oleh

Kian Memanas dengan AS, Rakyat Iran Bersatu di Belakang Pemerintah

Donald Trump memberikan hadiah yang tidak disadarinya kepada pemerintah Iran, dukungan yang lebih kuat dari rakyat mereka. Konflik AS-Iran yang terus memanas telah membuat rakyat Iran bersatu dan berdiri di belakang pemerintah mereka. Penembakan pesawat nirawak AS baru-baru ini di atas wilayah udara Iran bahkan membuat Garda Revolusi Iran menjadi lebih populer di mata rakyat.

Di seluruh dunia, muncul kekhawatiran bahwa penembakan jatuh pesawat tak berawak AS oleh Iran pada hari Kamis (20/6) telah meningkatkan ketegangan lebih lanjut antara Iran dan AS dan membuat keduanya semakin dekat ke perang.

Namun, dalam jejaring sosial Iran, teori Donald Trump bahwa pesawat itu ditembak jatuh secara keliru oleh “seseorang yang ceroboh dan bodoh” telah memunculkan lelucon yang sangat populer.

“Saya akan mengorbankan hidup saya untuk Khamenei, mungkin akan menjadi pernyataan Trump berikutnya,” kata lelucon itu, merujuk pada gagasan bahwa presiden AS berusaha untuk memaafkan kepemimpinan Iran atas serangan itu.

Contoh olok-olok Iran ini hanyalah salah satu dari sekian banyak reaksi yang menggelegak ke permukaan ketika Iran berusaha untuk bergulat dengan situasi yang tampaknya semakin serius.

Secara umum, keputusan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) untuk menjatuhkan pesawat tak berawak Global Hawk AS―yang Iran katakan berada di atas wilayahnya tetapi AS berpendapat itu berada di atas perairan internasional―telah meningkatkan kepercayaan diri penguasa Iran.

Mereka tampaknya juga telah mendapat dukungan dari seluruh spektrum politik.

Soehil Sadeghian, seorang pria pengangguran yang tidak terlalu suka dengan penguasa Iran, mengatakan kepada Middle East Eye: “Saya pengkritik IRGC, tetapi saya mendukung apa yang telah dilakukan terhadap pesawat tak berawak AS, karena itu adalah sebuah tindakan yang sejalan dengan perlindungan integritas wilayah Iran.”

Dia menambahkan: “Pesawat tak berawak itu berada di Iran untuk memata-matai, bukan mengadakan pesta.”

Sementara itu, sejumlah orang berpikir langkah seperti itu oleh Iran diperlukan untuk mencegah AS melakukan langkah militer terhadap Iran.

Mojtaba Tavanche, yang mengidentifikasi dirinya sebagai reformis dan bekerja untuk perusahaan pengekspor di Iran, mengatakan kepada MEE: “Menembak pesawat tak berawak AS merupakan langkah yang sepenuhnya benar.

“Dalam keadaan saat ini, Iran tidak boleh terlihat lemah di mata AS karena itu dapat memberanikan AS untuk memasuki fase aksi militer bersamaan dengan perang ekonomi saat ini.”

Hubungan antara AS dan Iran telah memburuk sejak Trump memasuki Gedung Putih dan menarik AS keluar dari kesepakatan nuklir Iran 2015 yang telah memberi Iran keringanan sanksi sebagai imbalan pengekangan pengembangan senjata.

Sanksi baru telah diberlakukan pada Iran sejak itu, menghancurkan ekonominya yang rapuh dalam apa yang dilihat Iran sebagai konflik ekonomi. Trump dan penasihat keamanan nasionalnya, John Bolton, telah mengatakan bahwa sanksi baru akan diluncurkan pada hari Senin (24/6).

Banyak orang Iran mengakui bahwa menjatuhkan pesawat tak berawak itu berisiko. Trump mengatakan dia membatalkan serangkaian serangan militer pembalasan seiring pesawat tempur mengudara setelah diberitahu bahwa 150 orang bisa tewas dalam serangan itu.

Hal itu berarti, langkah IRGC telah meningkatkan popularitas unit militer elit itu sampai batas tertentu.

Arya Hassani, seorang lulusan teknik sipil yang menggambarkan dirinya sepenuhnya menentang sistem politik Republik Islam Iran karena kurangnya kebebasan sosial, mengatakan kepada MEE: “Saya tidak benar-benar tertarik mengenai politik, tetapi Trump telah merusak kehidupan semua rakyat Iran.”

“Awalnya, ketika saya mendengar laporan tentang kemungkinan rencana AS untuk menyerang Iran, saya takut,” katanya. “Tetapi ketika saya melihat Trump mundur setelah Iran menembak jatuh pesawat tak berawak AS, itu benar-benar memberi saya kepercayaan diri pada negara saya.

“Jika ekonomi kita berfungsi sebaik rudal kita, itu akan bagus.”

Menyusul penarikan AS dari kesepakatan nuklir, sejumlah rakyat Iran telah mengkritik IRGC dan kelompok penguasa garis keras karena memprovokasi AS.

AS mengutip peluncuran rudal Iran sebagai bukti bahwa Iran memiliki niat internasional yang jahat, dan para reformis dan rakyat Iran lainnya telah bertanya mengapa uji roket dilakukan oleh IRGC segera setelah perjanjian nuklir ditandatangani.

Sekarang dengan IRGC menjatuhkan apa yang disebutnya “pesawat mata-mata,” kelompok garis keras telah mendapatkan lebih banyak kekuatan, dan narasi mereka tentang “bagaimana menghadapi musuh” telah meningkat.

Abdullah Dayani, seorang sopir taksi yang mendukung Ebrahim Raisi dalam pemilu presiden 2017, mengatakan bahwa setelah sebuah pesawat AS ditembak jatuh, Trump tampaknya bersedia untuk bernegosiasi.

“Di mana orang-orang yang dulu mengatakan bahwa IRGC ingin membatalkan kesepakatan nuklir Iran dengan menembakkan rudal?” Dia bertanya.

“Dalam beberapa tahun terakhir kami telah melihat bahwa berbicara dengan AS dan sekutu-sekutunya dengan pendekatan lembut tidak membuahkan hasil bagi Iran, kecuali lebih banyak sanksi.

“Tetapi karena Iran telah menunjukkan kekuatan mereka, AS terlihat mundur dari ancaman sebelumnya.”

Sambil duduk di taksi, Masoud Foroutanian, yang mengatakan dia memilih Hassan Rouhani dalam pemilu presiden 2013 dan 2017, menyetujui pernyataan pengemudi, dengan mengatakan: “Saya mendukung Rouhani karena saya percaya diplomasi dan negosiasi adalah cara terbaik untuk menyelesaikan masalah kita saat berselisih dengan negara adikuasa, tetapi sejak Trump naik ke tampuk kekuasaan, ia tidak memberikan pilihan bagi kita, terutama setelah meninggalkan kesepakatan nuklir.”

Rudal Iran tidak dirancang untuk perang, Foroutanian berpendapat, melainkan digunakan sebagai pencegah.

“Jika kita memiliki rudal dan pesawat tak berawak seperti itu di tahun 80-an, diktator Irak Saddam Hussein tidak akan menyerang kita,” katanya.

“Peralatan pertahanan dan diplomasi sama-sama penting, dan tidak satupun dari mereka harus dilupakan.”

Pandangan seperti itu menjadi semakin umum di kalangan pendukung Rouhani. Di mana dulu kaum reformis dan moderat bersikap kritis terhadap sebagian besar anggaran Iran yang dihabiskan untuk rudal, sekarang banyak yang mulai melihat senjata sebagai investasi yang bermanfaat.

Ketegangan di Teluk, yang telah meningkat ketika tanker diserang di sekitar Selat Hormuz dan retorika para pemimpin menjadi semakin agresif, telah menyatukan sebagian besar warga Iran.

Namun, ada kecemasan yang semakin meningkat tentang apa yang akan terjadi pada perkembangan selanjutnya―terutama jika itu berarti perang.

“Sejak Trump mengatakan dia ingin menyerang tiga situs di Iran, saya menjadi cemas, dan saya khawatir apa fase selanjutnya dari ketegangan ini,” Ebrahim Bani, seorang teller di cabang bank Eqtesad Novin di Iran utara, kepada MEE.

“Kami masih menderita akibat perang delapan tahun yang dilakukan oleh Saddam, tetapi AS seharusnya tidak mengharapkan Iran untuk tidak melakukan apa-apa ketika mengirimkan pesawat mata-mata untuk terbang di atas negara kami.”

Bani mencatat bahwa Iran sudah belajar untuk mengatasi tekanan yang sedang terjadi, dan bahkan pernyataan Trump baru-baru ini telah gagal mempengaruhi mata uang negara itu.

“Ancaman Trump tidak lagi memengaruhi pasar pertukaran mata uang asing. Bahkan hari ini [Sabtu (22/6)], mata uang hanya terapresiasi sedikit terhadap dolar AS.”

Pada 22 Juni, dua hari setelah Iran menembak jatuh pesawat tak berawak AS, satu dolar sama dengan sekitar 13.350.000 real, sedangkan pada 20 Juni satu dolar sama dengan 13.450.000 real.

Sementara itu, warga Iran telah menyatakan pendapat mereka tentang kemungkinan perang melalui media sosial, dengan banyak pengguna mengunggah tagar “jangan berperang”. Namun, tidak semua orang mendukung itu.

Ehsan Mansouri, seorang pengguna Twitter dari Iran, mengatakan : “Ketika negara kita membela diri, slogan ‘jangan berperang’ berarti tidak untuk bertahan. Ini seperti berada di tengah perampokan bersenjata dan menghentikan polisi yang ingin mengatasi pencuri dengan memasang spanduk bertuliskan ‘jangan gunakan kekerasan’.”

Oleh: Rohollah Faghihi (Middle East Eye)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed