oleh

KH. Zarkawi Toha : Ajaran dalam Pangestu bukan musyrik

cropped-Lambang_Paguyuban_Ngesti_Tunggal11Satu Islam – Pada berbagai tempat dalam Sasangka Jati disebutkan bahwa ajaran Suksma Sejati ini bukan agama, dan bagi warga yang memeluk agama dianjurkan untuk lebih menekuni agamanya, dengan menjalankan kewajiban dalam agamanya sebaik-baiknya. Namun karena penggunaan istilah-istilah tertentu seperti Tripurusa, Tuhan yang satu yang bersifat tiga, dan sebagainya, tidak jarang warga ataupun bukan warga yang merasa kurang jelas, apakah ajaran ini sesuai atau bertentangan dengan agama yang dianutnya. Dengan kata lain, ada yang ragu-ragu, apakah ajaran Sang Suksma Sejati ini musyrik atau tidak. Berikut ini dikutipkan suatu ungkapan berkenaan dengan hal itu.

Dalam dialog antara Bapak H. Chambali Alm (Abu Burhan, warga Pangestu cabang Solo Pasar Kliwon) dengan Bapak K. H. Zarkawi Toha pada sekitar tahun 1972, ditanyakan mengapa Bapak Chambali, sebagai seorang pemuka agama Islam dan sungguh-sungguh memahami Islam, menjadi anggota Pangestu. Apakah dianggap bahwa Islam kurang sempurna, atau apakah Pangestu lebih sempurna dari Islam?

Bapak Chambali menjawab, bahwa Pangestu bukan agama, melainkan kancah pengolahan atau pendidikan jiwa berdasar Ketuhanan Yang Maha Esa. Baginya ajaran kejiwaan menurut ajaran [dalam] Pangestu mudah diterima sehingga sangat memuaskan, juga menjadi dorongan kuatnya iman dan menambah takwa, yang benar-benar dirasakannya.

Bahwa Bapak Chambali menjadi anggota Pangestu sama sekali tidak merintanginya dalam menunaikan ibadah, sebab Pangestu dan agama itu pisah. Pengolahan jiwa yang diajarkan Pangestu baginya sangat bermanfaat dalam menunaikan ibadah. Kebanyakan mengira, bahwa apabila seseorang telah menjadi anggota Pangestu, lalu meninggalkan agamanya. Itu sama sekali tidak benar. Bahwa justru Pangestu menganjurkan agar tekun menunaikan perintah agamanya, dan lebih khusyuk dalam menjalankan ibadah.

Beliau juga mengungkapkan sabda dalam Sasangka Jati yang mengatakan:

“Adapun ajaranku ini ibarat obor bagi mereka yang masih diliputi kegelapan dan yang membutuhkan pepadang-Ku. Maka bagi yang telah merasa mempunyai obor petunjuk agama Islam atau Kristen, tidak perlu memakai obor (ajaran)-Ku ini. Sedang bagi , yang tidak menghendaki atau tidak percaya akan petunjuk-Ku ini, Ku-peringatkan, segeralah mencari obor atau pepadang yang tersimpan dalam kitab suci Alquran atau Injil, yakni petunjuk sejahtera asal dari tuntunan agama Islam atau Kristen”.

Di bahagian lain dari dialog tersebut, Kiai Zarkasi Toha mempertanyakan, bahwa wahyu yang diterima oleh Bapak Soenarto dalam Sasangka Jati itu berisi perintah dan larangan, seperti halnya wahyu yang diterima oleh para Rasul juga berisi perintah dan larangan, yang kemudian mewujudkan agama. (Maksudnya, apakah ajaran Pangestu juga seperti agama)

Bapak Chambali menjelaskan bahwa walaupun Sasangka Jati berisi perintah dan larangan, dalam pelaksanaannya tidak mengandung hukum wajib bagi mereka yang percaya, melainkan merupakan petunjuk jalan benar dan jalan simpangan, dan mengingatkan mereka yang lupa akan kewajiban suci. Pangestu tidak berharap agar semua orang menjadi anggotanya. Tujuan utama Pangestu adalah agar semua manusia berjalan di jalan rahayu, dan memiliki budi pekerti utama serta iman yang benar. Bagi yang memeluk agama, hendaklah melaksanakan perintah agamanya dengan sungguh-sungguh berdasarkan kesucian hati, agar selamat hidupnya di dunia dan di akhirat. Demikian tujuan Pangestu.

Sumber : pangestusolo.blog.com

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed