oleh

Ketika Anak-anak didiskriminasi

Foto : UNESCO
Foto : UNESCO

Oleh : Ekky Imanjaya*

Selama sebulan saya berada di Jakarta, setelah 1,5 tahun studi di luar negeri,  salah satu yang saya rasakan adalah beberapa diskriminasi. Salah satunya adalah diskriminasi terhadap anak-anak, khususnya balita (toddler).

Misalnya, tayangan film anak-anak di bioskop, khususnya yang lokal, biasanya akan marak pada liburan sekolah, liburan lebaran, dan akhir tahun.

Tapi sebelum dan setelah itu sunyi senyap.  Sebelum membahas hal ini, saya akan paparkan bagaimana idealnya anak-anak diperlakukan berkaitan dengan dunia bermain dan media.

Di Inggris, tepatnya di  Norwich, sebuah kota kecil tak jauh dari London, kami biasa membawa anak ke taman untuk bermain. Di sana juga ada perpustakaan buku dan bahkan perpustakaan mainan, tempat kami bisa meminjam mainan dan buku yang sesuai untuk usia anak-anak , secara gratis alias tidak membayar sama sekali.

Bahkan, jika buku itu rusak, karena dirobek sang anak, tidak ada kewajiban bagi kami untuk menggantinya.

Buku-buku karya Julie Donaldson (misalnya Chocholate Mousse for Greedy Goose atau Animal Music), Dr. Seus, hingga Horrible Histories dan Doctor Who tersedia di sana. Ada acara-acara tertentu, untuk bayi, balita, dan anak-anak yang lebih besar.

Tempat lainnya yang menjadi “surga dunia” bagi mereka (dan ibunya) adalah Children Center, dimana mereka bisa mendapatkan berbagai program dan kursus, mulai dari yang berkaitan dengan musik hingga belajar memasak. Semuanya gratis.

Walau belum pernah kami coba, tapi di bioskop-bioskop juga disediakan program khusus anak-anak. Di Cinema City, misalnya, ada program Todder Time dan Kid’s Club.

Untuk Toddler Time, tentu ini pengalaman perdana bagi anak balita, dan karenanya disajikan acara-acara singkat dan padat sekitar 30 menit, misalnya dua episode Peppa Pig, atau Rasta Mouse.

Bahkan ada program Big Scream, tempat para orang tua boleh membawa anaknya yang berusia satu tahun ke bawah. Di sini, tidak masalah jika bayinya menangis keras, dan uniknya popok dan susu juga disediakan di sana.

Untuk siaran televisi, acara-acara di televisi umum mendapatkan jam tayang yang berbeda, sesuai usia penonton. Acara dewasa umumnya tayang di atas jam delapan malam. Ada juga beberapa kanal televisi khusus anak-anak seperti CBeebies, Nick Jr,  dan CBBC.

Di Negara maju seperti di Eropa, anak-anak diperhatikan. Saat saya kuliah  di Amsterdam, saya menyaksikan film anak-anak diproduksi secara rutin, misalnya Piet Piraat & het Zwaard van Zilvertand (karya Bart van Leemputten) dan De Brief voor de Koning (Pieter Verhoeff), serta Waar is het Paard van Sinterklaas? (Mischa Kamp) dan Dunya & Desi ( Eva van de Wijdeven & Maryam Haossouni.

Untuk film-film anak non-Belanda (yang biasanya diputar di siang hari tiap akhir pekan) disajikan dalam bahasa aslinya (Original Vertie) atau disulihsuarakan ke Bahasa Belanda (NL). Ini berlaku untuk semua film anak, dari Narnia, Horton, Wall-E hingga Nim’s Island.

Berbagai festival film juga ada seksi khusus anak-anak. Misalnya di Festival Film Berlinale ada program Generation untuk usia SD dan Generation K-plus untuk 13 tahun ke atas.

Anak-anak juga terlibat tak hanya sebagai penonton tapi juga sebagai juri, misalnya memilih film pendek dan panjang terbaik (The Crystal Bear for the Best Feature Film). Di Festival Film Rotterdam, ada juga para juri seusia SMA yang memberikan Movie Squad Awards.

Sedangkan untuk dokumenter, tak kalah jua, International Documentary Film Festival Amsterdam (IDFA) punya bagian   Kids & Docs Contest, termasuk kompetisi  film pendek untuk sutradara berusia 8-13 tahun.

Untuk festival film bergenre popular, ada Amsterdam Fantastic Film Festival punya sub-festival berjudul Cinekid Festival, yang fokus pada anak-anak dan media—termasuk new media dan video games! Tahun 2007, misalnya, salah satu pemenangnya adalah FIFA 2007 dari XBOX360.

Di Indonesia, tempat bermain anak-anak tidak terlalu banyak. Tentu ada taman di banyak lingkungan  RT atau RW, tapi apakah itu cukup? Alih-alih taman,  justru mal yang dibangun. Di dalam mal, tentu ada pusat permainan anak, tetapi harus membayar.

Urusan film, walau masih saja belum banyak secara kuantitas, tentu saja film-film anak-anak makin banyak diproduksi. Dalam setahun belakangan ini saja, ada Princess, Bajak Laut & Alien,  1000 Balon,  Petualangan Lollypop, Leher Angsa,  Tiga Sekawan,  dan  Pasukan Kapiten.

Ada pula Goelali Film Festival dan Kidsfest, walau pun masih berpusat di kota besar.  Festival Film Purbalingga juga punya Program Anak, di mana ratusan anak SD di 18 desa menonton film-film pendek di layar tancap (mereka menyebutnya Layar Tanjleb).

Untuk tayangan televisi, ada beberapa channel televise yang mengkhususkan pada acara anak-anak (seperti BabyTV yang ada Charlie and the Numbers atau Mr. Snail, atau Disney Junior), tetapi harus langganan alias berbayar.

Kanal televisi yang gratis, tentu ada, misalnya di MNCTV (yang acap memutar rerun Ipin dan Upin) , Anteve (Marsha and the Bear), B Channel (Shaun the Sheep),  dan Global TV (yang ada Nickelodeon, menyiarkan Spongebob), atau Spacetoon.Tapi jumlah jam tayangnya terbatas, dan tidak semua rumah (khususnya di desa dan kota kecil) bisa menangkap sinyalnya.

Parahnya, orang tua kadang sibuk dan tak bisa mengawasi tontonan sang anak. Kasus lain, ayah dan bunda  tak punya kesadaran bahwa anak harus menonton tayangan yang cocok untuk seusianya.

Akibatnya, mereka menonton apa yang tersaji, dan meniru dialog dan adegannya, yang tak selamanya cocok untuk anak seumurnya. Misalnya, menonton sinetron Ganteng-Ganteng Serigala, yang termasuk dalam daftar “10 Sinetron dan FTV bermasalah yang tidak layak tayang” yang dikeluarkan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI).

Dalam situs resmi KPI dianggap tak layak tayang karena “menayangkan secara eksplisit adegan murid berseragam sekolah seolah-olah tengah memakan kelinci hidup dengan mulut yang berdarah-darah.  Adegan lain, murid berseragam sekolah secara eksplisit diperlihatkan menonjok salah satu temannya.

Karena adegan ini, GGS melanggar beberapa elemen: perlindungan kepada anak-anak dan remaja, program siaran tentang lingkungan pendidikan, pembatasan adegan kekerasan, serta penggolongan program siaran.

Lantas, bagaimana? Kita tentu tak bisa mengontrol angin, tetapi Insya Allah kita bisa mengendalikan sayap. Kita sebagai orang tua, kakak, om/tante, guru, dll tentu kita bisa menjadi media watch di rumah sendiri.

Mari kita coba menerapkan klasifikasi usia (yang sebenarnya sudah ada petunjuknya di layar kaca, misalnya) mengawasi dan memberikan kesadaran kepada anak-anak untuk menonton film yang pantas untuk mereka. Dan, tentu saja, nonton bareng, di rumah atau di gedung bioskop.

Saya sendiri, bermodalkan ipad, memilihkan program-program anak untuk putri saya, dan membuat semacam kurikulum buat dia, hitung-hitung praktik homeschooling. Walau tidak ketat.

Misalnya, ada program menyanyi (misalnya lagu-lagu dari Barefoot Books atau Simple Songs),  cerita (Barney and Friends,  Little Einstein, Peppa Pig, Ben & Holly’s Little Kingdom), dan ajaran keislaman (Syamil dan Nadia,  ZAky and Friends, belajar Bahasa Arab).

Daftar  “10 sinetron dan FTV bermasalah tidak layak tayang” dari KPI

  1. Sinetron Ayah Mengapa Aku Berbeda – RCTI
  2. Sinetron Pashmina Aisha – RCTI
  3. Sinetron ABG Jadi Manten – SCTV
  4. Sinetron Ganteng-Ganteng Serigala – SCTV
  5. Sinetron Diam-Diam Suka – SCTV
  6. Sinema Indonesia – ANTV
  7. Sinema Akhir Pekan – ANTV
  8. Sinema Pagi – Indosiar
  9. Sinema Utama Keluarga – MNC TV
  10. Bioskop Indonesia Premier– Trans TV

)* Pengamat Film

Editor : Wahyu

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

News Feed