oleh

Khamenei: Rencana Perdamaian AS di Timteng untuk Menghancurkan Identitas Palestina

Pemimpin spiritual tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei mengatakan, rencana perdamaian Amerika Serikat (AS) untuk Timur Tengah bertujuan untuk menghancurkan identitas Palestina. Hal itu diungkapkannya saat bertemu dengan delegasi Hamas.

“Tujuan dari plot berbahaya ini adalah untuk menghancurkan identitas Palestina dan kita seharusnya tidak membiarkan mereka menghancurkan identitas Palestina dengan menggunakan uang,” kata Khamenei, merujuk pada apa yang disebut pemerintahan Trump sebagai “Kesepakatan Abad Ini”.

“Salah satu cara untuk menghadapi plot ini adalah agar rakyat Palestina merasa bahwa mereka telah maju,” lanjut Khamenei.

“Belum lama ini, Palestina bertarung dengan batu, tetapi hari ini, alih-alih batu, mereka dilengkapi dengan rudal presisi dan ini berarti kemajuan,” ujarnya kepada Wakil Kepala Biro Politik Hamas Salah al-Aruri, seperti dikutip dari Israel National News, Selasa (23/7/2019).

Sebelumnya, pada hari Minggu, Aruri dan delegasi Hamas bertemu dengan Kamal Kharrazi, Ketua Dewan Strategis Iran untuk Hubungan Luar Negeri.

Dalam pertemuan itu, Kharrazi mengatakan bahwa pembebasan Palestina, terutama Al-Qud, adalah salah satu permasalahan terbesar Iran dan kemudian mengatakan kepada wartawan bahwa hubungan antara Iran dan Hamas sedang tumbuh.

Pertemuan ini adalah pertemuan kedua antara Aruri dan pejabat senior Iran dalam waktu kurang dari sebulan.

Pada 17 Juni, ia mengadakan pembicaraan dengan Menteri Intelijen Iran Mahmoud Alavi di Beirut, di mana mereka sepakat untuk menghadapi bahaya dari rencana AS.

Mereka juga sepakat tentang perlunya menghadapi tantangan dan bahaya yang timbul dari desakan pemerintah AS untuk memaksakan Kesepakatan Abad Ini.

Aruri juga mengunjungi Iran pada 2017. Selama kunjungan itu, ia menyatakan bahwa Hamas dan Iran telah sepakat untuk mengesampingkan perbedaan masa lalu mereka.

Kunjungan delegasi Hamas tahun 2017 ke Iran tampaknya menandai akhir permusuhan antara kedua belah pihak, yang dimulai ketika Hamas menolak untuk mendukung Presiden Suriah Bashar al-Assad, sekutu dekat Iran, dalam pemberontakan terhadapnya. Iran yang marah kemudian dilaporkan berhenti memasok senjata kepada kelompok teror itu.

Gelombang itu tampaknya berbalik pada musim panas 2017, ketika pemimpin Hamas Ismail Haniyeh berterima kasih kepada Iran atas dukungan “tak terbatas” untuk Brigade al-Qassam dan kontribusinya terhadap pengembangan kemampuan militer Hamas.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed