oleh

Khamenei Bersumpah Tidak Akan Pernah Menyerah pada Sanksi AS

Dalam komentar publik pertamanya sejak Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump membatalkan serangan yang hampir segera terjadi terhadap Iran minggu lalu, Pemimpin Tertinggi Iran pada Rabu (26/6) mengesampingkan negosiasi dengan Washington, dan mengatakan bahwa hanya ancaman kekuatan militer yang memberikan perlindungan dari dominasi Amerika.

“Negosiasi adalah upaya menipu untuk melakukan apa yang diinginkan AS,” kata Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, menurut terjemahan bahasa Inggris di situs resminya.

“Itu seperti Anda memegang senjata, sehingga pihak lain tidak berani mendekat,” kata Ayatollah, “dan kemudian Amerika memerintahkan Iran untuk menjatuhkan senjata sehingga ‘saya bisa melakukan apa pun yang saya inginkan kepada Anda.’”

“Ini yang mereka maksud dengan negosiasi,” katanya. “Jika Anda menerima permintaan mereka, Anda akan menderita hal-hal terburuk, dan jika Anda tidak menerimanya, Anda akan menghadapi kegelisahan dan keluhan mereka atas alasan hak asasi manusia.”

Sebagai pembuat keputusan terpenting dalam sistem politik Iran, persetujuan Khamenei diperlukan untuk pembicaraan diplomatik atau aksi militer, dan komentarnya pada Rabu (16/6) adalah indikasi paling jelas bahwa ia melihat hanya ada sedikit manfaat dalam mencari kompromi dengan Washington untuk menghindari konfrontasi lebih lanjut.

Kiasannya untuk memegang “senjata,” khususnya, mungkin merupakan referensi terselubung terhadap tuduhan Amerika bahwa Iran sedang mencari senjata nuklir untuk menahan lawan yang lebih kuat. Pemerintah Iran telah berkali-kali menegaskan bahwa mereka tidak akan pernah memiliki senjata nuklir.

Tuduhan Trump bahwa Iran mengidamkan senjata nuklir adalah pusat dari kebuntuan saat ini. Trump tahun lalu membatalkan perjanjian tersebut, menyalahkan perjanjian itu karena gagal memblokir secara permanen ambisi nuklir Iran atau untuk membatasi aktivitas militer Iran lainnya. Dia menerapkan kembali sanksi terhadap Iran—yang melanggar perjanjian itu—yang menimbulkan efek yang sangat buruk pada ekonomi Iran.

Para pejabat di Teheran selama dua bulan terakhir telah mulai menyebut hukuman itu “peperangan ekonomi.” Para pejabat itu juga mengatakan bahwa jika mereka tidak diberikan beberapa bentuk keringanan sanksi pada 7 Juli—mungkin melalui pemerintah Eropa, yang masih berusaha untuk menyelamatkan kesepakatan nuklir tahun 2015—Iran akan menangguhkan kepatuhan terhadap bagian lain dari kesepakatan nuklir itu.

Baik Washington maupun Teheran, sementara itu, telah terlibat dalam pertukaran penghinaan dan ancaman yang meningkat.

Presiden Iran Hassan Rouhani pada Selasa (25/6) menyebut Gedung Putih “cacat mental” dan Trump memperingatkan di Twitter bahwa setiap serangan Iran “terhadap aspek Amerika apa pun” akan membuat sebagian Iran “dilenyapkan.”

Amerika Serikat menuduh Iran menggunakan ranjau laut untuk merusak enam kapal tanker pada rute pengiriman vital untuk minyak di Teluk Persia, dan walau menyangkal tuduhan itu, Iran telah menyombongkan diri bahwa pihaknya berhasil menembak jatuh pesawat pengintai Amerika. Iran mengklaim pesawat tanpa awak itu melanggar wilayah udara mereka, yang dibantah Amerika Serikat.

Penembakan drone itulah yang mendorong Trump pada Kamis (20/6) lalu untuk memerintahkan serangan rudal terhadap Iran—namun membatalkannya pada menit-menit terakhir. Kemudian, pada Senin (24/6), pemerintah AS menambahkan serangkaian sanksi baru yang menargetkan Khamenei dan bawahan militer utama, termasuk beberapa tokoh yang diyakini bertanggung jawab atas penembakan jatuh drone tersebut.

Pernyataan Khamenei pada Rabu (26/6) adalah pernyataan publik pertamanya sejak pengumuman sanksi-sanksi tersebut, dan dia mencela Amerika Serikat sebagai “rezim paling kejam di dunia.”

Iran “telah dituduh dan dihina” dan “dianiaya oleh sanksi yang menindas,” kata Khamenei, “tetapi Iran tidak melemah dan akan tetap kuat.”

Pada minggu ini, Trump telah mengulurkan kemungkinan negosiasi “tanpa prasyarat” dan mengatakan bahwa ia tidak mencari perang.

Tetapi seperti Khamenei, Trump juga terkadang mengatakan bahwa lawannya hanya mendengarkan ancaman aksi militer.

“Kepemimpinan Iran tidak memahami kata-kata ‘baik’ atau ‘lemah lembut’, mereka tidak pernah,” kata Trump pada Selasa (25/6) di Twitter. “Sayangnya, hal yang mereka pahami adalah ‘Kekuatan’, dan AS sejauh ini merupakan Kekuatan Militer yang paling kuat di dunia.”

Meskipun Trump menarik Amerika Serikat dari kesepakatan nuklir Iran lebih dari setahun yang lalu, namun Iran sampai sekarang terus mematuhi batasan-batasan kesepakatan tersebut.

Pemerintah Eropa yang masih berharap untuk melestarikan kesepakatan itu telah mendorong Iran untuk tetap mematuhi kewajibannya, sementara mereka berusaha mencari cara untuk menghindari sanksi Amerika. Iran mungkin juga berharap untuk menunggu Trump dengan menjaga kesepakatan itu cukup lama untuk kemungkinan pembaruan oleh seorang presiden baru.

Tetapi pemerintah Eropa telah berjuang untuk menemukan cara untuk mencari celah dalam sistem keuangan Amerika Serikat untuk mempertahankan perdagangan dengan Iran. Iran semakin menegaskan bahwa mereka kehilangan kesabaran.

Para pejabat Iran mengatakan bahwa mereka memperkirakan pada Kamis (26/6) Iran akan melanggar batas-batas utama dalam kesepakatan tahun 2015 yang membatasi stok uranium yang diperkaya rendah menjadi 300 kilogram, atau sekitar 660 pound. Kemudian mereka akan mengambil langkah-langkah tambahan seminggu kemudian, pada 7 Juli, yang mungkin bahkan lebih jelas melanggar kesepakatan tersebut.

Langkah-langkah itu bisa menimbulkan ujian sulit bagi Eropa.

Di bawah ketentuan resolusi Dewan Keamanan PBB tahun 2015, 2231, yang mendukung kesepakatan nuklir tersebut, setiap pelanggaran Iran dapat memicu “jebakan” hukuman ekonomi multilateral, yang semakin menghukum ekonomi Iran dan meningkatkan ketegangan.

Pada pertemuan Dewan Keamanan PBB pada Rabu (26/6), beberapa diplomat Eropa terus memuji kesepakatan nuklir tahun 2015, dan Rosemary DiCarlo, Wakil Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk urusan politik, memperingatkan bahwa langkah-langkah Iran untuk mundur dari komitmennya berdasarkan kesepakatan tersebut “mungkin tidak membantu melestarikan kesepakatan itu”.

Joao Vale de Almeida, Duta Besar Uni Eropa untuk PBB, mengatakan kepada Dewan Keamanan bahwa “tidak ada alternatif yang kredibel dan damai” untuk kesepakatan nuklir tahun 2015.

Tetapi Jonathan Cohen, pelaksana tugas Duta Besar Amerika, mengingatkan para delegasi bahwa resolusi 2231 “menyediakan mekanisme bagi Dewan untuk mengatasi ketidakpatuhan yang signifikan oleh Iran terhadap komitmen nuklirnya”.

“Perlawanan Iran terhadap Dewan Keamanan, dan perilakunya yang ceroboh yang mengancam perdamaian dan keamanan secara global, tidak boleh diremehkan atas nama melestarikan kesepakatan yang tidak sepenuhnya menghambat jalan Iran untuk mendapatkan senjata nuklir,” kata Cohen.

Oleh: David D. Kirkpatrick (The New York Times)/MMP

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed