW sebagai tokoh utama dalam Islam tetap sebagai rahmatan lil ‘alamin tanpa mencederai makna toleransi yang sebenarnya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed